Agama Buddha di Dunia Masa Kini

Agama Buddha Theravada di Asia Selatan dan Tenggara

India

Agama Buddha di India mulai kehilangan pengaruhnya pada abad ke-7, lalu hampir hilang sama sekali setelah jatuhnya Kekaisaran Pala pada abad ke-12, kecuali di kawasan utara jauh pegunungan Himalaya. Akhir abad ke-19 merupakan awal kebangkitan agama Buddha di India, ketika pemimpin Buddha Sri Lanka, Anagarika Dharmapala, mendirikan Masyarakat Maha Bodhi dengan bantuan para cendekiawan Inggris. Tujuan utamanya ialah memulihkan tapak-tapak ziarah umat Buddha di India, dan mereka sangat berhasil membangun candi di semua tapak Buddha, yang kesemuanya memiliki biksu.

Pada tahun 1950an, Ambedkar memulai sebuah gerakan Buddha-baru di kalangan kasta paria, dimana ratusan ribu umat masuk agama Buddha untuk menghindari cema kasta. Dalam dasawarsa terakhir ini, minat kelas menengah perkotaan terhadap agama Buddha meningkat pesat. Saat ini, penganut Buddha jumlahnya kira-kira 2% dari penduduk India.

Sri Lanka

Sri Lanka telah mejadi pusat pembelajaran Buddha sejak agama ini diperkenalkan pada abad ke-3 SM oleh Mahendra, putra dari Kaisar India, Ashoka. Sri Lanka memiliki sejarah agama Buddha paling panjang. Sri Lanka juga telah mengalami penurunan jangka panjang selama perang, mulai sejak abad 16 dan seterusnya ketika pulau itu dijajah, dan para misionaris Eropa menyebarkan agama Kristen.

Agama Buddha mengalami kebangkitan kuat di abad ke-19 dengan bantuan para cendekiawan dan pelaku teosofi Inggris, dan karenanya agama Buddha Sri Lanka juga kadang dicirikan sebagai "agama Buddha Protestan", dengan penekanan pada kajian cendekia, kegiatan kepastoran oleh para biksu untuk masyarakat awam, dan laku meditasi untuk orang awam. Sri Lanka merdeka pada tahun 1948, dan sejak itu terjadi kebangkitan kuat dalam hal minat terhadap agama dan budaya Buddha.

Saat ini, 70% masyarakat Sri Lanka beragama Buddha, sebagian besar di antaranya merupakan pengikut aliran Theravada. Setelah 30 tahun perang saudara, sekarang ini di Sri Lanka muncul agama Buddha nasionalistik, dengan beberapa lembaga seperti Bodu Bala Sena (Bala Kuasa Buddha) melancarkan kerusuhan anti-Muslim dan penyerangan terhadap para pemimpin Buddha dari kalangan moderat.

Myanmar (Birma)

Penelitian sejarawi menunjukkan bahwa agama Buddha di Birma memiliki sejarah sepanjang lebih dari 2.000 tahun, dengan sekitar 85% penduduknya saat ini mengaku diri sebagai umat Buddha. Di Birma sudah ada satu kebiasaan lama dalam keseimbangan pusat perhatian pada meditasi dan kajian bagi masyarakat yang telah ditahbiskan, dan penduduk awamnya menjaga iman yang kuat. Salah satu orang Birma penganut Buddha yang paling terkenal adalah S.N. Goenka, seorang guru awam untuk cara meditasi vipassana.

Sejak Birma memperoleh kemerdekaan dari Inggris Raya tahun 1948, baik pemerintah sipil maupun militer mendukung agama Buddha Theravada. Di bawah rezim militer, agama Buddha dikendalikan dengan ketat, dan wihara yang melindungi para pembangkang kerap dihancurkan. Para biksu sering berada di baris depan saat terjadi unjuk rasa politik melawan rezim militer, seperti Pemberontakan 8888, dan Revolusi Kunyit di tahun 2007.

