Pertanyaan tentang Hubungan dengan Guru Spiritual

Sembilan Sikap yang Harus Dipegang terhadap Diri Sendiri dalam Hubungan Kita dengan Guru Rohani

Bolehkah Rinpoche memberikan beberapa nasihat tentang bagaimana kita seharusnya mendekati guru dan pembelajaran Dharma kita?

Sutra-sutra menggambarkan sembilan jenis sikap yang harus dipegang terhadap diri kita sendiri dalam hubungan kita dengan guru rohani kita:

  • Pertama, kita harus menjadi seperti anak yang taat, seperti seseorang yang akan mendengarkan orang tua mereka dan melakukan apa yang mereka katakan dan tidak bertindak dengan cara apa pun. Inilah yang dimaksud dengan taat.
  • Sikap kedua adalah sikap seperti vajra. Vajra atau dorje adalah alat ritual yang memiliki beberapa cabang yang menyatu dengan sebuah cabang pusat. Demikian juga, kita harus merasa menyatu dengan guru spiritual kita sehingga tidak ada yang dapat menghalangi kita, tidak peduli apa pun yang terjadi atau apa pun yang dikatakan orang.
  • Sikap ketiga yang harus kita miliki adalah bersikap rendah hati seperti seorang pelayan. Dengan kata lain, kita harus bersikap seperti seorang pelayan yang dengan penuh hormat melayani orang yang dilayaninya, dan tidak berpikir untuk menjadi lebih baik dari orang tersebut. Kita tidak boleh merasa bahwa kita lebih tahu dan lebih baik daripada guru kita; melainkan, kita harus memiliki sikap seperti seorang pelayan yang rendah hati.
  • Keempat, kita harus mantap seperti gunung. Gunung tidak dapat digerakkan; ia tidak dapat dibuat untuk mengalah. Demikian pula, sikap hormat, penghargaan, dan keyakinan kita terhadap guru rohani kita haruslah seteguh gunung.
  • Sikap kelima adalah bersikap menerima seperti bumi. Bumi dapat menopang apa saja dan dapat menjadi fondasi atau dasar di mana segala sesuatu dapat dibangun. Demikian pula, sikap kita terhadap guru spiritual haruslah sama reseptif dan terbukanya seperti tanah. Semua kesadaran dapat dibangun di atas penerimaan ini, seperti halnya segala sesuatu dapat dibangun di atas tanah.
  • Keenam adalah menjadi seperti sebuah kapal feri. Sebuah kapal feri dapat bolak-balik menyeberangi sungai berkali-kali dan tidak merasa lelah. Demikian pula, kita harus bersedia menanggung segala kesulitan dalam menjalankan laku Dharma, seperti halnya perahu feri yang bersedia bolak-balik.
  • Sikap ketujuh adalah menjadi seperti gerobak. Sebuah gerobak mampu membawa segala jenis muatan yang dimasukkan ke dalamnya. Ia dapat membawa emas dan perak, tetapi juga dapat membawa beban yang sangat kotor. Dengan kata lain, apa pun yang menghampiri kita dalam hal hubungan ini, kita harus mampu mendukung dan memikulnya. Kita tidak boleh merasa bahwa guru spiritual bertindak baik terhadap murid ini dan tidak bertindak baik terhadap kita. Itu adalah jenis sikap yang seharusnya tidak kita miliki. Kita seharusnya menjadi seperti gerobak yang menopang apa pun yang dimasukkan ke dalamnya.  
  • Kedelapan, kita harus memiliki sikap seperti seorang tukang sapu. Di India, tukang sapu adalah seseorang yang melakukan pekerjaan yang tidak menyenangkan, seperti membersihkan toilet. Kita harus bersedia melakukan apa pun yang diperlukan untuk membantu guru kita, sekalipun itu pekerjaan yang biasanya kita anggap tidak menyenangkan.
  • Sikap kesembilan adalah seperti seekor anjing. Ketika seekor anjing didisiplinkan atau dibentak oleh tuannya, anjing itu menerimanya dan tetap mengibaskan ekornya. Seekor anjing tetap menyukai tuannya, tidak peduli seberapa banyak tuannya mendisiplinkannya. Demikian juga, kita harus memiliki jenis sikap ini ketika kita mendisiplinkan diri kita sendiri.

