18 Laku Ikatan Erat

Pokok 6

Untuk pokok keenam dan ketujuh, daftarnya panjang. Pokok keenam terdiri dari delapan belas laku yang akan mengikat erat kita dengan latihan-sikap ini. Pokok ketujuh mengandung dua puluh dua pokok untuk dilatih untuk membersihkan dan melatih sikap-sikap kita. Semua ini merupakan panduan menakjubkan untuk cara mengikis sikap mementingkan diri sendiri dan menjadi lebih peduli terhadap orang lain. Akan lebih baik jika saya tidak sekadar menyajikan semua hal ini sebagai sebuah daftar panjang saja, tapi juga memaparkan beberapa rincian mengenai masing-masing laku yang ada. Saya rasa ini akan cukup berguna, karena ungkapan-ungkapan bahasa Tibet untuk semua laku tersebut sungguh kabur dan sukar, sehingga kalau kita tidak memperoleh penjelasan yang bagus, sulit sekali untuk paham tentang apa yang sedang dibicarakan.

Dalam bahasa Sanskerta dan Tibet, kata samaya (dam-tshig) berarti laku-laku yang akan menciptakan ikatan erat atau hubungan dekat. Inilah berbagai jenis laku atau hal yang akan menjaga kita tetap terhubung dekat dengan laku membersihkan dan melatih sikap kita. Beberapa dari mereka merupakan tindakan-tindakan yang perlu kita hindari, sementara yang lain perlu kita ikuti.

(1-3) Senantiasalah berlatih dalam tiga pokok umum:

Yang pertama dari tiga pokok umum ini adalah, (1) Tidak ingkar janji sendiri. Pokok pertama ini punya banyak tingkat makna dan tafsir. Satu cara untuk menjelaskannya adalah, ketika kita sedang menjalankan laku membersihkan sikap ini, kita harus hati-hati untuk tidak merasa bahwa kita boleh mengabaikan hal-hal seperti sepuluh tindakan membangun. Orang mungkin merasa, "Aku sedang menjalankan laku sebagai bodhisattwa dan karena itu aku bisa berbuat apa saja," tapi itu sungguh tidak patut sebenarnya.

Kalau kita mulai memperhatikannya, ini menjadi pokok yang sukar namun menarik. Mari lihat contoh yang bisa memicu perbantahan. Salah satu sumpah pratimoksha dari orang awam adalah tidak minum alkohol, jadi orang mungkin berkata, "Aku seorang bodhisattwa. Aku mencoba menjalankan laku menolong orang lain. Sudah jadi adat umum di negaraku untuk minum-minum dan kalau aku tidak minum dengan kawan-kawanku, maka mereka tidak akan mau terbuka dan menerimaku. Jadi aku boleh mengabaikan ajaran tentang perilaku merusak ini dan minum alkohol karena aku seorang bodhisattwa yang mencoba menolong orang lain." Tentunya ada saja unsur-sebab yang membuat cara berpikir seperti itu benar, tapi kita perlu hati-hati sekali untuk tidak menggunakan ini sebagai dalih untuk minum alkohol karena kita memang doyan. Dan kita perlu hati-hati sekali sehingga sikap ini tidak menyamarkan perasaan bahwa ajaran Buddha tentang alkohol itu konyol dan kita tidak setuju dengannya.

Secara umum, ada hal-hal yang memang sewajarnya bersifat merusak yang perlu dihindari, dan hal-hal yang Buddha katakan lebih baik dihindari bagi mereka yang sedang mencoba mencapai tujuan-tujuannya. Inilah dua kelompok hal yang Buddha sarankan untuk kita hindari. Membunuh itu merupakan suatu hal yang secara alami merusak dan setiap orang harus menghindarinya. Minum alkohol, masih bisa diperbantahkan lagi, bisa jatuh ke dalam kelompok yang satu atau yang lain. Tapi, terlepas dari cara kita mengelompokkannya, kalau kita ingin mengatasi pengaruh perasaan-perasaan gelisah seperti amarah, keserakahan, kemelekatan, keluguan, pikiran yang rancu dan samar, dan seterusnya, maka kita perlu menghindari alkohol karena alkohol membuat kita jadi lebih rentan berada di bawah kendali perasaan-perasaan gelisah ini. Jadi, kita yang pilih! Itu tergantung pada apa yang ingin kita lakukan dengan hidup kita. Kalau tujuan utama kita adalah mengatasi perasaan-perasaan gelisah ini, maka kita perlu menghindari alkohol. Kalau kita tidak ambil pusing dengan itu, maka kita melakukan apapun yang kita mau. Juga, kalau kita ingin mampu memberi manfaat bagi orang lain dan memiliki cita yang jernih, lebih baik juga untuk tidak berada di bawah pengaruh alkohol.

Jadi, cukup penting bagi kita untuk jujur dengan diri kita sendiri dan menelaah dorongan kita mengenai minum-minum sebagai cara bergaul. Apakah aku sungguh paham mengapa Buddha mengatakan apa yang ia katakan tentang alkohol? Dan apakah minum-minum bersama kawan-kawanku memang cara terbaik untuk menolong mereka? Apakah itu memang membuat mereka jadi lebih santai? Apakah itu memang membuatku lebih santai atau apakah ada cara lain yang lebih ampuh dan tidak menyebabkan begitu banyak dampak-sampingan? Itu, saya rasa, cukup penting. Jika dorongan kita untuk minum-minum adalah agar tercipta suasana lebih santai dengan kawan-kawan kita, ada cara lain untuk melakukannya, yang tidak menjerumuskan kita pada pengaruh buruk alkohol. Juga, jika kita telah mengambil berbagai sumpah, berjanji untuk tidak minum alkohol, misalnya, jangan kita melanggarnya. Saya tahu ini pokok yang memicu perbantahan, tapi saya rasa penting sekali bagi kita untuk mempertimbangkannya dengan sungguh-sungguh.

