Memadukan Berbagai Segi Kehidupan Kita

Pendahuluan

Yang Mulia Dalai Lama berkata ajaran Buddha punya tiga segi:

  • Ilmu kejiwaan dan ilmu pengetahuan Buddha – cara kerja cita, dan juga ilmu perbintangan
  • Filsafat Buddha – tata mantik yang amat berkembang, dan telaah yang amat mendalam mengenai kenyataan, sebab dan akibat, dan cara kerja dunia ini.
  • Agama Buddha – berbagai cara mengembangkan diri dalam lingkung kehidupan yang lampau dan selanjutnya, upacara, doa, dan seterusnya.

Ia juga berkata bahwa ranah ilmu pengetahuan dan filsafat Buddha punya banyak hal untuk ditawarkan pada dunia, yang mutlak terpisah dari agama Buddha. Sejalan dengan ini, saya mengembangkan sebuah latihan yang disebut "Memadukan Berbagai Segi Kehidupan Kita", yang merupakan perpaduan dari ilmu pengetahuan Buddha dan filsafat Buddha. Latihan ini dapat digunakan dalam lingkung terapi, untuk orang per orang atau di dalam kelompok, tetapi tidak dan memang tidak semestinya terbatas pada orang-orang yang memiliki masalah perasaan saja. Latihan ini dapat berguna bagi setiap insan.

Diri dalam Ilmu Kejiwaan Barat

Dalam ilmu kejiwaan, ada ego yang sehat dan ego yang gembung, dan saya rasa setiap orang sepakat bahwa memiliki ego yang sehat itu amat penting untuk mampu menghadapi aneka kesulitan dan kenyataan hidup sehari-hari. Ego yang sehat berarti punya cara pandang positif terhadap diri sendiri (dan biasanya terhadap orang lain pula), rasa percaya diri, dan kemampuan menghadapi apa pun yang mungkin muncul dalam hidup ini. Ego yang gembung berarti berpikir bahwa kita lebih penting dari siapa pun, dan bahwa kita selalu benar, segalanya harus berjalan sesuai cara kita. Pantas saja ini memunculkan masalah dan sengketa dengan sesama karena rasa aku ini tidak didasarkan pada pandangan yang makul (realistis). Ada sikap-sikap tak sehat lain tentang diri yang tidak masuk ke dalam golongan ego yang gembung, seperti misalnya memandang buruk diri sendiri, yang juga dapat menyebabkan terjadinya masalah hebat saat menjalani hidup.

Diri dalam Ajaran Buddha

Ajaran Buddha banyak sekali bicara tentang "diri", tapi lazimnya kita tidak menggunakan kata ego karena istilah itu dimaknai dengan cukup khusus oleh berbagai tata filsafat dan ilmu kejiwaan, dan tidak sama dengan "diri" dalam gagasan Buddha.

Ajaran Buddha bicara soal diri yang lazim dan diri yang palsu. Ketika ego kita sehat, dalam ajaran Buddha itu disebut menanggap diri secara "aku yang lazim". Ketika ego kita gembung atau kita merasa rendah diri, maka kita berpikir secara "aku yang palsu".

Dalam ajaran Buddha, kita memahami diri lewat membongkar tiap saat pengalaman kita, yang dibangun oleh begitu banyak perangkat:

  • Pengalaman indrawi – setiap saat, kita melihat, mendengar, merasakan, dan seterusnya.
  • Anasir batin dasar – selalu ada perhatian, pemusatan, minat, kelelahan, dan seterusnya sampai pada derajat tertentu.
  • Perasaan – berbagai perasaan yang menyertai setiap saat. Bisa bersifat positif, seperti kasih, kesabaran dan welas asih, atau negatif, seperti amarah, keserakahan, dan kecemburuan.
  • Rasa – kita selalu merasakan kebahagiaan atau ketakbahagiaan sampai pada derajat tertentu. Mungkin tidak terasa amat kentara, tapi ia selalu ada.
  • Kegandrungan – banyak dari kita mengalami kegandrungan untuk bertindak atau bicara dengan cara tertentu, yang, meski terasa dengan sadar kita kendalikan, kerap terbentuk dari kebiasaan, cara kita dibesarkan, lingkungan, dan seterusnya.