Inilah sembilan jenis sikap yang harus kita miliki terhadap guru spiritual kita, seperti yang dijelaskan dalam sutra.

Bersandar dengan Benar pada Guru Rohani (Bakti Guru)

Kita dapat mengetahui semua pokok bahasan tentang sikap-sikap yang perlu kita miliki untuk bersandar secara tepat pada seorang guru rohani jika kita membaca riwayat hidup tentang bagaimana Milarepa membaktikan dirinya pada Marpa, bagaimana Marpa membaktikan dirinya pada gurunya, Naropa, dan bagaimana Naropa membaktikan dirinya pada gurunya, Tilopa. Kenyataan bahwa mereka semua mampu mencapai pencerahan dalam masa hidup mereka adalah karena mereka bersandar dengan kuat dan benar pada guru-guru rohani mereka.

Sutra Prajnaparamita yang terdiri dari 8.000 seloka menceritakan kisah dari seorang murid, Sadaprarudita. Terjemahan harfiah dari namanya adalah "orang yang selalu menangis". Diceritakan bahwa para Buddha dan Bodhisattwa menampakkan diri kepadanya di langit dan meramalkan bahwa gurunya akan disebut Dharmodgata. Sadaprarudita berpikir bahwa jika bodhisattwa ini, Dharmodgata, akan menjadi gurunya, maka ia harus memiliki sesuatu yang pantas untuk dipersembahkan kepadanya sebagai persembahan. Akan tetapi, ia sangat miskin. Jadi, untuk mengumpulkan dana, ia pergi ke jalan-jalan dan berkata kepada orang-orang, "Di sini, aku hanya memiliki tubuhku. Adakah yang mau membeli jasa tubuhku untuk melakukan pekerjaan jasmani apa pun yang Anda inginkan? Aku harus memberikan persembahan kepada guru spiritualku." Ia menjual kekuatan jasmaninya seperti ini.

Indra, raja para dewa, menyadari bahwa muridnya menjual dirinya dengan cara ini dan memutuskan untuk menguji ketulusannya dengan menjelma sebagai seorang brahmana. Ia menampakkan diri kepada Sadaprarudita dan berkata, "Brahmana adalah orang-orang yang menjalankan persembahan api kurban. Aku membutuhkan daging, lemak dan sumsum tulang manusia untuk persembahan. Maukah kamu menjualnya kepadaku dari tubuhmu?" Sadaprarudita setuju, dan dengan sebuah batu besar menghancurkan kakinya dan mengambil potongan-potongan tulang, daging dan sumsum dan memberikannya kepada brahmana tersebut.

Semua ini terjadi di depan rumah seorang saudagar yang sangat kaya. Putri dari saudagar ini melihat apa yang terjadi di luar dan bertanya kepada Sadaprarudita mengapa ia melakukan hal-hal buruk seperti itu pada dirinya sendiri. Dia menjelaskan, "Aku perlu mengumpulkan banyak daya positif (daya kebajikan) dan persembahan untuk bertemu dengan guruku, Bodhisattwa Dharmodgata." Si putri bertanya, "Jika kamu menerima ajaran dari Bodhisattwa Dharmodgata ini, apa yang akan kamu capai dari hal tersebut?" Sadaprarudita menjawab, "Guru ini dapat mengajarkanku cara-cara untuk mencapai pencerahan, dan dengan ini, aku akan mampu memberi manfaat bagi semua makhluk hidup. Inilah mengapa aku melakukan ini." Si putri memberitahu orangtuanya apa yang terjadi di luar.

Indra kemudian menyadari ketulusan kebaktian dan karsa Sadaprarudita, serta tekadnya untuk mencapai tataran yang mulia ini. Ia berkata kepada Sadaprarudita, "Aku bukanlah seorang brahmana. Aku hanyalah manifestasi dari Indra dan aku dapat melihat bahwa karsamu sangat tulus. Aku tidak benar-benar membutuhkan daging dan tulangmu seperti ini." Dengan kekuatan istimewanya, Indra mengembalikan kaki Sadaprarudita seperti semula.  