Selama satu dasawarsa terakhir ini, beragam kelompok nasionalis bermunculan, berusaha membangkitkan agama Buddha dan menentang agama Islam. Ashin Wirathu, pemimpin biksu Kelompok 969, menyebut dirinya sebagai "Bin Laden dari Birma," dan telah mengusulkan pemboikotan toko-toko milik orang Islam. Dengan berkedok "melindungi agama Buddha", maraknya perusakan mesjid dan rumah-rumah orang Islam sudah biasa terjadi, dengan serangan balasan dari umat Islam yang malah semakin mengobarkan api kerusuhan.

Bangladesh

Agama Buddha menjadi agama kepercayaan utama di wilayah ini sampai abad ke-11. Saat ini, kurang dari 1% penduduknya menganut Buddha, dan mereka terpusat di Jalur Perbukitan Chittagong dekat Birma.

Ada empat candi Buddha di ibukota negara ini, Dhaka, dan sejumlah besar candi di seluruh desa-desa bagian timur. Akan tetapi, karena terputus dari Birma, tingkat laku dan pemahaman agama Buddha di sini cukup rendah.

Thailand

Agama Buddha diperkenalkan di berbagai kekaisaran Asia Tenggara mulai dari abad ke-5 M. Theravada dianut dengan pengaruh kuat dari agama rakyat dan Hindu, serta agama Buddha Mahayana. Tidak seperti Sri Lanka dan Birma, tidak pernah ada silsilah penahbisan untuk wanita. Hampir 95% masyarakat di negara ini beragama Buddha.

Masyarakat wihara Thai mengacu pada kerajaan Thai, sehingga ada Tetua Tertinggi dan juga Dewan Sesepuh, yang bertanggung jawab menjaga kemurnian adat-kebiasaan. Ada juga masyarakat wihara yang tinggal di hutan-hutan, dan di desa-desa. Keduanya sangat dihormati dan didukung masyarakat awam.

Para biksu pengemis dengan adat-kebiasaan hutan tinggal di rimba terpencil dan mengikatkan diri pada meditasi yang sangat tekun, serta dengan ketat mengikuti aturan wihara. Utamanya, para biksu desa menghapal naskah dan menyelenggarakan upacara untuk warga setempat. Demi menjaga kepercayaan adati masyarakat Thai terhadap arwah, para biksu ini juga menyediakan jimat perlindungan bagi orang awam. Ada juga sebuah perguruan tinggi Buddha untuk para biksu, utamanya untuk melatih para biarawan dalam menerjemahkan kitab-kitab suci Buddha dari Pali kuno ke bahasa Thai modern.

Laos

Agama Buddha pertama kali tiba di Laos pada abad ke-7 M, dan saat ini 90% penduduknya mengaku menganut agama Buddha yang bercampur dengan animisme. Selama rezim komunis, pemerintah awalnya tidak langsung menindas agama, tetapi menggunakan sangha Buddha Sangha untuk meluaskan tujuan-tujuan politik mereka. Lama kelamaan, agama Buddha menjadi sasaran penindasan yang parah. Sejak tahun 1990an, agama Buddha telah bangkit kembali, sebagian besar orang Laos menjadi pengikut yang sangat taat, dan sebagian besar penduduk pria bergabung ke wihara atau kuil setidaknya untuk jangka pendek. Sebagian besar keluarga memberikan makanan bagi para biksu, dan mengunjungi candi pada hari-hari bulan purnama.

Kamboja

Agama Buddha Theravada telah menjadi agama negara sejak abad ke-13, dengan 95% penduduknya masih beragama Buddha. Selama tahun 1970an, Khmer Merah berusaha dan hampir berhasil menghancurkan agama Buddha; pada tahun 1979, hampir tiap biksu dibunuh atau dibawa ke pengasingan, dan setiap wihara dan perpustakaan telah dihancurkan.

Setelah tahta kerajaan kembali ke tangan Pangeran Sihanouk, larangan perlahan-lahan dicabut, dan minat terhadap agama Buddha bangkit kembali. Rakyat Kamboja juga sangat percaya pada ramalan, ilmu perbintangan dan dunia arwah, dan para biksu sering melakukan penyembuhan. Para biksu Buddha ikut serta dalam beraneka-ragam upacara, mulai dari upacara pemberian nama anak, pernikahan, dan pemakaman.

