Teman yang Benar, Haluan Aman, Sila dan Kebebasan

Seloka 5 sampai 9

Tinjauan Ringkas

Kita telah melihat bahwa Togme Zangpo memulai syairnya dengan menyajikan pokok-pokok utama yang kita jumpai di dalam lam-rim, tingkat-tingkat bertahap dari sang jalan. Setelah menghaturkan sembah kepada Avalokiteshvara, dan berjanji untuk menulis naskah tersebut, ia bicara perihal pentingnya kehidupan manusia yang berharga, dan perlunya kita memanfaatkannya. Togme Zangpo menjelaskan berbagai unsur-sebab yang paling mendukung hal ini, yaitu meninggalkan kampung halaman dan bersandar pada kesendirian. Kemudian, karena kehidupan manusia yang berharga ini tidak berlangsung lama, maka mendesaklah bagi kita untuk segera memanfaatkannya. Untuk membantu kita menyadari kemendesakan ini, ia berbicara tentang kematian dan ketaktetapan.

Pentingnya Memiliki Teman yang Benar

Kita sekarang telah sampai di seloka 5, yang menyajikan pokok tentang pentingnya memiliki teman yang benar. Amat penting bagi kita untuk memiliki teman yang mendukung laku Dharma kita. Berhubungan dengan hal itu, kita perlu memahami mana teman yang menyesatkan, atau "teman yang buruk", dan mana yang betul-betul dapat menolong kita di atas jalan kerohanian kita.

(5) Laku bodhisattwa itu menjauhkan diri dari teman yang buruk, yang bila kita berhubungan dengan mereka, tiga perasaan beracun kita pun meningkat; tindakan menyimak, berpikir, dan bermeditasi jadi menurun; dan kasih dan welas asih kita pun sirna.

Teman yang buruk, atau teman yang menyesatkan, adalah orang-orang yang pada dasarnya, dengan iktikad baik, menyeret kita keluar dari laku Dharma. Mereka berkata, "Ayo, main sini saja," atau kadang dengan lebih blak-blakan, "Ngapain buang waktu bersujud-sembah, meditasi, atau mendengar ceramah Dharma?" Jadi, mereka ini bukan dasarnya jahat – saya rasa bukan itu maksudnya di sini – tapi mereka adalah orang-orang yang benar-benar tidak menganggap bernilai atau berharga hal yang sedang kita perbuat dengan jalan kerohanian kita, mungkin mengolok-oloknya, dan cuma mencoba membuat kita berpaling saja.

Seperti diungkapkan Togme Zangpo, bila kita berhubungan dengan mereka, tiga perasaan beracun kita pun meningkat. Bila kita bersama mereka, mereka merangsang naiknya emosi beracun kita yang pertama, yang mungkin berupa hasrat dan kemelekatan untuk main keluar, mabuk-mabukan atau teler karena madat, ikut-ikutan jenis hiburan tak bermakna dan seterusnya. Tentu saja, kadang perlu kita bersantai dan bersenang-senang. Namun, orang yang mendorong kita untuk melakukannya setiap saat, yang membuat kita tidak ada lagi waktu bagi jalan kerohanian kita, merupakan teman yang menyesatkan.

Saya punya murid yang pemadat betul, dan dia tinggal di apartemen yang sama dengan seseorang lain yang juga sama pemadatnya. Dia mencoba meninggalkan kebiasaan itu tapi sekeras apa pun dia mencoba berhenti, karena pengaruh teman sekamarnya yang merokok setiap saat dan terus-terusan mengajaknya, dia selalu saja kembali menghisap madat karena tidak ingin menolak ajakan teman sekamarnya.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memilih teman, khususnya kalau kita akan menghabiskan banyak waktu bersama mereka. Waktu mereka keluar dan tersulut marah dan kemudian bertengkar, kita ikut marah dan ikut bertengkar; dan ini meningkatkan perasaan beracun yang kedua, amarah. Mereka juga meningkatkan perasaan beracun ketiga, keluguan kita, karena kita lupa tentang segala akibat yang mungkin terjadi karena perilaku kita, dan kita cuma ikut saja apa pun perbuatan mereka. Karena itulah, seperti dikatakan Togme Zangpo, tindakan menyimak, berpikir, dan bermeditasi kita jadi menurun. Waktu kita semakin sedikit untuk mengikuti ajaran, untuk mengkaji, untuk merenungkan, untuk bermeditasi, dan kasih dan welas asih kita pun sirna.

Ada banyak jenis lain dari teman yang menyesatkan, mencelakakan. Misalnya, ada orang yang mengajak kita melakukan perbuatan seperti mencoret-coret dinding gedung-gedung, atau menggores mobil orang, dan tindakan semacamnya. Ada pula orang yang mungkin kerjanya menjelek-jelekkan orang lain, dan kemudian kita dengan amat mudahnya terpengaruh juga. Bila kita bersama orang yang terus bicara, berapi-api mengoceh soal politik dan kejelekan pemerintah, kita cenderung untuk jadi seperti itu juga.

Khususnya bila kita belum lagi mantap dalam laku Dharma kita, jenis-jenis orang yang kita jadikan teman itu jadi soalan yang penting sekali. Kalau kita punya teman yang menyesatkan seperti ini, seperti bunyi seloka tadi, kita perlu menjauhkan diri dari mereka. Bukan berarti kita berpikir buruk tentang mereka. Kita tetap menginginkan agar mereka bahagia dan tidak tak bahagia, tetapi kita tidak harus bergaul dengan mereka.