Ada 500 dayang dan anak perempuan di rumah saudagar kaya ini. Mereka semua dikirim, bersama dengan semua kuda dan kereta serta pajangan kekayaan, untuk menemani Sadaprarudita menemui gurunya. Mereka menemaninya ke tempat di mana guru agung Dharmodgata tinggal. Namun, ketika mereka tiba di sana, mereka mendapati bahwa Dharmodgata sedang dalam masa undur diri selama dua belas tahun, duduk terserap dalam samadi. Mereka diberitahu bahwa setelah ia menyelesaikan masa undur diri selama dua belas tahun, ia akan keluar dan mengajar. Oleh karena itu, Sadaprarudita dan semua dayang-dayang serta putri-putrinya tinggal di sana selama dua belas tahun itu, menjalankan pradaksina disekeliling tempat sang guru melakukan undur diri.

Akhirnya, tibalah tujuh hari sebelum undur diri berakhir. Mereka pergi untuk menyapu dan mempersiapkan area di halaman tanah di rumah guru tempat ia akan mengajar. Ketika mereka menyapu, banyak sekali debu yang muncul. Mereka mencoba mencari air untuk disiramkan ke tanah untuk mengendapkan tanah yang berdebu, tetapi ke mana pun mereka mencari, mereka tidak menemukan air. 

Sadaprarudita menjadi sangat khawatir karena ia berpikir bahwa ketika sang guru datang untuk memberikan ajaran dan banyak debu yang muncul, hal itu tidak akan berhasil. Oleh karena itu, mereka semua, 500 dayang dan anak perempuan serta Sadaprarudita sendiri memotong diri mereka sendiri dan menggunakan darah mereka sendiri untuk dipercikkan ke bumi untuk mengendapkan debu. Semua darah ini kemudian diberkati oleh Indra, raja para dewa, dan berubah menjadi air yang sangat murni dan wangi. Setelah tujuh hari, guru Dharmodgata mengakhiri masa undur diri yang panjang dan keluar, dan murid-muridnya memberikan persembahan dan menerima ajaran.

Ini adalah contoh yang sangat menarik karena, meskipun Sadaprarudita menerima penglihatan tentang para Buddha dan bodhisattwa yang memberitahunya bahwa ia harus pergi dan menemui gurunya, Dharmodgata, ia tidak menganggap fakta bahwa ia menerima penglihatan tentang para Buddha sebagai hal yang luar biasa. Sebaliknya, ia menganggap hal yang luar biasa adalah semua pekerjaan yang harus ia lakukan untuk mempersiapkan diri bertemu dengan gurunya. Sadaprarudita melakukan semua upaya ini dan melakukan semua hal yang keras ini untuk bertemu dengan guru ini, karena bertemu dengannya sangatlah penting untuk mencapai pencerahan dan mampu memberi manfaat bagi semua makhluk.

Ketika Sadaprarudita pertama kali menemui guru rohaninya ini, ia telah mencapai cita jalan-rintis yang pertama dari lima cita, cita jalan-rintis pembangun, sebuah jalan pengumpulan. Dengan memiliki keyakinan seperti itu pada gurunya, ia mampu membuat kemajuan melalui sepuluh tingkat cita bodhisattwa bhumi sampai ke bhumi bodhisattwa kedelapan dalam masa hidupnya.

Biasanya, di dalam tantra kita mendapati pembahasan mengenai pencapaian pencerahan dalam satu masahidup sebagai salah satu manfaat dari bersandar pada guru rohani yang tepat. Tapi di sini, bahkan di dalam sutra, kita menemukan contoh manfaat luar biasa dari bersandar pada guru rohani yang benar dalam memperpendek sang jalan. Dalam tindakannya yang penuh keyakinan dan kepercayaan pada guru rohaninya, Sadaprarudita mampu membina daya positif dalam jumlah yang sama dengan yang biasanya membutuhkan waktu dua kalpa yang tak terhingga untuk terkumpul melalui cara-cara sutra. Ingatlah, dibutuhkan tiga kalpa tak terhingga untuk membangun daya karma positif untuk mencapai pencerahan menurut jalan sutra. Jadi, bahkan sutra-sutra itu sendiri berbicara tentang manfaat besar dari bersandar yang tepat pada guru dalam membina daya positif dengan sangat cepat.