Jika tekad kita adalah melatih diri untuk mampu menolong orang lain, maka penting untuk berbuat baik pada tingkat lahir maupun batin. Banyak orang merasa mereka bisa membuat sesaji di mangkuk air dan membayangkan diri mereka mempersembahkan segala macam hal bagi yang lain, tapi kemudian mereka tidak berbuat suatu tindakan nyata apapun, seperti benar-benar memberi sesuatu atau benar-benar bertindak lewat pertolongan mereka untuk orang lain. Beberapa orang suka sekadar meditasi saja dan melakukan segalanya secara batin, dan merasa mereka tidak harus menjalankan laku ragawi seperti sujud-sembah dan persembahan mandala. Cara menjalankan laku yang tidak seimbang itu dibahas juga oleh pokok ini. Dalam hal sujud-sembah dan persembahan mandala, cobalah untuk melihat betapa keduanya berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Tidak cukup jika hanya membuat persembahan mandala; kita juga perlu mempersembahkan apapun yang kita punya untuk orang lain – termasuk minat, waktu, dan tenaga kita. Demikian juga dengan sujud-sembah: laku yang kita jalankan itu keliru jika kita menunjukkan rasa hormat pada patung Buddha tapi tidak pada orangtua kita atau orang lain. Segala sesuatu harus diterapkan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Yang kedua dari tiga pokok umum ini adalah (2) Tidak berperilaku keterlaluan. "Keterlaluan " berarti melakukan sesuatu yang konyol betul. Contohnya, jika seorang lama tinggi sedang mengajar dan seorang gadis masuk dengan rok-mini dan tungkai terpampang – ini keterlaluan, melampaui batas kepatutan. Jadi jangan merasa bahwa jika kita sedang berupaya menjalankan laku Mahayana dalam melatih dan membersihkan sikap kita maka kita boleh melakukan hal-hal yang keterlaluan seperti menebangi pohon dan mencemari lingkungan. Atau jangan merasa bahwa kita tahan celaka karena kita mampu mengubah keadaan-keadaan celaka menjadi positif. Jenis perilaku keterlaluan lainnya adalah munafik dalam menjalani laku kita. Dengan kata lain, kita bersikap manis di luar ketika kita bersama orang lain, tapi ketika kita di rumah dan ada lalat atau nyamuk di kamar, kita memburunya seolah sedang dalam petualangan berburu di Afrika sampai kita bisa membunuh serangga itu. Itu namanya keterlaluan.

Pokok umum yang ketiga adalah (3) Tidak jatuh pada keberpihakan. "Keberpihakan" berarti menjalankan laku dan berlatih hanya dengan kawan dan kerabat kita saja dan mengabaikan orang-orang yang berhubungan kurang baik dengan kita. Kalau kita hendak mengubah sikap kita, kita perlu berupaya dalam keadaan-keadaan sukar dan dengan orang-orang yang sulit pula. Satu contoh keberpihakan yang kerap digunakan orang-orang Tibet adalah kalau seseorang itu berada dalam kedudukan tinggi, seperti atasan kita di tempat kerja, menghardik kita, kita dapat menerimanya dengan elok, tapi kalau bawahan yang memarahi kita, kita jadi naik darah. Kita biasanya bersabar dengan atasan kita, karena kalau tidak kita bisa kehilangan pekerjaan, tapi tidak dengan seseorang yang berada di kedudukan rendah.

Orang-orang Tibet berkata bahwa bagaimanapun juga lebih mudah untuk menjalankan laku bersama kawan atau kerabat dibanding orang asing, jadi mereka selalu bilang: jalankan laku dengan sikap setara bersama orang asing, kawan, dan kerabat sendiri. Bagi banyak orang di Barat, yang terjadi justru kebalikannya. Lebih sukar kalau bersama kerabat sendiri; mereka jauh lebih menjengkelkan dibanding orang asing atau kawan. Dalam hal tidak berpihak, saya rasa kita perlu menerapkannya dalam dua keadaan di atas, bukan hanya keadaan seperti yang biasa dijelaskan tingkat kesukarannya oleh orang-orang Tibet.

(4) Mengubah niat-niatku, tapi tetap berlaku wajar.

Ini berarti tetap wajar dalam perilaku kita. Jadi misalnya, walau kita telah mencoba mengembangkan welas asih untuk setiap orang, kalau kita heboh dengan sikap tenggang-rasa kita, dengan menangis sejadi-jadinya di depan orang lain, maka sikap itu jadi tampak palsu. Tentunya konyol sekali kalau orang yang sedang berduka justru harus menenangkan kita, dan bukannya kita yang menenangkan mereka! Jadi, pokok ini mengajarkan pada kita untuk tidak asyik dengan perasaan kuat kita sendiri, atau memamerkannya pada orang lain pada saat yang tidak pantas. Paling baik adalah menyimpannya sendiri ketika perasaan kita begitu tersentuh saat ada orang lain yang mungkin akan terpengaruh secara negatif saat menyaksikan perasaan kita itu, seperti contohnya menangis tak terkendali di depan anak-anak kita dan menunjukkan betapa takutnya kita.

Saya rasa ini perlu dijernihkan lebih jauh di lingkung dunia Barat. Ketika kita bersama orang lain dan mereka menceritakan satu kisah sedih, kita perlu memberi semacam tanda bahwa kita merasakan sesuatu dan tidak sekadar duduk saja dengan raut muka hampa. Tapi dalam menunjukkan tanda tenggang-rasa kita, seperti misalnya merangkul orang tersebut, penting sekali untuk bersikap peka terhadap apa yang dianggap nyaman olehnya. Beberapa orang mungkin ingin bahu tempat menyandarkan tangis, sementara ada juga yang malah menolak dan tidak ingin orang merasa kasihan padanya. Jadi hal yang penting adalah pertimbangan kita terhadap orang lain. Ini mengapa ajaran-ajaran tonglen, memberi dan menerima, selalu menganjurkan bahwa kita melakukannya sendiri, yang berarti tanpa diketahui orang lain atau siapapun juga.