Persoalannya jadi sangat rumit ketika, contohnya, kita menikah dengan orang yang dapat digolongkan sebagai teman yang menyesatkan, apalagi kalau sudah ada anak. Jenis keadaan seperti itu sama sekali tidak mudah. Untuk tiap-tiap hubungan ini, perlu kita putuskan, apakah lebih bermanfaat kalau dilanjut, ataukah diputus? Hal utama yang patut diingat jika kita memang memutuskan untuk menjauh adalah melakukannya dengan baik-baik, dan bukan dengan niat buruk atau atas dasar rasa benci. Seandainyapun pasangan kita sangat benci dan marah kepada kita, setidaknya dari pihak kita, kita tidak membalas kebencian dan amarah tersebut.

Akan tetapi, saya rasa penting bagi kita untuk setidaknya mencoba bertahan di dalam hubungan semacam itu. Kemungkinan untuk berhasil tidak selalu ada, tapi kita bisa mencoba menjelaskan dan memeragakan bahwa melakukan berbagai kegiatan Dharma bukanlah sebuah penolakan terhadap orang lain. Akan tetapi, jika sebagian besar waktu yang kita habiskan dengan orang tersebut justru berbuah tindakan merusak (terus-terusan bertengkar dan saling maki) maka mungkin lebih bagus kita mempertimbangkannya lagi. Ini memang tidak gampang. Misalnya, bagaimana dengan si anak kalau dia jadi menyalahkan Dharma atas perpisahan orangtuanya? Itu akan sangat berdampak negatif untuk sikap mereka terhadap Dharma. Jadi kita perlu sangat berhati-hati dengan hal ini.

Jika selisih paham timbul akibat waktu yang dicurahkan untuk ajaran Buddha, maka saya rasa akan lebih bermanfaat, apabila mungkin, untuk meredakannya dengan tidak menyalahkan ajaran Buddha. Akan lebih membangun jika kita menjelaskan perpisahan tersebut terjadi karena perbedaan nilai atau pandangan, yang tidak kita perincikan sebagai ajaran Buddha. Seperti saya bilang, ini bisa berakibat buruk, bukan hanya bagi si anak, tapi juga bagi sikap pasangan kita terhadap Dharma. Kalau kita memberi unsur-sebab bagi seseorang untuk bersikap amat negatif terhadap Dharma, itu sungguh merupakan bencana bagi mereka. Malah, mau kita itu beragama Buddha, Hindu, atau agama dari Barat, atau apa pun, tidak ada bedanya. Itu bukan pokok perselisihannya. Bukan ajaran tertentu yang kita ikuti, tapi, pada dasarnya, perbedaan nilai dalam hal pentingnya kehidupan rohani.

(6) Laku bodhisattwa itu menyayangi pembimbing rohani kita yang kudus melebihi tubuh kita sendiri, yang kepadanya, dengan mempercayakan diri kita, kesalahan kita terkuras habis dan sifat baik kita meluas seperti rembulan.

Kata yang diterjemahkan di sini sebagai pembimbing rohani, jika dipahami secara lebih harfiah, maksudnya adalah 'teman rohani', orang yang merupakan kebalikan dari teman yang negatif tadi. Juga, kata 'rohani' sebetulnya tidak ada di situ. Frasa yang aslinya adalah 'teman untuk perilaku membangun', dengan kata 'membangun' kadang diterjemahkan sebagai 'bajik', yang berarti teman yang dengannya perilaku membangun kita semakin bertumbuh. Seisi hubungan tersebut bersifat membangun. Teman kita teman membangun, dan dengan berhubungan dengan mereka kita jadi lebih membangun dan positif pula.

Ini biasannya mengacu pada guru rohani yang unggul, yang membimbing kita di sepanjang jalan, memberi arahan, dan ilham kepada kita untuk bertindak dalam sikap Dharma yang membangun. Akan tetapi, saya rasa teman Dharma kita yang biasa pun perlu kita masukkan di sini. Tapi ini bukan berarti orang yang datang ke sanggar, dan kemudian sekelas dengan kita, dan kemudian nongkrong bareng sama kita sambil minum bir. Bukan seperti itu. Yang dimaksud di sini adalah orang yang mengajak, misalnya, untuk bermeditasi bersama, atau mengkaji atau membahas pokok bahasan Dharma yang ini atau yang itu. Orang seperti ini mendorong kita untuk jadi relawan, misalnya, memberi bantuan di rumah sakit atau dapur umum untuk para tunawisma.

Nah, di setiap jenis persahabatan, ada semacam hubungan karma, sehingga orang merasa nyaman bersama sahabatnya. Bisa jadi ada orang yang bilang ke kita, "Hei, ayo duduk dan meditasi bersama" atau "Mari kita bersujud-sembah bersama", dan entah bagaimana tetap terasa kurang klop. Mungkin kita merasa mereka ini sosok suci dan hal itu membuat kita jadi sangat tidak nyaman. Teman rohani yang sejati adalah orang yang bersamanya kita merasa nyaman dan tenang sekali. Saat kita mengerjakan hal yang membangun bersamanya, hal itu jadi pengalaman yang alami dan mengalir dengan indahnya.

Tentu saja, untuk seloka ini, penekanan utamanya ada pada pembimbing atau guru rohani. Mengenai guru rohani ini, seperti yang selalu diterangkan Yang Mulia Dalai Lama, kita jangan cuma memandang nama si guru saja. Ada banyak guru dengan gelar besar embel-embel dahsyat lainnya, tapi itu sama sekali tidak lantas berarti bahwa mereka guru yang mumpuni; kita senantiasa mesti memeriksa kemumpunian si guru. Di sini, yang dimaksud Yang Mulia adalah para tulku, atau lama yang terlahir kembali, yang mengemban gelar "Rinpoche". Tentu saja ada banyak dari mereka yang punya nama besar dari para pendahulunya, tapi tidak tekun dalam kaji dan laku di masahidup yang sekarang ini.