Meditasi tentang Bersandar dengan Benar pada Guru Rohani

Cara sebenarnya untuk bermeditasi atas penyandaran yang benar pada seorang guru rohani adalah sebagai berikut: kita membayangkan di hadapan kita, dalam rupa-rupa biasa mereka, sebanyak apa pun guru yang kita miliki. Seperti ketika, dalam tata pengobatan Tibet, seorang dokter ahli mengobati kita, mereka pertama-tama meresepkan obat yang menyebabkan gejala-gejala penyakit itu berkobar dan kemudian, begitu mereka lebih mampu mengenali masalahnya, mereka menyembuhkan kita, demikian pula kita melakukan proses yang sama ketika kita menjalankan laku meditasi pada guru rohani kita. 

Untuk mengulanginya, kita mulai dengan membayangkan guru-guru kita, sebanyak apapun yang kita miliki, dalam rupa biasa di hadapan kita. Kemudian, kita biarkan pikiran-pikiran muncul tentang bagaimana guru yang satu ini bukan Buddha, dan bagaimana guru yang satu ini punya cela ini dan guru yang itu punya cela itu. Kita biarkan semua jenis sikap kritis ini muncul dan kemudian pikirkan semua hal yang kita bahas sebelumnya tentang perlunya melihat guru kita sebagai seorang Buddha, berdasar pada keyakinan kita pada sifat-sifat baik mereka.

Selain itu, kita pikirkan tentang fakta bahwa cara guru kita tampil di hadapan kita dan jenis-jenis pendapat yang kita miliki berdasarkan mereka sama sekali tidak dapat diandalkan. Dengan demikian, kita menghilangkan sikap mengecam dan mencari-cari kesalahan. 

Inilah cara untuk bersandar pada seorang guru dengan benar begitu kita telah memeriksa mereka secara menyeluruh dan menjadi yakin bahwa mereka benar-benar mumpuni untuk diandalkan. Kita biarkan pikiran-pikiran negatif itu muncul, kemudian menerapkan cara berpikir lawan dan dengan demikian menghilangkan pikiran-pikiran negatif tersebut.

Manfaat Mendengarkan Ajaran dalam Kelompok Besar

Apakah ada perbedaan ketika kita mendengarkan seorang guru dalam sebuah pengajaran besar seperti ini?

Keuntungan menerima ajaran dalam kelompok besar adalah kita memperoleh manfaat dari semua sudut pandang yang berbeda dari orang-orang yang ada di dalam kelompok tersebut. Kemudian, ketika orang-orang mendiskusikan ajaran-ajaran di antara mereka sendiri, mereka dapat berdebat bolak-balik dengan murid-murid yang berbeda tentang apa yang dikatakan guru dan belajar bagaimana orang-orang yang berbeda memahaminya. Dengan memiliki semua sudut pandang yang beragam ini, mereka mendapatkan pemahaman yang lebih dalam. Semakin banyak orang yang hadir dalam sebuah pengajaran, semakin baik pengajaran itu dan semakin banyak pemahaman yang dihasilkan. 

Pertanyaan tidak hanya seharusnya diajukan kepada guru. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah hal-hal yang harus ditanyakan oleh para siswa kepada satu sama lain dan didiskusikan di antara mereka sendiri. Dengan berdiskusi dengan orang-orang yang memiliki latar belakang dan cara pemahaman yang berbeda, kita akan belajar lebih banyak. Melalui proses perdebatan dan diskusi inilah kecerdasan kita semakin terasah.

Demikian juga, kita tidak pernah tahu siapa yang ada di antara para penonton. Bisa jadi ada orang yang merupakan perwujudan dari para Buddha dan bodhisattwa dan yang memiliki segala macam bakat dan kemampuan. Kita tidak tahu. Kalau orang-orang seperti ini ada di antara hadirin, belajar bersama kita, mereka bisa sangat membantu kita. Demikian pula, jika kita pergi ke salah satu universitas terkenal dan hebat yang memiliki kelas-kelas besar, setelah itu kita mendapati bahwa banyak dari orang-orang yang sama kemudian mendapatkan kedudukan tertinggi dalam masyarakat mereka. Fakta bahwa mereka adalah teman sekelas satu sama lain dan sekarang bekerja di posisi tinggi ini dapat sangat bermanfaat bagi mereka untuk dapat membangun jaringan satu sama lain dan mencapai banyak hal bersama. Ini adalah manfaat dari belajar dalam kelompok.