Semua ini berubah-ubah, setiap waktu, dan merupakan perekayasa pengalaman subjektif kita dari saat yang satu ke saat yang lain. Kesinambungan ini terjadi sedari kita lahir, sampai kita mati.

Bagaimana kita mengalaminya? Kita mengalaminya dalam kerangka "aku". Kita menyematkan seorang "aku" ke dasar yang lasak ini, dan itu menarik ditelaah. Apa ada yang selalu sama tentangnya? Coba lihat foto Anda ketika bayi dan bilang "Itu aku", lalu foto saat remaja, bilang "Itu aku", dan foto saat dewasa, "Itu juga aku." Apa yang kita kenali dari si "aku" ini? Tak ada yang betul-betul padu dengan "aku" yang kita kenali di tiap foto itu; akan tetapi, itu tetaplah fotoku, bukan fotomu. Jadi kita sematkan "aku" pada suatu kelangsungan saat-saat pengalaman yang panjang, seluruh hidup ini, seperti kita meneymatkan cap tahun pada rangkaian waktu sepanjang 365 hari.

Kalau kita jaga cara pandang cair atas setiap saat tersebut, "Sekarang aku melakukan ini. Sekarang aku melakukan itu. Sekarang aku mengalami ini. Sekarang aku mengalami itu," itulah yang disebut "aku" yang lazim. Atas dasar ini, kita bisa memiliki rasa diri yang sehat. Masalah timbul ketika kita punya gagasan yang tetap tentang aku yang padu dan mengenali diri dengan satu gambar dalam serangkaian panjang pengalaman ini selama satu masahidup. Seolah kita menghentikan film berisi satu masahidup dan terpaku pada satu bingkainya saja atau sebagian kecil darinya saja, dengan bingkai gambar yang kadang-kadang berganti.

Dalam bahasa biasa, istilahnya kita terpaku pada satu jati diri tertentu, tentang siapa kita pikir kita ini. Bisa jadi "Aku pemuda bertubuh kuat dan menarik," dan kemudian tentu saja itu mungkin tidak sesuai dengan yang kita alami, sehingga muncullah rasa tak puas. Kita melihat diri di cermin atau menimbang berat badan dan, "Ini bukan aku. Tak mungkin aku seberat itu." Atau, kita mungkin mengaitkan diri dengan kecerdasan, atau uang, atau pekerjaan kita; daftarnya bisa panjang.

Contohnya, saat menjalin hubungan asmara dengan seseorang, kita sering memaknai jati diri kita sebagai salah seorang anggota dari pasangan tersebut. Ini satu adegan dalam film kehidupan kita. Tetapi kemudian pasangan kita memutuskan hubungan. Kita menjadi amat sengsara karena masih terpaku pada jati diri sebagai salah seorang anggota dari pasangan tersebut. Padahal faktanya sudah berubah. Satu-satunya cara untuk melupakannya adalah dengan mengalami lebih banyak hal setelah putusnya hubungan sehingga kita punya hal baru untuk dijadikan sasaran penyematan rasa "aku": "Inilah aku yang sekarang." Sampai kita punya sejumlah pengalaman setelah putusnya hubungan, yang bisa kita pikirkan dalam kerangka "aku" dan "hidupku", kita masih akan terjebak dalam memikirkan diri kita sendiri sebagai anggota pasangan.