Kemudian, sekali pun guru itu sangat mumpuni, itu tidak lantas berarti bahwa ia cocok dengan kita. Lagi-lagi, kita harus melihat jenis hubungan karma yang kita punya dengan si guru. Anda merasa nyaman bersama mereka atau tidak? Walau guru rohani memberi kita keterangan mengenai Dharma, sebetulnya dari buku pun kita bisa mendapatkan hal yang sama. Mereka bisa menjawab pertanyaan kita, dan di titik ini buku tidak bisa, tapi pokok utama dari seorang guru adalah ilham yang diberikannya. Kenyataannya, sebagian besar guru rohani yang unggul itu banyak bepergian belakangan ini. Mereka punya banyak murid, dan agak sulit untuk mendapat banyak perhatian pribadi dari mereka. Sekali pun kita tidak punya hubungan yang amat dekat dengan seorang guru unggul, kita masih bisa memperoleh ilham yang luar biasa dari mereka. Selain itu, kita mesti berupaya untuk membangun hubungan yang dekat itu. Jangan sampai kita cuma menunggu saja guru itu datang ibarat jatuh dari langit. Agaknya tidak mungkin ada guru yang muncul lalu berkata, "Ah, mari sini, muridku, aku sudah menunggumu. Datanglah kepadaku."

Ketika kita mempercayakan diri kita kepada seorang pembimbing rohani yang kudus, seperti dikatakan Togme Zangpo, kesalahan kita terkuras habis. Kata "kudus" berarti orang yang amat dihormati dan, di sini kata "mempercayakan" merupakan sesuatu yang amat penting tapi tidak mudah dipahami. Sering kata tersebut diterjemahkan sebagai "bakti" (devotion), sebagaimana istilah bakti-guru (guru devotion), tapi saya dapati istilah ini amat sesat-pikir, karena setidaknya dalam bahasa Inggris istilah itu menyiratkan pemujaan terhadap guru secara membuta. Akan tetapi istilah ini sebetulnya merupakan kata kerja dan digunakan bukan untuk guru rohani saja, tapi juga untuk dokter. Dengan kata lain, kita mempercayakan diri kita pada pengasuhan/perawatan mereka. Yang disiratkan di situ adalah bahwa kita mempercayai mereka, setelah menelaah kemumpunian mereka dan merasa bahwa mereka cakap dan mampu menolong kita. Ketika kita sakit dan kita percaya pada dokternya, itu artinya kita mempercayakan diri kita pada perawatannya. Dengan kata lain, kita akan mengikuti arahan dokter agar dapat pulih. Demikian pula sikap kita dengan guru rohani. Kita tidak menyembah guru kita, sama seperti kita tidak menyembah dokter kita.

Ini jadi perkara yang rumit karena acapkali segala macam perasaan muncul terhadap guru rohani, dan kendati kita sangat mengasihinya, itu tidak berarti bahwa kita jatuh cinta padanya. Ketika hubungan kita dengan guru rohani itu sehat, perasaan yang muncul amat menggembirakan. Satu unsur keyakinan bulat terhadap guru kita adalah bahwa cita kita jadi bersih dari perasaan gelisah. Ini pokok yang sangat menarik. Perasaan kita jadi jernih sekali, dalam arti perasaan gelisah menenang, seperti air berlumpur yang mulai menggenang, sehingga tataran perasaan kita jadi tidak keruh. Tapi, jangan kita melekat kepada guru kita. Jangan ada hasrat merindu, merasa bahwa kita mutlak mesti bersama mereka. Kita tidak cemburu terhadap murid-murid yang lain. Kita tidak marah atau kecewa ketika guru kita tidak punya waktu bagi kita. Kita tidak jadi lugu dengan menganggap bahwa guru kita merupakan dewa yang tidak butuh untuk sesekali beristirahat, tidak butuh rasa nyaman, atau hal semacamnya.

Seperti dikatakan di naskah ini, kesalahan kita terkuras habis. Perasaan gelisah kita menenang dan, dengan mengikuti ajaran pembimbing rohani kita, kita mampu untuk perlahan-lahan menghilangkan kesalahan yang kita punya. Tentunya semua ini menyiratkan bahwa kita sudah sangat dewasa ketika kita mulai membina hubungan dengan seorang guru rohani. Jangan kita membayangkan bahwa sedari awal sekali si guru ini tiba-tiba memeragakan semacam sihir dan semua perasaan gelisah kita jadi tenang. Kita sendiri yang harus mencurahkan upaya dalam hubungan ini, dan itu jelas-jelas tergantung pada cukup dewasanya kita untuk membina sebuah hubungan yang sehat dengan guru rohani. Hubungan yang tidak sehat dapat berujung pada berbagai akibat yang merugikan.

Baris terakhir menggambarkan betapa sifat baik kita meluas seperti rembulan. Saat kita menggunakan waktu kita bersama si guru, kita mulai mengembangkan sifat-sifat baik kita. Kepribadian kita mulai membaik dengan membantu guru kita, menjadi orang yang baik hati, dan semacamnya. Sifat-sifat baik kita semakin bertumbuh. Lumrahnya, semakin kita mengikuti ajaran mereka, semakin bertumbuh pula kasih, welas asih, dan pemahaman kita.

Mengenai guru rohani kita, naskah ini menyatakan bahwa kita semestinya menyayangi mereka melebihi tubuh kita sendiri, tapi apa itu maksudnya? Di satu tingkat pemahaman, ini artinya kita mendahulukan kenyamanan mereka ketimbang kenyamanan ragawi kita. Kita bersedia membantu mereka dan khususnya membantu mereka agar mampu menolong yang lain, sekali pun kita sangat letih dan sungguh tidak nyaman bagi kita untuk berbuat demikian. Waktu masih bersama guru saya Serkong Rinpoche, sudah biasa kalau saya harus sering-sering turun dari Dharamsala ke Delhi untuk mengambil semua visa untuk perjalanannya. Ini tugas yang tidak menyenangkan sekali. Tapi begitu pun, saya senang mengerjakannya, karena itu membantunya agar mampu menolong yang lain. Kita mengesampingkan ketidaknyamanan ragawi kita dalam melakukan hal-hal tersebut.