Vietnam

Agama Buddha tiba di Vietnam 2.000 tahun yang lalu, pertama-tama dari India, tapi kemudian utamanya dari Tiongkok. Akan tetapi, agama ini mulai tidak lagi disukai kelas-kelas penguasa di abad ke-15. Kebangkitan kembali muncul pada awal abad ke-20, tapi selama masa Republik, berbagai kebijakan pro-Katolik memusuhi umat Buddha. Sekarang, hanya 16% penduduk yang mengaku menganut agama Buddha, tapi Buddha tetap menjadi agama terbesar di sana.

Pemerintah sekarang bersikap lebih longgar terhadap agama Buddha, meskipun tidak ada kuil yang boleh berdiri mandiri tanpa campur tangan negara.

Indonesia dan Malaysia

Agama Buddha tiba di wilayah ini sekitar abad ke-2 Masehi, lewat jalur-jalur perdagangan India. Sepanjang sejarahnya, agama Buddha dijalankan berdampingan dengan agama Hindu sampai abad ke-15, ketika Majapahit, kerajaan Hindu-Buddha terakhir itu runtuh. Di awal abad ke-17, Islam sepenuhnya menggantikan kedua agama ini.

Menurut kebijakan Pancasila yang diterapkan pemerintah Indonesia, agama yang secara resmi diakui negara harus menyatakan kepercayaan kepada Tuhan. Agama Buddha tidak menyatakan Tuhan sebagai sosok perorangan, tetapi diakui di Indonesia karena adanya kepercayaan pada Adibuddha, atau "Buddha Pertama", sebagaimana yang telah kita bahas pada tantra Kalacakra, yang telah berkembang di India ribuan tahun sebelumnya. Adibuddha adalah pencipta mahatahu dari segala wujud, yang melampaui waktu dan keterbatasan lainnya, dan kendati dilambangkan dengan sosok tertentu, ia sebenarnya bukan berupa makhluk. Adibuddha ditemukan di semua makhluk hidup sebagai sifat bercahaya jernih dari cita. Dengan dasar ini, agama Buddha diterima bersamaan dengan Islam, Hindu, Konghucu, Kristen Katolik, dan Kristen Protestan.

Para biksu Sri Lanka telah mencoba menghidupkan kembali agama Buddha Theravada di Bali dan daerah lainnya di Indonesia, tapi masih dalam lingkup yang sangat kecil. Di Bali, mereka yang menunjukkan minat terhadap Buddha Theravada adalah para pengikut campuran agama Hindu, agama Buddha dan agama kepercayaan setempat. Di wilayah Indonesia lainnya, penganut Buddha, yang jumlahnya sekitar 5% dari keseluruhan penduduk, berasal utamanya dari masyarakat Tionghoa. Ada juga beberapa sekte kecil penganut Buddha Indonesia yang merupakan percampuran dari segi-segi Theravada, Tiongkok, dan Tibet.

20% penduduk Malaysia menganut agama Buddha, dan mereka utamanya terdiri dari masyarakat Tiongkok pendatang. Setengah abad yang lalu terjadi penurunan minat terhadap agama Buddha, dan tahun 1961 Masyarakat Utusan Buddha didirikan dengan tujuan untuk menyebarkan agama Buddha. Dalam dekade terakhir telah terjadi gelombang lonjakan laku agama Buddha, bahkan di antara para pemuda. Sekarang sudah ada beragam pusat Theravada, Mahayana, dan Vajrayana yang didanai dan didukung dengan baik.

Agama Buddha Mahayana Asia Timur

Republik Rakyat Tiongkok

Agama Buddha telah memainkan peran yang menonjol dalam 2.000 tahun sejarah Tiongkok, dan agama Buddha Tiongkok sendiri telah memainkan peran yang giat dalam menyebarkan agama Buddha di Asia Timur. Masa awal Wangsa Tang (618-907 Masehi) merupakan masa keemasan bagi agama Buddha, dengan berkembang mekarnya seni dan kesusastraan.