Ini sebetulnya sepenggal nasihat yang sangat penting. Banyak orang melibatkan diri dengan agama Buddha Tibet dan berjalan berkeliling dengan tasbih di lengan atau leher mereka seolah itu perhiasan saja. Kalau mereka bersama seseorang yang sedang mengalami kesulitan, mereka duduk di sebuah pojok dan berkata "Om mani padme hum" dengan tasbih mereka dan orang lain berpikir mereka sudah gila. Mereka bahkan tersinggung. Jadi, cukup penting bagi kita untuk tetap berlaku wajar. Kita dapat melafalkan "Om mani peme hum" dalam hati; kita tidak perlu mengatakannya dengan lantang atau dengan tasbih di tangan.

Ada pula urusan sembuh-menyembuhkan, yang selalu merupakan pokok bahasan yang menarik. Ketika orang menjalankan laku penyembuhan dan mereka berlaku heboh dengan menaruh tangan di atas badan si sakit atau semacamnya, orang Tibet bilang bahwa hal itu justru mengundang datangnya gangguan. Karena jika itu tidak berhasil, dan seringnya begitu, maka kita membuat diri kita terlihat bodoh. Dalam agama Buddha, laku penyembuhan utama adalah tonglen dan kita tidak bilang-bilang pada orang lain apa yang sedang kita perbuat. Kalau berhasil, kita tidak bilang, "Aku lakukan buatmu, silakan bayar atau berterima kasihlah padaku atau tepuk bahuku atau sayangi aku," atau apalah itu. Kalau tidak berhasil, kita tidak membuat diri kita tampak bodoh.

Jadi inilah nasihat baik yang menjaga kita tetap dekat dengan laku kita. Tetaplah berlaku wajar sehingga tak seorangpun tahu apa yang sedang kita buat. Dalam memanjatkan doa sebelum makan atau semacamnya pun begitu: selalu lebih baik kalau kita melakukannya dengan hening di dalam hati. Kalau kita sedang bersama umat Buddha lainnya, boleh-boleh saja, tapi jika kita sedang bersama keluarga kita dan kita mulai dengan "Om Ah Hum" dan melakukan hal-hal semacam ini dengan lantang di depan mereka, lagi-lagi, itu hanya memicu perasaan tak enak.

(5) Tidak bicara sisi cacat atau bobrok (orang lain).

Contoh yang dipakai oleh orang Tibet adalah, jangan panggil orang buta itu buta di depannya. Atau, kalau ada orang yang tidak pintar, jangan sebut mereka bodoh. Orang itu tahu kalau ia tidak pintar, kita tidak harus menunjuk-nunjukkannya. Ini cukup menarik karena ada kaitannya dengan pokok bahasan tentang sindiran dan lawakan. Kita bisa saja menyindir orang lain dan berpikir itu lucu, padahal kenyataannya hal itu sungguh melukai perasaan mereka. Ada juga orang yang bahkan merasa bahwa saling sindir itu adalah sebuah tanda persahabatan. Lagi-lagi, saya rasa perlu diselidiki lebih dalam lagi apa sesungguhnya niat di balik hal itu.

Di Amerika Serikat, orang-orangnya sangat suka menyindir; mereka mengolok-olok satu sama lain. Ada lelucon tentang betapa besarnya hidungmu, betapa jeleknya istrimu, dan seterusnya. Sama juga dengan lawakan srimulat: ada orang jatuh dari tangga dan semua orang tertawa karenanya. Kue loyang dilemparkan ke muka Anda dan semua orang tertawa. Dan juga kartun-kartun penuh kekerasan: batu karang besar jatuh menimpa si kucing dan berikutnya si kucing berbuat apa lagi dan mukanya terhantam martil dan semacamnya. Dan ini kartun untuk anak-anak! Apa pemikiran di balik hal ini? Itu sungguh merupakan pemikiran yang aneh sekali.

Nah, bicara tentang segi cacat atau bobrok orang lain itu dapat berupa olok-olokan terhadap orang lain, sindiran, dan hal-hal semacam ini. Meski kita mungkin berpikir bahwa itu lucu dan tak bahaya, kenyataannya itu dapat melukai perasaan orang lain.

(6) Tidak berpikir tentang (kesalahan) orang lain.

Pada dasarnya, hal ini berarti tidak mencari-cari kesalahan orang lain dan terus-menerus mengecam mereka. Dalam kerangka hubungan kita dengan guru rohani kita misalnya, kita perlu memusatkan perhatian pada sifat-sifat baik sang guru, karena itulah yang dapat mengilhami kita. Kita tidak menyangkal sifat-sifat negatifnya, tapi kita tidak pula terpaku padanya karena itu hanya berujung pada keluhan dan lesu hati. Dalam melihat kekurangan-kekurangan guru kita, arahan yang ada bagi kita adalah memastikan bahwa kekurangan itu bukan pembayangan kita semata. Misalnya, jika orangtua kita tidak memberi cukup perhatian pada kita maka kita pikir guru kita pun begitu, sekalipun ini karena ia sedang sibuk atau banyak berpergian. Sekalipun kita sudah jelas dengan kesalahan-kesalahan terbayang ini dan kita tetap menjumpai adanya kesalahan-kesalahan nyata, arahan yang ada buat kita adalah untuk tetap memusatkan perhatian pada sifat-sifat positifnya dan bukan kesalahannya.