Guru-guru Akar

Maukah Rinpoche berbicara secara singkat tentang gagasan guru akar, dan apakah seseorang harus memilih gurunya berdasarkan hubungan baik atau aksesibilitas atau kriteria lainnya?

Hal pertama yang amat sangat penting adalah melakukan penyelidikan atau telaah yang saksama sebelum menerima seseorang sebagai guru rohani kita. Jika kita berpikir untuk bertemu dengan seorang lama tertentu, kita harus memeriksanya dengan saksama dan bertanya pada banyak orang tentang orang tersebut. Kita perlu mencari tahu sebanyak mungkin tentang mereka. Ketika kita telah menyelidiki dengan sangat teliti dari berbagai sumber, kita harus mengamati jenis rasa apa yang muncul dalam diri kita ketika kita berpikir bahwa guru tersebut akan menjadi guru kita.  

Kadang-kadang, seperti contoh Jetsun Milarepa, hanya dengan mendengar nama Marpa, pikiran kuat langsung muncul dalam dirinya, "Ah, ini guruku. Aku harus pergi menemuinya." Demikian juga, lihat jenis rasa apa yang secara naluriah muncul dalam kaitannya dengan guru ini. Kalau pikiran yang muncul adalah, "Ya, aku harus pergi dan mencoba menemui lama ini," dan juga kalau kita sudah mendengar banyak hal baik tentang orang itu dan benar-benar mengeceknya dari berbagai sumber terpercaya, maka, saat kita pergi, kita harus mengecek untuk melihat apa yang terjadi. Dengan kata lain, lihat apakah mudah sekali untuk menemui mereka saat kita pergi ke tempat mereka berada, dan apakah guru tersebut ada di sana dan mengajar saat itu. Amati apakah ada berbagai macam tanda keberuntungan pada saat itu juga. Semua hal ini akan menjadi pertanda yang sangat baik.

Di sisi lain, jika saat kita datang, mereka tidak ada di rumah, atau mereka sibuk dan, setelah berkali-kali datang, kita tidak pernah bisa menemui mereka, itu bukan pertanda baik. Demikian juga, periksa apakah ada tanda-tanda keberuntungan di jalan saat kita pergi menemui guru tersebut. Dengan kata lain, lihat apakah ada banyak orang yang membawa bunga, air, atau susu, atau menunggang gajah atau kuda atau hal-hal semacam itu, itu semua merupakan tanda-tanda positif. Ini berasal dari lingkung India, bukan? Demikian pula, jika kita melihat tanda-tanda buruk, itu tidak begitu baik.  

Ketika salah satu murid terbesar Tsongkhapa, Gyaltsab Darma Rinchen (Gyaltsab Je), pertama kali datang menemui Tsongkhapa, bukan untuk belajar dengannya tapi untuk adu-pendapat dengannya. Ia datang ketika Tsongkhapa sedang memberikan ceramah. Tsongkhapa sedang duduk di atas singgasana besar dan Gyaltsab Je masuk ke dalam pengajaran dan berpikir untuk naik ke atas dan berdebat dengan Tsongkhapa. Ia memanjat ke atas singgasana dan duduk di sebelahnya.

Gyaltsab Je sendiri adalah seorang cendekiawan yang sangat terpelajar, sehingga Tsongkhapa pindah dan memberi tempat untuk duduk di sebelahnya. Tsongkhapa terus memberikan wacana dari naskah itu seperti yang ia lakukan pada kelompok besar murid-muridnya. Gyaltsab Je mendengarkan dan, setelah menyadari bahwa penjelasan Tsongkhapa sangat bagus, ia turun dari singgasana dan duduk di depan dan mendengarkan dengan penuh hormat.

Ini sebenarnya merupakan pertanda yang sangat baik baginya untuk naik ke singgasana, karena ketika Tsongkhapa wafat, Gyaltsab Je menjadi penerus pertama singgasana Tsongkhapa. Di tengah-tengah ceramah ini, Tsongkhapa melepas topi biksunya dan melemparkannya ke udara. Ketika topi itu jatuh kembali ke bawah, topi itu mendarat di kepala Gyaltsab Je. Semua orang tertawa. Itu juga merupakan pertanda yang sangat baik bahwa Gyaltsab Je akan menjadi penerus pertama tahta Tsongkhapa. Garis penerus takhta Tsongkhapa ini terus berlanjut tanpa terputus hingga hari ini. Pemegang posisi saat ini adalah penerus ke-97 tahta Tsongkhapa.