Haluan Aman (Perlindungan)

Di seloka 7, Togme Zangpo menggambarkan betapa kita dapat memanfaatkan kehidupan manusia kita yang berharga ini. Dalam lingkung lingkup awal dorongan lam-rim di lam-rim, tujuan kita adalah memperbaiki kehidupan selanjutnya. Pertama-tama, kita perlu berhaluan aman dalam hidup kita, yang juga dikenal dengan berlindung. Ini merupakan landasan bagi semua tingkat laku Buddha.

(7) Laku bodhisattwa itu berhaluan aman dari Permata Unggul, dengan mencari perlindungan darinya yang tidak pernah menipu kita – karena siapa yang dapat dilindungi para dewa dunia jikalau mereka sendiri masih terkurung di dalam penjara samsara?

Saya lebih suka menggunakan istilah "haluan aman" ketimbang "perlindungan", karena perlindungan itu tampak sedikit terlalu pasif. Ketika kita berlindung, terdengar seakan kita tinggal diam saja di bawah perlindungan orang lain, padahal tidak seperti ini maksudnya. Sebetulnya, kita melakukan hal yang sangat giat, dengan menempatkan suatu haluan aman dalam hidup kita, dan haluan aman tersebut ditunjukkan oleh Tiga Permata Unggul. Yang dimaksud dengan Tiga Permata, atau Tiga Permata yang Langka dan Unggul, adalah Buddha, Dharma, dan Sangha.

Dharma adalah hal utama yang kita tuju. Permata Dharma yang sesungguhnya memadukan kebenaran mulia yang ketiga dan keempat di atas kesinambungan batin semua makhluk berkesadaran tinggi, atau arya, sampai ke seorang Buddha. Inilah yang sesungguhnya memberi arah kepada kita. Mereka telah mencapai tataran yang ada di kesinambungan batin mereka ini, di mana sebagian (untuk makhuk terbebaskan) atau semua (untuk seorang Buddha) kekaburan, perasaan gelisah, dan ketaksadaran sirna selamanya. Itulah penghentian sejati, kebenaran mulia yang ketiga. Kebenaran mulia yang keempat menyajikan cita jalan sejati yang membimbing kita menuju kebebasan dan pencerahan. Semua tataran cita ini merupakan pemahaman atas empat kebenaran mulia secara umum, atau sunyata secara khusus. Semuanya memunculkan penghentian sejati, dan juga merupakan hasil dari penghentian sejati. Inilah arah yang ingin kita tuju. Kita ingin mencapai penghentian sejati dan jalan sejati tersebut. Itulah haluan aman yang kita ambil.

Sangha di sini sebetulnya tidak mengacu pada para anggota sanggar Dharma; memaknai istilah ini dengan cara demikian merupakan temuan Barat. Permata Sangha mengacu pada semua arya, mereka yang memiliki pengetahuan nircitrawi atas sunyata, dan yang karenanya telah memperoleh sebagian, tapi tidak mesti semua, penghentian sejati dan cita jalan sejati. Baik itu mereka orang wihara atau orang awam tidak jadi masalah.

Tiga Permata sebab adalah Buddha, Dharma, dan Sangha, sebagaimana telah kita jelaskan di sini. Sekali lagi, mereka yang telah mencapai penghentian sejati dan cita jalan sejati inilah yang berlaku sebagai sebab yang mengilhami kita untuk menapaki jalan ke arah ini. Tetapi, kita juga bisa mengambil apa yang disebut dengan "arah akibat", yakni haluan aman dari Tiga Permata yang akan kita peroleh sendiri ketika kita menjadi seorang arya dan melanjutkan langkah untuk menjadi Buddha.

Ketika Togme Zangpo menyatakan, dengan mencari perlindungan darinya, '-nya' di sini mengacu pada mereka. Kita tidak pernah ditipu oleh Tiga Permata, tapi bagaimana sebetulnya mereka melindungi kita? Lagi-lagi, penekanannya di sini bukanlah bahwa ada sosok maha kuasa yang melindungi kita, dan yang tinggal kita lakukan adalah membuka dan menyerahkan diri pada perlindungan mereka, maka kita diselamatkan. Akan tetapi, ketika kita berupaya mencapai semua penghentian sejati dan cita jalan sejati ini, kita akan terlindungi dari duka. Dengan kata lain, pada akhirnya kitalah yang melindungi diri kita sendiri. Kita tidak akan pernah ditipu, karena kalau kita betul-betul mencapai penghentian sejati dan cita jalan sejati ini, seperti para Buddha dan arya, maka tataran ini akan melindungi kita dari duka. Kita berhasil menyingkirkan sebab-sebab duka selamanya.

Sebaliknya, para dewa duniawi tidak mampu memberi pertolongan seperti itu kepada kita. Seperti ditanyakan di dalam naskah, karena siapa yang dapat dilindungi para dewa duniawi jikalau mereka sendiri masih terkurung di dalam penjara samsara? Kalau dewa-dewa duniawi, atau mungkin dewa masa kini alias uang, semua hal seperti ini tidak bisa betul-betul melindungi kita dari apa pun. Kita tahu bahwa orang yang kaya raya seringnya malah tambah sengsara justru saat uang mereka semakin banyak. Mereka khawatir tentang cara menanamkan uang tersebut dan cara menghindari kewajiban bayar pajak yang tinggi, dan mereka juga mungkin selalu khawatir kalau-kalau uangnya dicuri. Mereka curiga bahwa orang menyukai mereka hanya demi uangnya saja, bukan karena diri mereka. Sungguh mencengangkan betapa banyak orang kaya raya yang hidupnya tidak bahagia. Jelas, dewa-dewa dunia ini tidak dapat melindungi kita karena mereka masih terkurung di dalam penjara samsara. Mereka masih terbelenggu dan terhubung dengan segala macam perasaan gelisah, dan sebab bagi semakin kuatnya perasaan gelisah kita sendiri.