Secara lebih umum, pendekatan ini dapat diterapkan pada hubungan kita dengan setiap orang. Kalau kita mencoba menolong orang lain, memusatkan perhatian pada kekurangan-kekurangan mereka untuk membantu mengatasinya itu boleh saja, tapi umumnya kita jengkel dengan kekurangan-kekurangan orang lain. Kalau kita memusatkan perhatian pada sifat-sifat baik orang tersebut, maka sekalipun mereka tidak bersama kita selama yang kita inginkan, kita masih dapat menjaga sikap yang sangat positif terhadap mereka. Jika laku utama kita adalah mencoba mengembangkan sikap mementingkan orang lain ini dan menolong mereka, selalu mengeluhkan kekurangan mereka merupakan sikap yang tidak bermanfaat sama sekali. Sifat-sifat baik orang akan mendorong kita untuk berpikir lebih positif mengenai mereka.

Sikap mengecam pun menarik sekali untuk dilihat. Acapkali, kita paling sering mengecam orang yang terdekat dengan kita. Ada orang yang, misalnya, berharap anak-anak atau orangtua mereka sempurna, dan kalau keadaan tidak berjalan sesuai kesempurnaan yang mereka bayangkan, maka mereka jadi amat suka mengecam. Karena tidak ada seorangpun yang sempurna, maka jauh lebih bijak jika kita memusatkan perhatian pada sifat-sifat baik mereka, alih-alih kekurangan-kekurangan mereka. Hal ini muncul dari pandangan yang makul (realistis) terhadap orang tersebut.

(7) Membersihkan diriku terlebih dahulu dari perasaan gelisah yang manapun adalah perbuatan terbesarku

Apapun masalah perasaan tersulit yang kita alami, baik itu amarah atau kemelekatan atau rasa iri, kita mencoba mengatasi atau setidaknya melemahkan masalah itu dulu. Kita ingin mampu menolong orang lain dan berbagai perasaan gelisah tersebut merintangi kita mencapai kemampuan itu. Penting sekali untuk jujur dengan diri sendiri dan sungguh-sungguh menelaah diri kita untuk mencaritahu apa masalah perasaan terbesar yang kita miliki. Alih-alih merasa takut menghadapinya, seperti dikatakan dalam arahan-arahan untuk tonglen, kita mesti mengambil masalah ini pertama sekali dari diri kita sendiri. Untuk itu, kita perlu mencoba mempelajari berbagai cara yang dapat kita terapkan, tidak hanya satu cara saja. Ada kalanya kita mampu menjalankan suatu cara tertentu dengan berhasil, dan ada kalanya tidak, jadi penting sekali bagi kita untuk memiliki beraneka cara yang dapat kita pakai.

Menarik bahwa, dalam ajaran ini, kita berulang kali diminta untuk menjadi saksi mata atas diri sendiri, bahwa kitalah yang paling tahu tentang diri kita sendiri. Itu berarti bahwa kita mesti bersikap amat introspektif. Tentu, banyak orang tidak begitu. Mereka butuh orang lain untuk memberitahu mereka bahwa mereka bertindak dengan sikap mementingkan diri sendiri, karena mereka tidak menyadarinya. Tapi memperoleh umpan-balik jujur semacam itu dari orang lain cukuplah sulit. Butuh ada hubungan yang sangat jujur dan saling percaya terlebih dahulu. Jika kita meminta seseorang untuk membantu kita agar jadi sedikit lebih peka tentang apa yang terjadi dengan diri kita sendiri, kita harus melakukannya dengan niat untuk tidak marah dan malah bersikap bela-diri terhadap mereka, sekalipun mereka mengatakan hal yang lebih baik tidak kita dengar. Tapi sekalipun kita memang meminta seorang teman yang sungguh dapat dipercaya untuk membantu menilik diri kita sendiri, tetap saja saksi mata utamanya bukanlah teman kita itu. Begitu mereka memberi kita petunjuk, kita mesti periksa: yang mereka katakan itu benar atau tidak?

(8) Menghindarkan diri dari harapan-harapan akan buah pamrih.

Ini mengacu pada keinginan akan balasan untuk perbuatan menolong orang lain. Ini tentu saja tidak mudah karena kerapkali kita menolong orang lain dengan alasan-alasan gelisah yang halus sekali di baliknya. Mungkin tidak sekasar seperti "Aku menolongmu karena aku mau kau nanti menolongku juga," tapi seringnya kita ingin dihargai, kita ingin disukai, kita menginginkan ucapan terima kasih. Kadang kita menolong hanya karena kita ingin merasa dibutuhkan dan berguna, khususnya saat kita menjadi orangtua dari seorang anak yang sudah dewasa. Kadang orangtua merasa tidak dibutuhkan atau diinginkan lagi. Jadi tentu dorongannya sudah tercampur dengan semacam sikap mementingkan diri sendiri. Ketika dorongan kita seperti itu dan orang tersebut tidak menghargai, atau berkata "Aku tidak membutuhkan pertolonganmu," kita jadi kesal sekali.

Saya mendapati bahwa beberapa citra tertentu bisa sangat berguna di sini. Ada banyak aliran filsafat Buddha India dan salah satu di antaranya bernama aliran Prasangika. Seorang Prasangika adalah orang yang berbantahan dengan prasanga, sebuah istilah khusus dalam mantik Buddha yang berarti kesimpulan musykil. Seringnya, cukup bermanfaat jika kita meletakkan sikap dan perilaku kita sampai ke titik ujungnya yang musykil dan melihat seperti apa perilaku kita itu. Citra-citra binatang sering berguna di sini.