Selama Revolusi Kebudayaan di tahun 1960an dan 70an, sebagian besar wihara umat Buddha Tiongkok dihancurkan dan sebagian besar biksu, biksuni, dan guru terlatih dibunuh atau dipenjara. Di Tibet dan Mongolia Dalam penindasan terhadap agama Buddha bahkan lebih sengit lagi. Setelah Tiongkok bereformasi dan membuka diri, ketertarikan terhaap agama turun-temurun tumbuh kembali. Kuil-kuil baru dibangun dan yang lama dipugar. Sebagian besar orang yang bergabung dengan wihara berasal dari keluarga miskin dan tidak berpendidikan dari pedesaan, dan tingkat pendidikannya tetap rendah. Banyak kuil yang ada hanya sebagai tempat kunjungan wisata, dan penghuni wihara di sana bertindak semata-mata sebagai pengutip tiket dan pramutama saja.

Sekarang ini, sejumlah besar orang Tiongkok memiliki ketertarikan terhadap agama Buddha, dan kebaktian terhadap agama Buddha Tibet meningkat cukup pesat. Diperkirakan saat ini 20% penduduk Tiongkok merupakan penganut Buddha, dan kuil-kuil di seluruh Tiongkok sibuk pada jam-jam buka mereka. Seiring semakin kaya dan sibuk rakyatnya, banyak dari mereka mencoba meloloskan diri dari tekanan jiwa lewat agama Buddha Tiongkok dan Tibet. Agama Buddha Tibet banyak diminati oleh orang Tiongkok Han, khususnya sejak meningkatnya jumlah lama Tibet yang mengajar dalam bahasa Tiongkok.

Taiwan, Hong Kong dan Pecinan di Berbagai Belahan Dunia

Aliran Buddha Mahayana Asia Timur yang berasal dari Tiongkok paling kokoh kedudukannya di Taiwan dan Hong Kong. Taiwan memiliki masyarakat wihara yang terdiri dari biksu dan biksuni yang dengan sangat murah hati didukung oleh masyarakat awam. Terdapat pula berbagai perguruan tinggi dan program Buddha untuk kesejahteraan masyarakat. Hong Kong juga memiliki sebuah masyarakat wihara yang berkembang pesat. Yang menjadi pokok penting di antara masyarakat Buddha Tiongkok mancanegara di Malaysia, Singapura, Indonesia, Thailand, dan Filipina adalah upacara-upacara untuk kesejahteraan leluhur, dan untuk kemakmuran dan kekayaan bagi yang masih hidup. Ada banyak perantara yang menjadi wadah bagi para peramal Buddha untuk bicara dalam keadaan kerasukan dan yang menjadi tempat bertanya masyarakat awam mengenai masalah kesehatan dan kejiwaan mereka. Para pengusaha Tiongkok yang menjadi daya kemudi utama di balik ekonomi "Macan Asia" seringkali memberikan sumbangan berlimpah kepada para biksu untuk melakukan upacara demi keberhasilan usaha mereka. Taiwan, Hong Kong, Singapura, dan Malaysia juga mengalami perkembangan jumlah penganut Buddha Tibet.

Korea Selatan

Agama Buddha sampai di semenanjung Korea dari Tiongkok pada abad ke-3 M. Agama Buddha di Korea Selatan masih cukup kuat, terlepas dari meningkatnya serangan dari lembaga-lembaga Kristen fundamentalis. Pada dasawarsa terakhir ini sejumlah besar kuil Buddha dihancurkan atau dirusak dengan api yang disulut oleh kelompok-kelompok semacam itu. 23% penduduknya merupakan penganut Buddha.

Jepang

Agama Buddha tiba di Jepang dari Korea selama abad ke-5, dan telah memainkan peran utama di masyarakat dan budaya Jepang. Sejak abad ke-13, telah ada adat yang memperbolehkan pendeta kuil menikah tanpa larangan minum minuman beralkohol. Pendeta semacam itu berangsur-angsur menggantikan adat biksu melajang. Dahulu, sebagian aliran Buddha bersifat sangat nasionalis, dengan keyakinan bahwa Jepan merupakan sebuah surga Buddha. Di masa kini, beberapa lingkaran pemuja kiamat fanatik juga menyebut diri mereka umat Buddha, meskipun mereka hampir tidak ada kaitannya dengan ajaran Buddha Shakyamuni.