Pada lingkup dorongan awal, tujuan utama kita adalah memperbaiki kehidupan selanjutnya. Bukan berarti kita mau masuk surga atau semacamnya, tapi untuk terus dapat memiliki kelahiran kembali sebagai manusia yang berharga sampai kita memperoleh kebebasan dan pencerahan. Selalu dikatakan bahwa garis pembeda antara orang yang rohaniah dan orang yang bukan adalah mereka berupaya demi kehidupan selanjutnya atau tidak. Inilah garis pembedanya dalam kerangka Dharma, tapi tentu saja banyak agama mengajarkan upaya demi kehidupan baka di surga, dan itu bukan secara khusus ajaran Buddha. Agar sesuai dengan Buddha, kita perlu menempatkan citra kehidupan selanjutnya ini pada lingkung haluan aman.

Yang sesungguhnya kita tuju adalah kebebasan dan pencerahan, atau lebih persisnya, penghentian sejati dan cita jalan sejati. Kita ingin terus memiliki kehidupan manusia yang berharga sebagai batu loncatan untuk mampu mencapai penghentian sejati dan cita jalan sejati ini, demi meraih kebebasan dan pencerahan pada akhirnya. Jadi bukan laku rohani supaya bisa masuk surga. Kecuali kita memiliki dorongan awal ini, kita tidak bisa betul-betul tulus dalam keinginan kita akan pencerahan, karena kecil sekali kemungkinan untuk dapat memperoleh kebebasan dan pencerahan di dalam masahidup yang sekarang ini. Butuh waktu lama sehingga kita butuh banyak kelahiran kembali sebagai manusia yang berharga.

Untuk berupaya demi kelahiran kembali sebagai manusia yang berharga, kita pastinya mesti yakin benar pada kelahiran kembali, karena kalau tidak maka bagaimana mungkin kita bisa mengarungi jalan menuju kebebasan dari kelahiran kembali, yang menjadi inti dari kebebasan itu sendiri? Kita menginginkan kebebasan dari kelahiran kembali yang berulang tanpa terkendali, sehingga kita harus bekerja keras untuk memahami ajaran Buddha tentang kelahiran kembali. Ini semua tidak sederhana, sangat rumit malah. Semuanya tergantung pada pemahaman kita atas cara diri mengada dan cara sebab dan akibat berlaku. Tanpa pemahaman, setidaknya sampai tingkat tertentu, akan sunyata (kekosongan) akan "aku" dan sebab dan akibat, maka sukar sekali untuk memahami inti dari ajaran Buddha tentang kelahiran kembali.

Menahan Diri dari Perilaku Merusak

Guna memastikan bahwa kehidupan kita selanjutnya merupakan kelahiran kembali sebagai manusia yang berharga, kita perlu memperhatikan sebab dan akibat, khususnya dalam kerangka perilaku kita. Menanggapi hal ini, Togme Zangpo berbicara soal menahan diri dari perilaku merusak:

(8) Laku bodhisattwa itu tiada pernah berbuat tindakan buruk, sekalipun nyawa taruhannya, karena sang Bijak Pandai telah menyatakan bahwa duka teramat sulit untuk ditanggung dari aneka tataran buruk kelahiran kembali adalah akibat dari tindakan buruk.

Seloka ini tentang karma, yang tentu saja sudah merupakan pokok bahasan yang amat rumit, tetapi kita bisa ambil pemahaman umumnya di sini. Saat kita bertindak secara merusak, muncul ketakbahagiaan, dan saat kita bertindak secara membangun, muncul kebahagiaan. Secara khusus, yang harus kita lakukan untuk memastikan kita tidak terlahir kembali di dalam tataran kelahiran kembali yang lebih buruk adalah menahan diri dari tindakan merusak. Bertindak merusak itu membina daya negatif yang besar sekali pada kesinambungan batin kita dan daya negatif ini berujung pada keadaan kelahiran kembali yang lebih buruk, dan kita sulit untuk lolos dari keadaan itu.

Apa yang dimaksud dengan tindakan buruk atau tindakan merusak di sini? Apa yang menjadi kebalikannya? Apa yang membangun? Cara menjelaskannya adalah bahwa perilaku membangun itu berarti menahan diri dari perilaku merusak, yang perlu kita pahami secara menyeluruh. Kita mungkin sama sekali tidak suka berburu atau memancing, dan karenanya kita tidak pernah pergi berburu atau memancing, misalnya. Dalam contoh ini, sekadar tidak berburu dan memancing tidak betul-betul berarti menahan diri dari suatu jenis tindakan merusak, sekali pun kita tidak melakukan tindakan tersebut. Akan tetapi, yang diacu di sini adalah ketika ada nyamuk berdengung di sekeliling kepala kita dan kita mau membunuhnya, kita menahan diri dan tidak melakukannya karena kita ingin menghindari ganjaran karmanya. Kita pikirkan daya negatif yang terbina lewat tindakan menanggapi sesuatu yang membuat kita jengkel dengan ingin memusnahkannya saja. Perilaku membangun adalah tindakan menahan diri untuk tidak membunuh dan mencari penyelesaian yang lebih damai untuk mengeluarkan nyamuk itu dari kamar kita.

Saya kira kita semua dapat mengerti bahwa jenis perilaku membangun yang ini jauh lebih sukar dibanding yang lain – seperti, misalnya, kalau kita tidak suka kue sama sekali, atau kalau kue yang disajikan tidak menggugah selera kita. Mudah saja untuk tidak memakan kue itu, karena kita memang tidak mau. Tapi kalau kue yang disajikan itu tampak sangat lezat, kue kesukaan kita, maka menahan diri untuk tidak memakannya, karena mungkin kita sedang diet atau semacamnya, jadi jauh lebih sulit, dan jadi jauh lebih membangun pula kalau kita mampu melakukannya.