Misalnya, menarik untuk melihat bagaimana kadang kita bertindak layaknya seekor anjing. Kita pulang dan anjing kita menunggu ditepuk-sayang di kepalanya. Seperti itukah yang kita harapkan setelah kita melakukan suatu hal untuk seseorang? Apakah kita cuma berdiri saja di situ seperti anjing yang menunggu tuannya memberi tepuk-sayang di kepala dan berkata, "Terima kasih, perbuatanmu padaku sungguh menyenangkan"? Sekalipun mereka menepuk-sayang kepala kita, apa yang akan kita perbuat, menggoyang ekor kita? Apa rupanya yang kita dapat dari tepukan-sayang di kepala itu? Kalau kita sadari diri kita menunggu dihargai dan menerima ucapan terima kasih, maka membayangkan citra anjing yang menunggu diberi tepuk-sayang di kepala ini bisa membantu kita melihat bahwa perbuatan itu konyol. Kalau kita betul-betul akan berbuat banyak hal bagi orang lain, penting sekali untuk melakukannya semata-mata demi manfaat bagi orang tersebut.

Ini memang jadi rumit dan licin. Coba pikir, misalnya, anak-anak: orangtuanya melakukan segala hal untuk si anak – pakaian, kamar, belanja makanan, dan seterusnya – dan apa yang terjadi? Sering, si anak tidak menghargai itu sama sekali dan cuma ambil untung saja, khususnya selama masa-masa remaja. Sebagai orangtua apa yang kita inginkan? Apa kita mau anak kita selalu berterima kasih pada kita setiap kali kita cucikan pakaiannya? Itu mengada-ada. Kerap, kalau si anak mau bertanggung jawab dan bertingkah dengan sikap dewasa dan bertimbang rasa, maka kita merasa si anak tahu menghargai orang. Dalam melakukan berbagai hal untuk orang lain, walaupun kita tidak melakukannya untuk ucapan terima kasih, penting juga untuk tidak bertindak sedemikian rupa sehingga orang tersebut jadi tergantung pada kita atau terus-menerus mengambil keuntungan dari kita. Ini kembali lagi ke telaah kita mengenai apakah kita menolong orang tersebut karena kita ingin merasa dibutuhkan dan berguna atau karena kita betul-betul ingin memberi manfaat bagi orang itu. Kalau perbuatan kita membuat mereka tergantung pada kita, maka itu tidak bermanfaat jadinya.

(9) Meninggalkan makanan beracun.

Ini mengacu pada sikap mementingkan diri yang meracuni laku kita. Sekalipun kita berpikiran membangun atau terlibat dalam sebuah tindakan membangun, kalau kita merasa bahwa hal itu tercampuri dengan sikap mementingkan diri, kita disarankan untuk meninggalkannya, membetulkan dorongan kita, dan kemudian memulainya lagi. Kalau kita mau melakukan sesuatu untuk seseorang sehingga kita akan merasa dibutuhkan dan dihargai, hal itu meracuni tindakan positif dengan sikap mementingkan diri karena kita mencari pembenaran bagi diri kita sendiri. Paling baik, kita mundur sejenak dan membetulkan dorongan kita. Kembalilah lagi ke sikap jujur dengan diri sendiri.

Jadi, bagaimana kita bisa tahu bahwa kita mendasarkan tindakan-tindakan positif kita pada sikap mementingkan diri? Saya rasa salah satu tandanya adalah arti dari perasaan atau sikap gelisah. Sebuah perasaan atau sikap gelisah itu merupakan suatu hal yang, ketika muncul, menyebabkan kita merasa tidak nyaman (maka, "gelisah") dan kehilangan kedamaian dalam cita kita. Hal itu juga bisa menyebabkan orang lain yang bersama kita merasa tidak nyaman juga. Kita juga bisa jadi hilang kendali karenanya.

Rasa tak nyaman atau kesal yang terjadi di dalam diri ini bisa jadi amat sangat halus. "Kesal" mungkin kata yang terlalu keras. Seperti dikatakan Shantidewa dalam naskahnya, kalau tangan menolong kaki, seperti saat ada serpihan kayu yang menusuk kaki dan tangan kemudian mencabutnya, kita tidak berharap kaki akan berterima kasih pada tangan. Tangan menolong kaki karena keduanya saling terhubung. Demikian pula, ketika kita menolong orang lain, contohnya mencucikan piring-piring kotor mereka, tak perlulah kita membesar-besarkannya atau mengeluh karenanya. Ada piring kotor, dan piring itu perlu dicuci. Itu saja. Dengan begitu, batin kita jadi tenang. Tapi kalau kita mencucinya dengan rasa dongkol, sambil berpikir, "Berantakan sekali kau ini, kenapa harus aku terus yang mencuci piring-piringmu? Oh, tapi aku sedang berlatih menjadi bodhisattwa, jadi baiknya aku lakukan saja," inilah dia sikap beracun itu.

Beberapa naskah Lojong lainnya berkata bahwa kita jangan berharap atau mendamba bahwa seseorang yang telah kita bantu akan membalas dengan pertolongan pula. Ini namanya main-main. Ada rasa tak enak yang halus dalam hati kita, yang dapat kita rasakan ketika kita betul-betul mulai peka terhadap diri kita sendiri, yang menandakan bahwa kita sedang bertindak di bawah pengaruh sikap mementingkan diri atau perasaan gelisah lainnya. Ini mungkin memicu kita untuk bilang pada orang itu, "Aku tadi mencuci piring kotormu." Apa perlunya kita mengatakan hal itu padanya? Dan kemudian kita menyadari ada sedikit rasa gugup persis sebelum kita mengatakannya. Bisa jadi halus sekali memang, tapi lewat latihan kita mampu menyadari sikap mementingkan diri bawah-sadar yang terdapat di situ. Ini yang perlu kita latih supaya kita mampu membacanya. Bukan laku yang gampang memang, tapi penting sekali untuk mencobanya.