Sekitar 40% penduduknya mengaku sebagai penganut Buddha, dan sebagian besar orang Jepang mencampur kepercayaan agama Buddha dengan Shinto, agama asli Jepang. Kelahiran dan pernikahan dirayakan dengan mengikuti adat Shinto, sementara pemakaman dilakukan oleh pendeta Buddha.

Kuil-kuil di Jepang dijaga keindahannya untuk para pelancong dan pengunjung, meskipun banyak juga yang sangat komersil. Hampir di setiap segi, kajian dan laku Buddha yang sesungguhnya melemah sangat parah. Soka Gakkai, salah satu lembaga Buddha terbesar dunia, berasal dari Jepang.

Agama Buddha Mahayana Asia Tengah

Tibet

Agama Buddha tiba di Tibet pada abad ke-7 Masehi. Selama berabad-abad, dengan perlindungan kerajaan dan dukungan dari kaum bangsawan, agama Buddha mengakar ke berbagai segi kehidupan Tibet.

Setelah pendudukan Tibet oleh Republik Rakyat Tiongkok, agama Buddha di Tibet mengalami penindasan yang sangat parah. Dari 6.500 wihara yang ada, tinggal 150 saja yang selamat dari penghancuran, dan hampir seluruh biarawan terpelajar yang ada dihukum mati atau meninggal di kamp konsentrasi. Setelah Revolusi Kebudayaan, sebagian besar pembangunan kembali wihara yang ada berlangsung lewat upaya para biksu sebelumnya, penduduk setempat dan orang Tibet yang tinggal di pengasingan, dan pemerintah hanya membantu membangun-ulang dua atau tiga wihara saja.

Pemerintah komunis Tiongkok adalah atheis, tapi mengijinkan lima "agama yang diakui", salah satunya agama Buddha. Kendati mereka menyatakan tidak akan mencampuri urusan agama, setelah Dalai Lama mengenali seorang anak laki-laki Tibet sebagai reinkarnasi dari Panchen Lama, dia dan keluarganya seketika menghilang. Segera setelahnya, pemerintah Tiongkok melancarkan pencarian mereka sendiri untuk menemukan anak laki-laki setengah Tiongkok, setengah Tibet. Sejak saat itu pilihan Dalai Lama tersebut tidak pernah terlihat lagi.

Sekarang ini, tiap wihara dan kuil memiliki satuan kerja pemerintahnya sendiri. Mereka ini adalah polisi berpakaian sipil yang "membantu" melaksanakan berbagai tugas. Maksud sebetulnya adalah bahwa mereka mengamati dan melaporkan kegiatan masyarakat wihara. Kadang, satuan kerja ini jumlahnya bisa sama besar dengan anggota wihara itu sendiri. Di samping campur tangan pemerintah, salah satu masalah utama yang dihadapi penganut Buddha di Tibet ialah kurangnya guru yang mumpuni. Biksu, biksuni, serta orang awam semuanya sangat ingin belajar lebih, tetapi kebanyakan gurunya kurang terlatih. Pada dasawarsa terakhir ini, pemerintah membuka "perguruan tinggi" Buddha di dekat Lhasa. Perguruan tinggi iniberperan sebagai sekolah pelatihan untuk para tulku muda, tempat mereka belajar bahasa Tibet, kaligrafi, ilmu pengobatan dan totok jarum, dan juga filsafat Buddha. Zaman digital telah membawa kaum muda awam Tibet lebih dekat dengan agama Buddha. Banyak dari mereka menjadi anggota kelompok Wechat dan Weibo yang berbagi ajaran dan cerita-cerita Buddha. Saat ini, mempelajari lebih banyak tentang agama Buddha dilihat sebagai sebuah cara menguatkan identitas seseorang sebagai orang "Tibet asli".