Jadi, perilaku membangun itu menahan diri dari tindakan negatif ketika kita ingin bertindak secara negatif, ketika itulah memang kebiasaan atau kecenderungan yang kita punya. Kita tidak melakukannya, karena kita memikirkan semua ganjaran negatif dalam hal karma, pengalaman kita berikutnya, bukan cuma karena "Aku ingin jadi umat Buddha yang baik", tapi karena kita memikirkan ganjaran yang akan kita alami sendiri di masa depan.

Nah, kita sering melihat susunan kata seperti ini di berbagai naskah, tiada pernah berbuat tindakan buruk, sekalipun nyawa taruhannya, tapi saya harus katakan bahwa ini sulit untuk diterima! Kalau kita pikirkan, bagaimana kita mau menghadapi keadaan seperti itu? Saya tinggal di Jerman dan kadang saya berdiskusi dengan teman-teman Jerman saya. Apa yang akan kami lakukan, misalnya, kalau kami masuk dalam kelompok usia wajib militer di masa Hitler, dan kalau kami tidak patuh kami akan ditembak mati? Kalau Anda, apa yang akan Anda lakukan? Ini persoalan hidup dan mati. Ini tidak seperti Amerika Serikat semasa Perang Vietnam; orang bisa saja lari ke Kanada untuk menghindari wajib militer. Di Jerman masa Nazi, Anda akan ditembak kalau menolak masuk tentara, jadi apa yang akan Anda perbuat? Saya rasa kita perlu betul memikirkan hal seperti itu dengan sungguh-sungguh saat melihat sekali pun nyawa taruhannya. Memang tampak luar biasa, tapi sanggupkah kita melakukannya? Saya tidak tahu.

Sebagian orang tentu saja sangat beruntung karena ketika mereka masuk ke tentara Nazi mereka jadi juru masak. Memang harus ada orang yang mengerjakan tugas-tugas seperti memasak, mencuci pakaian, dan lainnya. Tentu, ketika menembak musuh, seorang prajurit bisa sengaja membidik agak asal-asalan dan tembakannya meleset. Tapi kemudian ada risiko bahwa pihak lain yang menembaki prajurit ini tidak berpikiran sama dengannya, dan mereka membidik dengan sungguh-sungguh. Sekali lagi, kendati ini semua kesempurnaan yang luar biasa, saya rasa kita perlu menilai diri kita dengan sungguh-sungguh mengenai hal ini. Kalau kita mampu menghindari tindakan negatif berat sekali pun dengan taruhan nyawa, itu berarti kita bersedia untuk benar-benar mengorbankan hidup kita, dan itu pencapaian yang luar biasa.

Kita tentu melihat ada orang yang bersedia mati dan bersedia disiksa demi asas yang mereka anut. Contoh yang melintas di benak saya adalah para biksu dan biksuni yang bersedia menanggung siksaan dan 20 atau 30 tahun kurungan di kamp konsentrasi karena mereka tidak mau mencela Yang Mulia Dalai Lama. Hal-hal semacam inilah yang dimaksud di sini. Apa kita memiliki kekuatan prinsip untuk jadi seperti itu? Inilah pertanyaan untuk yang di Barat sini kita sebut "mencari jiwa"!

Berupaya Menuju Kebebasan

Seloka kesembilan membawa kita ke tingkat dorongan menengah di dalam lam-rim, yakni berupaya menuju kebebasan:

(9) Laku bodhisattwa itu sungguh-sungguh meminati tataran kebebasan unggul yang tiada pernah berubah, karena kenikmatan tiga mayapada keberadaan gandrung merupakan peristiwa yang musnah dalam sekejap mata, seperti embun di ujung helai rumput.

Istilah "keberadaan gandrung" mengacu pada samsara: keberadaan kita yang berkelanjutan dengan kelahiran kembali yang berulang tanpa terkendali Terdapat tiga mayapada tempat kita dapat terlahir kembali: (1) mayapada benda-benda indrawi yang diidamkan, (2) mayapada rupa-rupa halus, dan (3) mayapada makhluk arupa, makhluk-makhluk yang tidak memiliki raga kasar dan yang berdiam di dalam kerasukan meditatif yang amat mendalam.

Bagi sebagian besar kita, cukup sulit untuk memikirkan semua mayapada keberadaan ini dan berbagai jenis kelahiran kembali yang mungkin terjadi ini. Kita kesulitan memahami makhluk-makhluk yang terjebak di dalam alam tanpa sukacita, dengan kata lain makhluk neraka, atau hantu penasaran. Alam-alam lain itu mencakup makhluk melata atau binatang, makhluk ilahi atau makhluk langit, para dewa, dan kemudian makhluk semu-ilahi, yang disebut "anti-dewa" yang iri, bertengkar, dan ingin menjadi dewa. Saya rasa salah satu cara yang membuat ini semua sedikit lebih dapat dimengerti adalah dengan memikirkan kisaran pengalaman yang bisa kita miliki.

Misalnya, dalam hal penglihatan, sebagai manusia kita hanya dapat melihat sebagian tertentu saja dari kisaran cahaya. Kita tidak dapat melihat sinar ultraviolet, infra merah dan sebagainya, tapi mungkin rupa kehidupan yang lain bisa. Misalnya, banyak jenis hewan yang dapat melihat di dalam gelap sekali pun kita tidak bisa. Mengenai pendengaran, kita hanya bisa mendengar bunyi dengan kisaran tertentu, sementara anjing dapat mendengar bunyi yang jauh lebih tinggi dari kita. Perumpamaannya, kalau kita melihat kisaran kebahagiaan dan ketakbahagiaan, rasa sakit dan nikmat, maka kita akan dapati bahwa sebagai manusia, ketika rasa sakit atau duka mencapai tingkat tertentu, kita jadi tidak sadarkan diri, dan ketika rasa nikmatnya mencapai puncak tertingginya, kita menghancurkannya. Rasanya seperti saat mendekati kenikmatan orgasme yang dahsyat, Anda memburu untuk meraihnya, yang pada dasarnya sama dengan menghancurkan atau mengakhirinya. Kalau kita selidiki rasa gatal dan meneaahnya dengan objektif, kita dapati bahwa sebetulnya gatal itu rasa nikmat, bukan rasa sakit. Gatal adalah rasa nikmat yang amat kuat, tapi karena berlebihan kuatnya, kita menggaruknya. Kita harus menghancurkannya.