Ketika kita bicara tentang perilaku membangun, ada dua jenisnya: satu yang tercampur dengan kebingungan, yaitu sikap mementingkan diri sendiri, dan satu lagi yang tidak tercampur dengan kebingungan. Perilaku membangun yang tercampur dengan sikap mementingkan diri sendiri – sikap "Aku melakukan ini agar kau menyukai dan menghargaiku" – mungkin akan menjadi sebab bagi kelahiran kembali yang lebih baik atau beruntung, tapi tetap saja hal itu memperpanjang samsara kita. Di lain pihak, tindakan membangun yang tidak tercampur dengan kebingungan itu membina daya positif untuk mencapai kebebasan dan pencerahan. Kita semua punya jaringan daya positif dari perilaku membangun kita dan kita ingin memperkuat jaringan-jaringan ini. Tapi, seperti apa daya positif itu matang? Ia matang sebagai kebahagiaan. Kalau daya positif itu tercampur dengan kebingungan, maka ia akan berujung pada duka yanga muncul dari perubahan keadaan – kebahagiaan yang tidak langgeng atau yang berujung pada rasa tertekan. Yang menjadi tujuan puncak kita adalah pemerkuatan jaringan daya positif kita tanpa kebingungan.

(10) Tidak bersandar (pada pikiran-pikiran gelisahku) sebagai andalan sempurnaku.

Maksudnya adalah, jangan abdikan jalan-raya paling lebar di cita kita pada pikiran-pikiran gelisah; akan tetapi, abdikanlah itu pada pikiran-pikiran positif mementingkan orang lain. Begitu amarah atau kemelekatan atau rasa iri atau sikap mementingkan diri sendiri muncul, jangan main-main dengannya. Cobalah untuk segera melenyapkannya. Kalau kita main-main dengannya dan berpikir "Santailah sedikit" atau "Tidak buruk-buruk amat kok kalau aku jengkel," itu namanya memberi jalan-raya utama di cita kita pada perasaan gelisah. Ia akan jadi semakin kuat sehingga kita hilang kendali dan kemudian perasaan itu mengambil alih diri kita. Seperti ada dikatakan, jangan berbaik hati dengan perasaan-perasaan gelisah di cita kita; berbaik hatilah pada makhluk-makhluk lainnya.

Sebagai laku harian, akan sangat bermanfaat jika kita menjenguk satu per satu isi daftar laku yang diberikan di pokok enam dan tujuh ini, sebagai pengingat saja. Demikian pula, jika kita sudah mengambil sumpah-sumpah bodhisattwa dan tantra, mendaraskan sumpah-sumpah tersebut akan menjadi laku harian yang baik sekali, sehingga kita mengingatnya. Ini membantu kita tetap ingat pada nasihat ini, yang merupakan panduan yang baik sekali untuk kehidupan kita. Dan, sebagai bagian dari laku harian kita, janganlah kita hanya sekadar membaca panduan itu saja, tapi juga merenungkan satu atau dua di antaranya: apakah aku benar-benar melakukan ini, apakah aku tidak melakukan ini, dan melihat keuntungan-keuntungan jika kita mengikutinya. Itu amat berguna. Tapi penting juga untuk tidak melakukannya terlalu tergesa-gesa. Mudah saja kalau kita sekadar menjenguk isian daftar semacam itu tanpa betul-betul memperhatikan maknanya.

Bagus kalau kita melakukannya dua kali sehari, di pagi dan malam hari. Di pagi hari, jenguk isian daftar tersebut dan canangkan niat yang kuat untuk mencoba mengikutinya di sepanjang hari itu. Kemudian, di malam hari, coba tinjau seberapa berhasil kita mengikuti panduan tersebut selama satu hari itu. Ada cerita tentang Geshe Ben Kungyal, yang menyimpan setumpuk batu putih dan batu hitam. Ia akan menaruh batu putih di tumpukan terpisah setiap kali ia benar-benar mengikuti nasihat ajaran dan batu hitam ketika ia gagal. Sepanjang hari, ia jadi punya gambaran yang jelas tentang seperti apa kelakuannya.

Tentu, pokok yang mesti diperhatikan adalah bahwa kita tidak boleh pongah kalau kita berhasil baik atau merasa bersalah kalau tidak, tapi kita bersukacita kalau kita berhasil baik. Jangan kelewat batas dengan jenis tilik-diri semacam ini, tapi kalau kita lebih banyak bertindak negatif, patutlah kita merasakan sesal karenanya dan memantapkan keputusan untuk memperbaiki diri. Kemajuan itu tidak seperti garis lurus; ada hari yang lebih baik dari hari lainnya. Itu tidak berarti bahwa kita tetap merasa masa bodoh. Penting bagi kita untuk mencoba sebaik mungkin untuk bertindak secara positif dan tidak mementingkan diri sendiri tiap harinya. Jangan kelewat batas dalam hal harapan dan kelesu-hatian, karena sudah pasti ada hari yang lebih baik dari hari lainnya.

(11) Tidak melenceng ke tingkah buruk.

"Tingkah buruk" di sini maksudnya membalas ketika orang lain mengejek kita atau menyerang kita atau melakukan hal-hal tak menyenangkan pada kita. Kalau seseorang menghina kita dan melontarkan kata-kata kotor, jangan cari kata-kata yang lebih buruk sebagai balasannya; akan tetapi, biarkan saja itu lewat. Ada banyak cara untuk melakukan itu. Tentu kita tidak ingin marah dalam hati dan memendam rasa itu. Sadarilah bahwa ketika seseorang melontarkan kata-kata jahat pada kita, itu cuma suara, cuma getaran udara, dan pendengaran kita akan kata-kata ini hanyalah pengalaman cita saja. Munculnya suara dan pendengaran itu bukan hal untuk dibesar-besarkan. Hanya ketika kita memaparkan diri di atas gagasan mendua tentang kamu, orang jahat, yang mengatakan itu pada ku lah kita kemudian jadi kesal dan merasa perlu membalas. Demikian pula, jika seseorang memulai pertengkaran dengan kita, kalau kita balas menyerang, hal itu akan merusak segala hal yang sedang coba kita lakukan untuk orang lain. Kalau kita membalas karena kita dihina, maka kita hanya memikirkan diri kita sendiri saja.