Cara meluaskan dasar penyematan "aku" ini berguna bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga orang lain. Kita cenderung berpikir bahwa jika kita punya teman dekat atau kekasih, hanya kita sajalah satu-satunya manusia dalam hidup mereka dan mereka harus selalu ada untuk kita. Kita lupa bahwa mereka punya teman lain dan berbagai hal terjadi kepada mereka juga. Jadi saat mereka tidak menelepon kita, misalnya, jangan langsung berkesimpulan bahwa mereka tidak menyukai kita, tapi sadarilah bahwa mungkin ada kejadian lain yang tengah berlangsung dalam hidup mereka. Kita luaskan dasar penyematan kita, bukan sebatas hubungan mereka denganku dan bukan cuma satu peristiwa tidak menelepon, tetapi mencakup segala hal dan setiap orang dalam kehidupan mereka juga.

Kita bahkan dapat gunakan telaah mantik Buddha untuk membantu. Apa saja kemungkinan yang ada untuk "temanku tidak meneleponku" dan "temanku tidak menyukaiku"?

  • Bisa temanku meneleponku dan dia menyukaiku.
  • Atau temanku meneleponku dan dia tidak menyukaiku.
  • Atau temanku tidak meneleponku dan dia tidak menyukaiku.
  • Atau temanku tidak meneleponku, tapi tetap menyukaiku.

Jadi kalau temanku tidak meneleponku, ada kemungkinan temanku masih menyukaiku. Lalu kita periksa mengapa temanku tidak meneleponku? Bisa jadi karena hal-hal di samping temanku tidak menyukaiku. Mungkin dia sibuk. Mungkin ponselnya rusak. Mungkin baterai ponselnya habis. Ada banyak kemungkinan alasan. Jadi tidak masuk akal kalau kita simpulkan temanku tidak menyukaiku. Hanya karena temanku tidak meneleponku tidak berarti temanku tidak menyukaiku. Ini garis penalaran yang tidak sahih. Seperti itulah mantik Buddha.

Mengembangkan Rasa "Aku" yang Sehat

Untuk mengembangkan ego yang sehat atau rasa "aku" yang sehat, kita mesti bisa menyematkan "aku" dalam kerangka hal yang sedang terjadi, dan tidak terpaku pada kenangan masa lalu atau pandangan masa depan. Itulah asas umumnya. Istilah teknisnya adalah "diri" dan "dasar bagi penyematan diri". Dasar tersebut adalah saat-saat pengalaman kita.

Kalau kita pandang seluruh kesinambungan masahidup kita, kita telah mengalami dan dipengaruhi oleh setiap hal yang telah terjadi di dalam kesinambungan tersebut, entah itu kita masih mengingatnya atau tidak. Ini berarti kita telah dipengaruhi oleh semua anggota keluarga dan teman kita, oleh sekolah, guru, dan berbagai macam hal yang telah kita pelajari. Kita telah dipengaruhi oleh semua pekerjaan yang pernah kita jalani. Kita telah dipengaruhi oleh semua media dan hiburan yang pernah kita lihat. Kita telah dipengaruhi oleh semua tempat yang pernah kita tinggali dan singgahi. Hidup kita – dan hidup setiap orang – sarat akan pengalaman dan pengaruh, yang memengaruhi perasaan, cara pikir, perilaku, dan cara bicara kita. Semua itu mendesakkan pengaruh, mungkin tidak semuanya sekaligus, tapi bentang pengalaman itu berpadu untuk membentuk diri kita yang sekarang.

Salah satu sumber utama masalah adalah ketika kita tidak menyadari semua pengaruh yang memengaruhi cara kita berpikir, bicara, dan berperilaku ini, atau ketika kita mengaitkan erat diri kita dengan satu pengaruh tertentu dan mengesampingkan yang lainnya. Ada juga pengaruh di luar sadar yang tidak kita ketahui, atau pengaruh tertentu yang giat kita sangkal.

Proses memadukan berbagai segi kehidupan itu berkenaan dengan penerapan pendekatan yang menyeluruh, dengan mencoba menyadari semua pengaruh tersebut dan memadukannya ke suatu gambar yang utuh. Dengan demikian, semakin banyak pengalaman kita, semakin berkembang pula dasar penyematan "aku". Meskipun segalanya terjadi di satu saat sekali, dan kita menyematkan "aku" pada saat tersebut, di dalam saat itu pengaruh dari seluruh hidup kita akan hadir.