Kualifikasi Seorang Guru Rohani

Guru rohani harus memiliki banyak sifat baik, dan di sesi sebelumnya kita telah membahas tiga sifat umum yang harus ada. 

  • Pertama, guru harus sangat terpelajar
  • Kedua, guru harus memiliki sila yang sangat ketat
  • Terakhir, guru harus memiliki hati yang sangat baik dan hangat.

Dari semua itu, yang paling penting adalah dua yang terakhir, yaitu hati dan watak yang baik dan hangat, serta sila yang sangat ketat. Sekalipun guru ini memiliki kekurangan-kekurangan tertentu, begitu kita memutuskan untuk bersandar pada mereka dan memasuki hubungan murid-guru, kita seharusnya hanya memusatkan perhatian pada sifat-sifat baik mereka dan tidak pernah pada kesalahan atau kekurangannya. Karena kita hanya melihat sifat-sifat baiknya saja, sifat-sifat baik ini akan sepenuhnya mengungguli kesalahan-kesalahan yang mungkin ada pada diri sang guru. Kita tidak melihat kekurangannya, karena kita hanya melihat sifat-sifat baik yang mengungguli kekurangannya.  

Contohnya adalah matahari. Ada bintang-bintang di langit pada siang dan malam hari. Pada siang hari, bukan berarti tidak ada bintang di langit; hanya saja matahari bersinar lebih terang dari bintang-bintang itu, dan kita tidak melihatnya. Demikian pula, melihat sifat-sifat baik mengalahkan sifat-sifat negatif, jadi jika kita tidak mencarinya, kita tidak melihatnya lagi. Misalnya, dalam hal diri kita sendiri, kita memiliki banyak kesalahan dan kekurangan, tapi karena kita begitu terobsesi dengan sifat-sifat baik kita dan berpikir bahwa kita begitu hebat, kita benar-benar buta terhadap kekurangan dan kesalahan kita. Seperti itu, kita harus memiliki sikap ini terhadap guru dan hanya melihat sifat-sifat baik dan tidak pernah melihat kesalahan.

Bagaimana Mungkin Melakukan Kejahatan Keji dengan Kelahiran Kembali Sebagai Manusia yang Berharga?

Kita telah membahas bagaimana kita dapat menyingkirkan kejahatan keji dengan   bertobat setelah melakukannya; tapi, karena kita telah memperoleh kelahiran kembali sebagai manusia melalui daya karma positif yang terkumpul dan kita membawa latar belakang dan kesadaran akan penyesalan kita ketika terlahir kembali, bagaimana mungkin orang bisa melakukan kejahatan keji di tempat pertama? Bagaimana mungkin mereka telah menyimpang dari perbuatan karma baik mereka di masa lalu sedemikian jauhnya?

Intinya adalah bahwa kita pernah mengalami kelahiran kembali yang tak bermula dan, karena kita pernah mengalami kehidupan sebelumnya yang tak bermula, kita telah membina berbagai jenis daya karma yang tak terhingga banyaknya. Oleh karena itu, ketika kita memasuki masahidup yang sekarang ini, kendati ia muncul sebagai akibat dari sejumlah daya karma positif dari masa lalu, kita juga membawa serta seluruh kumpulan daya karma dari perbuatan-perbuatan yang telah kita perbuat sejak masa tanpa-awal. Termasuk di antaranya adalah daya karma untuk melakukan kejahatan keji seperti membunuh ibu atau ayah kita. 

Jika kita melihat semua daya karma yang telah kita kumpulkan di masa lampau, daya karma negatif jauh lebih banyak daripada daya karma positif yang kita miliki. Meskipun beberapa daya karma positif dapat menghasilkan kelahiran kembali sebagai manusia yang berharga sekarang, tetap saja kita memiliki semua benih karma lainnya dari masa lalu. Daya karma positif itu terkuras habis karena telah memunculkan, sebagai akibatnya, kehidupan manusia yang berharga yang kita miliki sekarang, dan yang tersisa hanyalah semua daya karma negatif dari masa lalu. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk membina lebih banyak daya karma positif sekarang selagi kita punya semua kesenggangan dan karunia untuk mampu melakukannya dengan kelahiran kembali sebagai manusia yang berharga ini.

Top