Kalau ada rupa kehidupan yang dapat mengalami bagian lain dari kisaran cahaya dan bunyi, mengapa tidak bisa ada juga rupa kehidupan yang mampu mengalami titik-titik yang lebih jauh dari kisaran rasa sakit dan nikmat dan kebahagiaan dan ketakbahagiaan? Malah, aliran-cita dari setiap makhluk itu mampu sekali untuk mengalami keseluruhan kisaran kebahagiaan, ketakbahagiaan, rasa nikmat, dan rasa sakit. Hanya masalah di rupa kehidupan yang mana kita terlahir kembali saja lah yang akan menentukan bagian kisaran mana yang akan kita alami di masahidup tersebut. Saya rasa pokok penting dari berbagai rupa kehidupan lain ini bukanlah pada di mana letaknya dan seperti apa tampaknya, yang sebetulnya hanya bersifat sekunder dan agak remeh saja. Pokok pentingnya bukan pada sekadar sebatas tataran kejiwaan manusia saja, tapi menyadari bahwa cita itu mampu mengalami titik yang lebih jauh dari skala rasa nikmat dan sakit atau kebahagiaan dan ketakbahagiaan dibanding yang mampu dilakukan perangkat manusia kita.

Pokok pentingnya di sini adalah bahwa kita ingin terbebas dari semua itu, karena terlepas dari bagian mana dari kisaran rasa nikmat dan sakit itu, atau kebahagiaan dan ketakbahagiaan yang kita alami itu, itu semua tidak akan langgeng. Kecuali kita ini seorang arhat, semua rupa kehidupan dan pengalaman ini timbul dari kebingungan, dan hanya akan membawa lebih banyak kebingungan lagi saja. Karena sifat samsara yang swa-lestari inilah, pengalaman kita akan rasa nikmat dan rasa sakit, kebahagiaan dan ketakbahagiaan ini terus naik dan turun setiap waktu tanpa keamanan dan kepastian sama sekali. Yang kita inginkan adalah tataran kebebasan yang tiada berubah, yang tidak akan berganti. Dengannya, kita akan selalu memiliki jenis kebahagiaan yang tidak bercampur dengan kebingungan, yang tidak akan naik dan turun.

Dalam berupaya menuju kebebasan, akan sangat bermanfaat kalau kita menyadari bahwa semua rasa nikmat yang kita jumpai di tiga mayapada keberadaan gandrung ini merupakan, seperti dikatakan Togme Zangpo, peristiwa yang musnah dalam sekejap mata, seperti embun di unjung helai rumput. Semua kenikmatan ini tidak pernah langgeng, kita tidak pernah tahu apa yang akan datang berikutnya, dan semua itu tidak pernah sungguh-sungguh memuaskan kita. Untuk memperoleh kebebasan, kita perlu menyingkirkan ketaksadaran yang selalu ada pada kita ini, kebingungan kita ini. Kalau kita menyingkirkannya, maka kita akan menyingkirkan perasaan dan sikap gelisah yang timbul daripadanya, dan kita tidak akan pernah lagi menggiatkan kecenderungan dan daya karma kita. Kita tidak lagi membina kelanjutan karma dengan bertindak secara gandrung atau mendesak, dan kita tidak lagi mengalami "kebahagiaan bernoda" atau ketakbahagiaan yang matang dari daya karma.

Untuk menyingkirkan ketaksadaran tersebut dan memperoleh kebebasan, kita perlu mengikuti tiga latihan tinggi. Yang pertama adalah latihan sila. Menahan cita itu lebih sukar, jadi kita mulai dengan menahan raga dan wicara kita terlebih dahulu. Akan tetapi, kalau kita setidaknya bisa menahan raga dan wicara kita dari tindakan merusak, itu sudah memberikan kita kemampuan untuk menahan cita kita dengan daya pemusatan yang lebih kuat. Dengan daya pemusatan tinggi kita berupaya untuk mengendalikan kelana batin kita, ketumpulan kita, dan seterusnya.

Tentu saja, juga penting bagi kita untuk mencoba menahan diri dari perilaku batin merusak seperti berpikir dengan tamak, "Aku harus dapatkan hal yang setiap orang lain punya." Ketamakan itu mencakup tindakan merangkai cara untuk mendapatkan yang kita inginkan. Kita juga perlu menahan diri dari pikiran jahat, merangkai cara untuk membalas dendam. Tentunya, kalau kita dapat menahan diri dari semua ini, kita jadi terbantu dalam menahan diri dari segala jenis kelana batin. Begitupun, sisi batin ini jauh lebih sukar dibanding yang sifatnya ragawi atau yang berkaitan dengan wicara. Dengan bersandar pada latihan daya pemusatan yang lebih tinggi, kita dapat daya pemusatan tersebut pada kesadaran pembeda yang lebih tinggi. Dengan kata lain, kita kemudian mampu memusat pada sunyata (kekosongan), yang akan menyingkirkan ketaksadaran itu selamanya.

Pertanyaan

Menurut ajaran Buddha, mengapa dari satu kehidupan ke kehidupan berikutnya kita tidak dapat mengingat hal-hal yang telah kita pelajari di kehidupan sebelumnya tentang kaji kerohanian dan sebagainya yang akan membuat laku kita jadi lebih ampuh?