Turkistan Timur

Kebanyakan wihara rakyat Mongol Kalmyk yang tinggal di Turkistan Timur (Xinjiang) dihancurkan selama masa Revolusi Kebudayaan. Sekarang, beberapa telah dibangun kembali, tetapi kekurangan sumber daya gurunya bahkan lebih parah dibandingkan Tibet. Para biksu muda baru menjadi sangat berkecil hati karena kurangnya sarana belajar dan banyak dari mereka yang keluar.

Mongolia Dalam

Akan tetapi, keadaan terburuk bagi penganut agama Buddha Tibet di bawah kendali Republik Rakyat Tiongkok terjadi di Mongolia Dalam. Sebagian besar wihara di belahan barat telah dihancurkan selama masa Revolusi Kebudayaan. Di belahan timur, yang dulunya merupakan bagian wilayah Manchuria, banyak yang telah dihancurkan oleh tentara Stalin di akhir Perang Dunia Kedua ketika Rusia membantu membebaskan Tiongkok utara dari Jepang. Dari 700 wihara, hanya 27 yang tersisa.

Sejak 1980an, telah ada upaya untuk mendirikan kembali kuil-kuil dan membangun kembali wihara, yang tidak hanya dikunjungi oleh orang Mongolia saja, namun juga orang Tiongkok Han.

Mongolia

Di Mongolia, ada ribuan wihara yang dihancurkan sebagian atau seluruhnya pada tahun 1937 di bawah perintah Stalin. Pada tahun 1946, satu wihara telah dibuka kembali di Ulaan Baatar sebagai sebuah lambang bukti, dan di tahun 1970an sebuah sasana latihan lima tahun bagi para biksu telah dibuka. Kurikulumnya sangat ringkas dan dengan kuat menekankan pada kajian Marxis; para biksunya diizinkan menyelenggarakan upacara dengan jumlah terbatas bagi khalayak umum. Sejak jatuhnya paham komunis di tahun 1990, agama Buddha mengalami kebangkitan yang kuat dengan bantuan orang Tibet di pengasingan. Banyak biksu baru dikirim ke India untuk mendapatkan pelatihan, dan lebih dari 200 wihara telah dibangun kembali dengan skala sederhana.

Salah satu masalah paling serius yang dihadapi agama Buddha di Mongolia adalah kedatangan para misionaris Kristen Mormon dan Baptis yang agresif, yang datang dengan kedok mengajar Bahasa Inggris. Mereka menawarkan uang dan bantuan bagi anak-anak untuk belajar ke Amerika bila mereka mau pindah agama, serta memberikan buku kecil tentang Yesus yang dicetak dengan sangat indah dalam bahasa Mongolia sehari-hari. Sebagian besar kuil Buddha tidak bisa bersaing karena keterbatasan dana. Dengan semakin banyaknya orang-orang muda yang masuk Kristen, berbagai lembaga Buddha telah mulai membagikan informasi mengenai agama Buddha dalam bahasa sehari-hari, lewat bahan cetak, acara televisi dan program radio. Saat ini, sekitar 55% penduduknya beragama Buddha.

Orang Tibet di Pengasingan

Di antara berbagai aliran Tibet Asia Tengah, yang paling kuat adalah masyarakat pengungsi Tibet di sekitar Yang Mulia Dalai Lama yang tinggal di pengasingan di India sejak pemberontakan rakyat tahun 1959 melawan pendudukan tentara Tiongkok di Tibet. Mereka telah memulai lagi sebagian besar wihara utama dan beberapa wihara biksuni Tibet, dan memiliki program pelatihan penuh secara turun-temurun untuk para cendekiawan biksu, pelaku meditasi ahli, dan para guru. Terdapat sarana pendidikan, penelitian, dan penerbitan untuk melestarikan segala segi dari tiap-tiap aliran Buddha Tibet.

Orang Tibet di pengasingan telah membantu menghidupkan kembali agama Buddha di kawasan Himalaya India, Nepal, dan Bhutan, termasuk Ladakh dan Sikkim, dengan mengirimkan para guru dan meneruskan kembali silsilah. Banyak biksu dan biksuni dari kawasan itu menerima pendidikan dan latihan di wihara dan wihara biksuni pengungsi Tibet.

