Apa itu Laku Buddha?

Laku-laku kehati-hatian telah meledak popularitasnya selama beberapa tahun terakhir, memberi manfaat bagi banyak orang yang mencari cara untuk tenang dan menghadapi tekanan. Namun, ketika tahu bahwa kehati-hatian berasal dari ajaran Buddha, banyak orang berpikir bahwa laku Buddha, atau meditasi dalam hal ini, semata-mata hanya berarti hati-hati. Laku Buddha lebih dari sekadar kewaspadaan, dan bahkan lebih jauh dari sekadar meditasi.

Dalai lama membuat tiga-lipat pembedaan untuk ajaran Buddha:

  • Sains Buddha mengenai cita—bagaimana pencerapan, pikiran, dan perasaan bekerja dari sudut pandang pengalaman subjektif
  • Filsafat Buddha—kajian budi pekerti dan mantik, dan pemahaman ajaran Buddha tentang kenyataan.
  • Keagamaan Buddha—ini meliputi dua hal di atas, tapi menambahkan keyakinan pada kehidupan-kehidupan masa lalu dan masa depan, dan karma. Termasuk juga upacara-upacara dan doa-doa yang, seperti Dalai Lama selalu tekankan, bukanlah hal yang mendasar.
Orang-orang yang bukan pengikut Buddha tidak perlu memperhatikan unsur-unsur keagamaan, tetapi tak ada alasan mengapa sains dan filsafat Buddha tidak dibuka untuk dapat diketahui siapapun yang ingin memperoleh manfaat darinya. Dewasa ini, ilmuwan-ilmuwan terkemuka menaruh minat pada penjelasan-penjelasan mendalam tentang kenyataan dan cara kerja cita yang ada dalam sumber-sumber itu. – Dalai Lama Ke-14

Dengan kata lain, laku Buddha boleh dijalankan dengan atau tanpa unsur-unsur keagamaan Buddha. Apa laku-laku dasar yang dapat dijalankan oleh semua orang—umat Buddha dan non-Buddha?

Melatih Diri Sendiri

Perhatian utama dalam ajaran Buddha adalah berlatih untuk mengatasi kekurangan-kekurangan kita dan menyadari daya-daya positif kita. Kekurangan-kekurangan ini adalah ketidakjernihan cita dan ketidakseimbangan perasaan kita, yang menyebabkan kita bingung tentang apa yang terjadi dalam hidup kita. Akibatnya, kita berperilaku secara gandrung, dikendalikan oleh perasaan-perasaan gelisah seperti kemarahan, keserakahan, dan keluguan. Daya-daya positif kita meliputi kemampuan kita untuk berkomunikasi secara jelas, untuk memahami kenyataan, untuk berempati dengan orang lain, dan untuk memperbaiki diri kita.

Tenang dan hati-hati adalah titik awal laku Buddha. Istilah asli untuk kehati-hatian berarti “mengenang” atau “mengingat”—menunjukkan bahwa hati-hati berarti mengingat untuk menyadari, setiap waktu, tentang bagaimana kita bertindak dan berbicara dengan orang lain, dan bagaimana kita berpikir ketika kita sendiri. Ini bukan berarti kita membiarkan mereka apa adanya, tetapi kita membedakan antara apa yang membangun dan apa yang merusak. Kemudian, kita mencoba untuk membedakan rasa dan perasaan yang menyertai perilaku kita—ketika kita bekerja, bergaul dengan teman-teman, atau bersantai seorang diri. Ketika bersama orang lain, kita jangan hanya memusat secara mawas diri pada apa yang terjadi di dalam benak kita—hati-hati bukan berarti kita menjadi asyik dengan diri sendiri. Untuk berhubungan dengan orang lain secara lebih efektif, kita mencoba untuk tetap hati-hati pada apa yang terjadi di pihak mereka, sehingga kita tahu bagaimana berhubungan dengan mereka secara peka dan baik.