Baik, pertama-tama, ada orang yang mampu mengingat hal-hal tertentu. Hal utama yang kita bawa serta adalah kecenderungan yang amat kuat, dan kalau kita banyak berlatih maka kebiasaan yang kuat akan tercipta sehingga di kelahiran kembali sebagai manusia yang berikutnya, akan jadi sangat mudah untuk berjumpa dengan Dharma lagi. Ketika kita belajar lagi, yang ada itu seperti mengingat kembali saja. Dengan kata lain, kita pernah diberi tahu sekali dan kita langsung tahu, kira-kira seperti itu. Guru saya Serkong Rinpoche merupakan salah satu guru Yang Mulia Dalai Lama, dan ia bercerita kepada saya bahwa, dalam setiap pelajaran yang diterima Yang Mulia, tidak pernah sekalipun suatu hal harus diulang dua kali. Yang perlu dilakukan cuma memberi tahunya sekali dan dia langsung tahu.

Mungkin kita bisa lebih mudah memahami pengalaman ini kalau kita pernah mempelajari suatu bahasa waktu kita masih kecil atau belia, tapi kita tidak pernah lagi menggunakannya di hampir sepanjang hidup kita. Misalnya, saya pernah belajar bahasa Mandarin waktu muda dulu tapi sudah 40 tahun ini saya berhenti mempelajarinya. Saya dulu cukup fasih, tapi sekarang ini saya hampir tidak bisa mengingat kosakatanya. Tapi orang cukup memberitahu saya kata Mandarin untuk suatu hal dan saya akan mengingat dan mengetahuinya. Untuk sebagian besar kita, itulah hal terbaik yang bisa kita harapkan. Tentu saja, ada sebagian lama unggul yang, tanpa diajari apa pun, dapat mengingat dan mendaraskan sesuatu yang ia ingat dari kehidupannya yang lampau, tapi ini sangat langka.

Banyak dari kita orang-orang Barat yang tampaknya berjumpa dengan Dharma saat kita sudah berada di usia yang cukup tua. Tentu saja akan sangat baik kalau ada waktu untuk mempelajari dan memahami terlebih dahulu berbagai pokok bahasan dan penjelasan yang ada dan kemudian memeditasikannya, tapi seringnya kita terdesak kebutuhan untuk menghadapi badai perasaan di dalam cita kita dan kita tidak memiliki kemampuan untuk mengatasinya. Kita kemudian jadi tidak sungguh-sungguh memahami berbagai hal yang disajikan di dalam ajaran, dan tidak ada hubungan pula dengan guru-gurunya. Bagaimana kita menghadapi keadaan ini?

Dewasa ini, terdapat lebih banyak buku yang tersedia dibanding 40 atau 50 tahun yang lalu. Sekali pun tidak ada guru, ada berbagai buku bagus untuk dibaca. Di atas semua ini, kita sekarang punya internet dan situs web seperti yang satu ini yang menyediakan banyak ajaran dan berkas audio untuk disimak di dalam beraneka ragam bahasa.

Tentu saja jumlah bahan terbesar tersedia dalam bahasa Inggris, jadi kalau kita tidak memahaminya, mungkin bagus kalau kita mau mempelajari bahasa tersebut. Tetap saja, terdapat lebih banyak bahan lagi yang tersedia dalam bahasa Tibet, jadi penutur bahasa Inggris pun sebetulnya masih ketinggalan. Tentunya, kalau kita bersungguh-sungguh kita perlu mencurahkan daya upaya kita agar bisa memperoleh pencerahan. Salah satu unsur dari upaya tersebut mungkin berupa belajar bahasa lain.

Dengan Dharma, kita mencoba melatih kepribadian kita, dan salah satu hal besar yang harus kita bangun adalah kegigihan untuk bekerja keras. Kebebasan dan pencerahan itu sama sekali tidak gampang, tidak pula keduanya akan disuapkan kepada kita. Kalau kita lihat riwayat hidup dari para guru besar rohani Tibet dan India yang mana saja, kita akan ketahui bahwa mereka semua menjalani masa-masa sukar yang luar biasa untuk bisa belajar Dharma. Jadi kenapa harus beda dengan kita?

Orang-orang Barat cenderung punya rasa harga-diri yang rendah, dan kita jadi lesu semangat. Karena ini, akan sangat berguna kalau mereka diberi semangat, seperti ajaran-ajaran "Kau bisa melakukannya!" tentang sifat-Buddha. Tapi ini jadi tidak bermanfaat kalau ia mengerdilkan jumlah kerja keras yang dibutuhkan untuk meraih kebebasan dan pencerahan. Seperti itulah adanya! Perasaan gelisah dan kebiasaan negatif kita sudah begitu kuatnya dan kita bisa melihatnya sendiri kalau mau jujur. Tidak ada jalan keluar yang gampang. Kita ini betul-betul beruntung sekarang karena kita tidak harus berjalan kali dari Tibet ke India untuk bisa mendapatkan ajaran; kita cukup menyalakan komputer dan menghubungkannya ke internet. Kalau Anda lihat ini, maka sudah tidak ada lagi alasan!

Riwayat hidup Marpa, sang penerjemah, merupakan salah satu cerita paling mengilhami. Waktu itu Marpa pertama sekali ke India dan dia telah mempelajari bahasanya dan menerjemahkan banyak sekali teks. Ia tengah dalam perjalanan pulang ke Tibet dengan membawa semua hasil terjemahannya dan saat ia menyeberangi Sungai Gangga, perahunya terbalik. Ia kehilangan semua terjemahannya, dan terpaksa kembali dan mengerjakannya lagi dari nol. Dan Marpa melakukannya. Jadi kalau hard-drive kita rusak, ingatlah tentang Marpa!

Top