Saya tahu beberapa terapi yang meminta Anda mengenali pengaruh-pengaruh negatif seperti misalnya yang didapat dari orangtua. Anda diminta membuat daftar kebiasaan dan segala hal yang berasal dari ibu, dan satu lagi yang dari ayah, supaya sadar akan semua pengaruh tersebut. Biasanya yang jadi pusat perhatiannya adalah segi-segi negatif, tapi bisa juga yang tawar, seperti aku suka menjaga rumah tetap rapi dan bersih atau aku suka membuang-buang barang atau lebih suka menyimpannya. Aku suka makan pada jam sekian. Ini semua hal yang tawar, bukan?

Tapi hal-hal negatif atau tawar ini hanyalah sebagian saja dari gambar utuhnya. Penting juga bagi kita untuk menyadari semua pengaruh positif yang kita pelajari atau terima dari orangtua, serta dari semua keluarga atau teman, didikan sekolah, pekerjaan, dan seterusnya.

Orang punya kecenderungan alami untuk setia: setia pada keluarga, setia pada pekerjaan, setia pada jenis kelamin, setiap pada banyak hal lainnya. Yang terjadi adalah bahwa secara tak sadar kita setia pada segi-segi negatif. Jadi kalau orangtua sering bilang kita ini anak tidak baik, hampir pasti kita berkelakuan buruk, supaya bisa diterima bahwa ya, kita anak tidak baik. Tapi setia pada segi negatif itu tidak berguna, bukan? Tentu tidak bisa kita dengan santai menyangkal pengaruh ini, tapi mengeluh karenanya pun tidak ada gunanya. Kendati perlu diketahui, "Ya, memang pengaruh negatif itu ada," tidak ada manfaatnya juga kalau menyalahkan orangtua atau sekolah atau masyarakat atas hal-hal negatif yang kita warisi dari mereka.

Jadi kita mengetahui dan mencoba memahaminya. Tapi terus bagaimana? Pokok pentingnya adalah tidak membesar-besarkan atau terpaku padanya. Kita bisa melihat bahwa ada pengaruh buruk dan memahami bahwa hal tersebut tidak ingin kita pertahankan. Sebaliknya, kita mencoba menekankan segi-segi positif yang telah kita warisi. Kalau kita melakukan itu, maka dengan sendirinya sikap kita jadi sangat positif – kita berterima kasih, bukan menyalahkan. Kalau kita pikir orangtua kita tidak baik, anak yang bagaimana yang dilahirkan orang tua tidak baik? Anak yang tidak baik juga! Sekalipun tidak disadari, kemungkinan besar seperti itulah cara pikir kita, dan itu berujung pada masalah rendahnya rasa percaya diri dan rasa rendah diri.

Tentu saja ada pengecualian – orang-orang yang menjulang tinggi di atas yang lainnya. Tapi yang saya bicarakan di sini perkara lazimnya. Kalau kita mencoba bersikap positif mengenai hal-hal yang kita warisi dari orangtua, teman, sekolah, dan masyarakat, pandangan kita jadi lebih positif, dan rasa percaya diri pun tumbuh. Dengan demikian, selama kita tidak menggelembungkan si "aku" menjadi "Aku luar biasa hebat!", tapi tetap makul (realistis), maka itulah ego yang sehat, rasa diri yang sehat.

Memadukan Berbagai Segi Kehidupan Kita

Rasa hormat bagi diri sendiri merupakan anasir yang sangat penting. Kita bisa belajar mengembangkannya, dan rasa percaya diri, dengan memadukan berbagai segi, khususnya yang positif, ke dalam hidup kita.

Menimbang Berbagai Ranah Satu Demi Satu

Satu cara sederhananya adalah melihat, satu demi satu, berbagai ranah yang telah memengaruhi kita.