Nepal

Kendati sebagian besar penduduk Nepal beragama Hindu, pengaruh budaya Buddha masih nyata ada di negara tempat lahir Buddha ini. Kelompok-kelompok kesukuan seperti Newar, Gurung, dan Tamang menjalankan laku agama Buddha Nepal. 9% penduduknya beragama Buddha.

Mengikuti pencampuran agama Buddha dan Hindu, Nepal merupakan satu-satunya masyarakat Buddha yang mempertahankan pembedaan kasta di dalam wihara. 500 tahun belakangan telah bermunculan para biksu yang menikah, dengan kasta keturunan, yang menjadi penjaga kuil dan pemimpin upacara.

Rusia

Buryatia, Tiva, dan Kalmyk merupakan tiga wilayah yang secara turun-temurun menganut Buddha Tibet di Rusia. Semua wihara di daerah ini, kecuali tiga saja yang rusak di Buryatia, seluruhnya dihancurkan oleh Stalin di akhir tahun 1930an. Pada tahun 1940an, Stalin membuka kembali dua wihara perlambang di Buryatia, di bawah pengawasan ketat KGB; para biksu yang telah dilucuti jubahnya mengenakan jubah mereka sebagai seragam saja selama seharian untuk melakukan upacara. Setelah komunisme tumbang, agama Buddha mengalami kebangkitan besar di ketiga kawasan itu. Orang Tibet di pengasingan telah mengirimkan guru, dan para biksu muda baru dikirim ke berbagai wihara Tibet di India untuk berlatih. Lebih dari 20 wihara telah didirikan kembali di Buryatia, Tuva, dan Kalmyk.

Negara-Negara Tan-Buddha

Pengetahuan rinci agama Buddha tiba di Eropa pada abad ke-19 karena penjajahan Eropa di negara-negara Buddha, serta lewat berbagai karya para misionaris dan cendekiawan Kristen. Di waktu yang sama, para tenaga kerja asing dari Tiongkok dan Jepang membangun kuil-kuil di Amerika Utara.

Semua bentuk agama Buddha juga ditemukan di seluruh dunia, di negara-negara yang tidak beragama Buddha secara turun-temurun. Ada dua kelompok utama yang terlibat di sini: Pendatang dari Asia dan pelaku rohani tan-Asia. Pendatang dari Asia, khususnya di AS dan Australia, dan sampai pada tataran tertentu di Eropa, punya banyak kuil dari aliran mereka sendiri. Pusat perhatian utama dari kuil-kuil ini adalah untuk mendorong laku kebaktian dan menyediakan sebuah pusat masyarakat untuk membantu masyarakat pendatang menjaga jati diri kebudayaan mereka. Sekarang ada lebih dari empat juta pemeluk Buddha di Amerika, dan lebih dari dua juta pemeluk Buddha di Eropa.

Saat ini ribuan "Pusat Dharma" Buddha dari semua aliran dapat dijumpai di lebih dari 100 negara di seluruh dunia, dan di setiap benua. Sebagian besar dari pusat Dharma Buddha Tibet, Zen, dan Theravada dijalankan oleh orang-orang tan-Asia dan pusat perhatian mereka ada pada laku meditasi, kajian, dan upacara. Para gurunya terdiri dari orang Barat maupun penganut Buddha dari Asia. Jumlah terbesar dari berbagai pusat Dharma ini dapat ditemukan di AS, Perancis, dan Jerman. Banyak murid yang ingin belajar dengan lebih sungguh-sungguh mengunjungi Asia untuk memperdalam latihan mereka. Lebih lanjut, ada banyak program kajian Buddha di berbagai perguruan tinggi di seluruh dunia dan berkembang pula percakapan serta pertukaran gagasan antara agama Buddha dengan agama lain, ilmu pengetahuan, ilmu kejiwaan, dan ilmu kedokteran. Yang Mulia Dalai Lama berperan amat penting dalam semua perkembangan ini.