Dalam keadaan semacam itu, sumpah-sumpah bodhisattwa sudah cukup jelas. Dorongan untuk tidak membalas seseorang yang menghina kita adalah untuk menghindari perbuatan mencelakai orang tersebut dan untuk mencoba menolong mereka. Dalam keadaan semacam itu kita tentu mencoba menggunakan cara-cara damai sebisa mungkin. Tapi ketika cara-cara damai tidak berhasil, bahkan setelah kita memberi mereka peluang bagus, jika kita punya kemampuan untuk menghentikan kekerasan dengan cara yang lebih tegas, tidak mengambil langkah itu pun merupakan pelanggaran atas sumpah-sumpah bodhisattwa. Kita harus makul (realistis).

Yang Mulia Dalai Lama sering ditanya tentang penggunaan kekerasan di Tibet dan ia berkata bahwa dalam keadaan seperti itu, walaupun tampaknya cara-cara damai tidak berhasil, akan tetapi penggunaan kekerasan dan tindakan teror pun tidak akan membawa kita ke mana-mana. Kalau kita membunuh seratus serdadu Cina, mereka akan mengirim dua ratus lagi. Ada 1,2 miliar orang Cina; kekerasan kecil yang dilakukan rakyat Tibet terhadap mereka tidak akan menghasilkan apapun juga. Jadi, dalam hal keinginan mencegah kekerasan mencelakai orang lain, orang mestilah cerdas dan tidak semata-mata membalas saja karena tidak ingin terlihat lemah atau teruk.

(12) Tidak menyimpan dendam.

Menyimpan dendam di sini berarti kita ingin impas, jadi kita menunggu sampai orang tersebut lemah kemudian baru kita mencelakainya. Ini berarti bahwa ketika seseorang melukai kita, kita tidak melakukan apa-apa kalau kedudukan kita tidak kuat, tapi kita memendam amarah dan menunggu sampai mereka lemah untuk membalas dendam. Pokok yang dimaksud di sini adalah tidak membalas. Yang Mulia mengatakannya dengan amat baik: kalau kita tidak menyerang balik, mungkin kita takut orang lain beranggapan bahwa itu tanda lemah, tapi sebetulnya itu tanda kekuatan yang luar biasa. Lemah itu justru menyerah pada amarah dan bertindak layaknya anak kecil atau binatang yang langsung membalas menyerang. Kalau kita bersabar, menggunakan welas asih dan kecerdasan, itulah tanda kekuatan yang luar biasa.

(13) Tidak menyungkurkan (seseorang) tentang suatu pokok yang peka.

Ini berarti menunjuk-nunjukkan kesalahan atau kelemahan seseorang di hadapan umum untuk dengan sengaja membuat mereka malu. Ada banyak cara untuk mengajar orang dengan cara yang ampuh tanpa harus mempermalukan mereka di depan siapapun. Saya ingat, pernah saya mengalami masalah di India dan saya waktu itu berada di Bodh Gaya untuk menerjemahkan tinjauan atas Bodhisattvacharya-avatara karya Shantidewa oleh Dalai Lama. Saya belum bertemu guru saya, Serkong Rinpoche, selama beberapa bulan – ia sedang berada di Nepal. Saya tentu kemudian menemuinya dan ia membuka naskah Shantidewa dan menunjuk tiga kata di naskah tersebut dan bertanya apakah saya paham maksudnya. Ketiga kata itu cukup sukar, sebetulnya. Pemahaman saya atas maknanya keliru dan ia menjelaskannya pada saya. Faktanya, sikap-sikap gelisah yang diacu oleh tiga kata ini sebetulnya persis merupakan kesukaran yang sedang saya alami saat itu. Jadi, cara tak langsung seperti ini sering menjadi cara ampuh untuk menunjukkan maksud. Juga beberapa tinjauan mengatakan bahwa pokok ini berarti tidak menggunakan kekuatan-kekuatan kanuragan, kalau kita memilikinya, untuk mengganggu orang lain dengan sihir hitam, jampi-jampi dan semacamnya – ini hal yang jauh dari hidup kita sehari-hari di (dunia Barat) sini.

(14) Tidak membebankan bobot seekor dzo pada seekor sapi jantan.

Ada satu binatang di Tibet yang bernama dzo, yang merupakan keturunan campuran jantan dari yak dan sapi. Dzo adalah binatang yang besar dan kuat, jauh lebih kuat dari seekor sapi jantan. Jadi, maksud dari pokok ini adalah jangan memberikan pekerjaan yang cocoknya untuk orang yang jauh lebih kuat ke orang lemah yang tidak mampu menanganinya.

Ungkapan ini punya beberapa makna. Satu maknanya: kita harus menerima cela atas kesalahan kita sendiri, dan tidak menimpakannya ke orang lain. Makna lainnya adalah tidak meninggalkan pekerjaan 'kotor' kita untuk dikerjakan orang lain, seperti mencuci piring kotor dan tugas bersih-bersih. Atau, semisal ini perihal memilih kursi, jangan berikan kursi paling jelek ke orang lain dan mengambil kursi terbaik untuk kita sendiri. Dengan kata lain, kita adalah dzo dari seluruh latihan yang sedang kita jalani ini. Itulah maksud dari "membebankan bobot seekor dzo pada seekor sapi jantan."