Melihat ke Dalam Diri

Tujuan mawas diri dan sadar-diri adalah untuk menyingkap sebab sebenarnya dari semua masalah dalam hidup kita. Ketika unsur-unsur luar dan orang lain niscaya memberikan unsur-sebab bagi munculnya kesulitan-kesulitan kita, pendekatan Buddha adalah untuk mengenali sebab-sebab terdalamnya. Sebab-sebab ini dapat ditemukan di dalam diri kita sendiri: dalam sikap mementingkan diri kita sendiri, perasaan-perasaan yang gelisah, perilaku gandrung, dan kebingungan umum kita tentang kenyataan. Mereka memengaruhi cara kita mengalami berbagai kejadian dalam hidup kita. Bahkan ketika kita mengalami tekanan dari pekerjaan, terlalu banyak informasi, kelelahan, kesepian dan ketidakamanan, masalah-masalah kita dalam menghadapi mereka berasal dari keadaan batin dan perasaan kita, bukan dari masalah-masalah itu sendiri. Kita harus tenang dan mencapai keseimbangan perasaan dan kejernihan cita untuk menghadapi tantangan-tantangan hidup yang tidak ada akhirnya.

Setelah kita menjadi hati-hati terhadap perasaan, sikap, dan perilaku yang menyebabkan penderitaan dan kesulitan, kita dapat memberikan penangkalnya ke pada mereka.

Kita perlu belajar bagaimana mengembangkan kedamaian cita dan bagaimana mengalahkan perasaan-perasaan gelisah kita. Ketika raga kita sakit, kita menentukan penyakitnya dan mencari obatnya. Kita membutuhkan pendekatan serupa untuk menciptakan cita yang sehat. Memakai obat-obatan atau mabuk tidak akan menghentikan perasaan-perasaan gelisah kita. Kita perlu menerapkan suatu kesehatan perasaan berdasarkan pemahaman yang jelas tentang kenyataan dan kerja-kerja cita. – Dalai Lama Ke-14

Untuk mengembangkan kesehatan perasaan, kita perlu terus hati-hati terhadap tiga hal:

  • Kita perlu mengingat penangkal-penangkal bagitataran cita kita yang gelisah
  • Mengingat untuk menerapkan mereka ketika diperlukan
  • Mengingat untuk memelihara mereka

Untuk mengingat semua penangkal itu, kita perlu:

  • Mempelajari apa saja mereka
  • Merenungkan mereka sampai kita mengerti mereka secara benar, mengetahui cara menerapkan mereka, dan yakin bahwa mereka akan berhasil
  • Berlatih menerapkan mereka dalam meditasi agar akrab dengan penerapannya

Kita perlu menjadi seperti dokter untuk diri kita sendiri: belajar untuk menemukan penyakit kita, memahami sebab-sebabnya, melihat obat-obat apa yang ada dan bagaimana penerapannya, dan kemudian berlatih menerapkannya. Inilah mengapa Dalai Lama selalu menekankan pentingnya mengkaji dan mempelajari ajaran-ajaran Buddha—terutama yang menyangkut sains Buddha tentang cita dan filsafat Buddha.

Ketika kita terbiasa tidak sehat, kita perlu meyakini manfaat dari perombakan gaya hidup sebelum kita benar-benar akan membuat perubahan. Kebanyakan orang tidak akan memulai dengan penelitian mendalam tentang makanan bergizi dan latihan kebugaran, tapi lebih dulu akan mencoba diet dan olah raga. Tentu, mereka perlu petunjuk sebelum memulai, tapi begitu mereka merasakan hasil yang bermanfaat, mereka akan terdorong untuk mengkaji lebih dalam. Proses yang sama terjadi dengan usaha kita untuk memperoleh kesehatan perasaan. Begitu kita merasakan kesehatan dari latihan kehati-hatian, mudah untuk mengembangkan dorongan dan minat untuk belajar lebih banyak mengenai laku-laku Buddha untuk meningkatkan mutu hidup kita dan menjadi lebih berguna bagi orang lain.

Ringkasan

Buddha dulu pernah seperti kita—seorang manusia biasa, menjalani perjuangan hidup; dan sama seperti kita, ia juga ingin meningkatkan hidupnya, dan hidup orang-orang di sekelilingnya. Melalui mawas diri, ia kemudian menyadari bahwa terlepas dari hal-hal yang terjadi di sekeliling kita, kita memiliki kekuatan dan kemampuan untuk tetap tenang, hati-hati, dan mengendalikan perasaan-perasaan kita.

Ini – yang Dalai Lama sebut “kesehatan perasaan”– adalah sesuatu yang melampaui batas-batas budaya dan agama, karena ia mengarah ke inti dari apa yang kita semua dambakan : hidup bahagia, bebas dari masalah.