(15) Tidak berlomba-lomba.

Ini mengacu pada berlomba-lomba mendapatkan tempat duduk terbaik di bioskop atau berlomba-lomba untuk mendapatkan bagian makanan terenak buat diri kita sendiri. Kita ingin memperoleh yang terbaik bagi kita sendiri dan kita tidak ingin orang lain sampai memperolehnya. Jauh lebih baik jika kita membiarkan orang lain terlebih dahulu dan kita sendiri mengambil bagian paling akhir atau paling buruk, tapi tanpa berlaku palsu, seperti berkata, "Oh, kau ambil sajalah bagian yang bagus itu, aku akan ambil yang jeleknya, aku tak keberatan!" Tentu bukan seperti itu. Tapi dengan cara yang wajar saja, mirip seperti orangtua yang membiarkan anaknya mendapat bagian makanan terenak dan tak keberatan mengambil bagian makanan yang gosong atau semacamnya.

Ada satu cerita dari Tibet yang cocok untuk ini. Cerita itu tentang Geshe Ben Kungyal, yang tadi diceritakan menggunakan batu hitam dan putih itu. Suatu kali ia pergi bersama sekelompok biksu dan pelaku rohani lain untuk acara santap-makan yang diselenggarakan seorang penderma. Penderma itu sedang membagi-bagikan makanan, yang waktu itu adalah susu-asam (yogurt), dan Geshe Ben duduk di baris belakang. Saat ia melihat si penderma sedang membagi-bagikan susu-asam itu, salah satu makanan kegemarannya, ke setiap orang, ia jadi semakin khawatir dan kesal: "Yang dibagikannya terlalu banyak di depan saja, pasti tidak cukup tersisa buatku nanti." Tapi kemudian ia menyadari sikapnya dan ketika penderma itu datang padanya, ia membalikkan mangkuknya dan berkata, "Bagianku sudah kudapatkan." Ini sering ditonjolkan sebagai contoh dari laku pengikat erat di sini. Alih-alih khawatir bahwa "pasti tidak cukup tersisa buatku nanti," kita mestinya lebih khawatir kalau tidak cukup tersisa buat orang lain.

(16) Tidak membalikkan jimat.

Jimat itu gunanya untuk mengusir roh-roh pencelaka, dan di sini ia merupakan perumpamaan yang menggambarkan kita melatih cita kita untuk membersihkan sikap kita sehingga kita dapat mementingkan orang lain. Tapi kalau kita menjalankan laku hanya demi kepentingan diri sendiri, maka itu berarti kita terbalik memegang jimatnya.

Ada sejumlah contoh untuk membantu kita memahami pokok bahasan ini. Misalnya, kalau kita menerima suatu kerugian sementara karena kita tahu bahwa ini akan mengesankan orang lain dan akhirnya kita akan mendapatkan rezeki, ini berarti menggunakan ajaran secara terbalik. Bertindak secara rendah-hati dan senantiasa bersikap perhatian pada orang yang ingin kita buat terkesan karena kita ingin mereka membantu kita di masa mendatang, juga berarti menggunakan latihan ini secara terbalik – ini semua hanya akan memperkuat sikap mementingkan diri sendiri saja. Contoh lain, kita menjalankan berbagai jenis laku menolong dan memikirkan kepentingan orang lain sekadar karena kita ingin orang suka pada kita. Lagi-lagi, itu berarti kita menggunakan ajaran-ajaran secara terbalik karena kita pada dasarnya kita melakukannya untuk kepentingan kita sendiri.

(17) Tidak membuat seorang dewa jatuh menjadi seekor iblis.

Ini, lagi-lagi, berarti mencampur laku yang kita jalankan dengan sikap mementingkan diri sendiri: menjalankan laku Dharma untuk membuat diri kita benar-sendiri dan congkak, dengan sikap "lebih-kudus-dari-engkau". Melakukan undur-diri untuk meditasi dan menaruh tanda di luar yang berbunyi, "Jangan diganggu, orang hebat sedang meditasi," sehingga setiap orang akan berpikir bahwa kita ini orang kudus, adalah satu contohnya.

Orang Tibet menggunakan contoh melakukan undur-diri tiga tahun sehingga akhirnya orang akan menganggap kita seorang lama dan kita akan dapat murid, ketenaran, dan sesaji. Selalu rendah-hati itu penting. Seperti pernah dikatakan oleh seorang pelaku rohani, "Ketika saya membaca di berbagai naskah tentang beraneka kesalahan dan kekurangan, saya mengakui itu ada dalam diri saya, dan ketika saya membaca tentang sifat-sifat baik, saya mengakui itu ada dalam diri orang lain." Hal itu tentu berkaitan dengan kepatuhan dalam laku membersihkan sikap-sikap kita.

(18) Tidak menjadikan duka (orang lain) sebagai tambahan bagi kebahagiaan(ku).

Contoh-contoh untuk hal ini mencakup harapan bahwa para pesaing usaha kita akan gagal sehingga kita sendiri yang maju, atau bahwa orang-orang di kantor kita akan pensiun sehingga kita yang dapat kesempatan naik jabatan, atau bahwa kerabat kita yang kaya akan cepat mati sehingga mereka akan mewariskan uang dan harta-bendanya buat kita. Alih-alih berharap orang lain ditimpa kemalangan sehingga kita dapat menangguk untung dari hal itu, kita dinasihati tentu saja untuk senantiasa bersukacita ketika dan berharap bahwa orang lain berumur panjang dan menikmati uang yang mereka punya dan menikmati kedudukan yang mereka pegang.

Ini akhir dari delapan belas laku pengikat erat dari pokok keenam.