  • Setiap anggota keluarga, dan juga teman-teman kita, sedari masa kecil sampai sekarang.
  • Negara asal atau wilayah tempat kita tinggal, dan budaya serta agama (atau tiadanya agama) yang membesarkan kita.
  • Bidang ilmu utama yang kita pelajari dalam hidup kita, dan olahraga yang kita mainkan.
  • Para guru, yang jadi tempat kita menimba ilmu dalam hidup, baik itu guru rohani maupun yang bukan.
  • Setiap orang yang pernah menjalin hubungan asmara dengan kita, dan anak-anak kita (jika punya).
  • Kejadian-kejadian penting yang pernah berlangsung dalam hidup kita, misalnya kecelakaan atau penyakit parah atau menang undian.
  • Setiap pekerjaan dan tempat kerja serta rekan sejawat kita.
  • Keadaan ekonomi kita, baik ataupun buruk.

Banyak sekali hal yang telah mereka-cipta pengalaman-pengalaman selama masahidup kita ini, dan telah memengaruhi diri kita yang sekarang dan cara kita menghadapi berbagai hal.

Kita jenguk satu pers satu, dan pertama-tama pikirkan pengaruh-pengaruh negatifnya dahulu. Penting bagi kita untuk tidak menyangkalnya. Tapi kemudian lepaskan, karena kita tahu tidak ada guna dan manfaatnya mengeluhkan semua itu. Lalu lihat hal-hal positif yang telah kita peroleh, dan menyadari betapa penting dan bergunanya semua itu dalam hidup, kita memutuskan untuk setia padanya, alih-alih secara tak sadar setia pada segi-segi yang negatif.

Menenangkan Cita Terlebih Dahulu

Sebelum melakukannya, baiknya kita tenangkan cita sehingga kita mampu berpikir jernih. Kita perlu berlatih untuk melepaskan pikiran dan rasa gandrung yang muncul, khususnya yang negatif. Ketika kita munculkan hal-hal negatif yang telah memengaruhi kita, mudah sekali kita terjebak – "Mengerikan sekali. Orang itu jahat betul. Sakit hatiku dibuatnya" – dan susah keluar dari lingkaran dialog batin yang sangat kuat tersebut. Kita perlu menenangkan ini dahulu supaya dapat memusatkan perhatian pada hal-hal positif.

Ada begitu banyak cara yang disarankan di latihan Buddha, tetapi yang termudah adalah "Melepaskan". Kepalkan tangan Anda, lalu bukalah dan lepaskan. Sembari melakukan gerakan itu, lakukan hal yang sama dengan cita, bayangkan cita seperti tangan terkepal, yang mengenggam pikiran gandrung dengan eratnya, dan kemudian Anda lemaskan dan lepaskan. Tentu pikiran gelisah itu dapat cepat kembali, jadi kita perlu mengulanginya.

Cara lainnya adalah melihat cita – seluruh ranah pikiran dan perasaan Anda – seperti lautan luas. Pikiran negatif itu ibarat ombak tinggi di permukaan, tapi kita ini lautan luas, dan ombak tidak menganggu kedalamannya. Kita tidak ingin seperti perahu di permukaan yang diombang-ambingkan ombak, tapi juga tidak seperti kapal selam di kedalaman yang mencoba menghindarinya. Merenungkan bahwa pikiran negatif hanyalah sebagian kecil dari lautan luas akan membantu kita untuk tenang.

Menegaskan Kembali Keinginan untuk Bahagia

Pikiran berikutnya yang perlu kita miliki adalah "Aku ingin bahagia. Setiap orang ingin bahagia, dan tidak ada yang ingin tidak bahagia. Aku punya rasa dan perasaan, sama seperti yang lainnya. Sama seperti cara orang memperlakukanku itu memengaruhi perasaanku, caraku memperlakukan diri sendiri pun begitu. Jadi buat apa merusak diri sendiri? Bukan karena aku jahat maka aku mesti menghukum diriku sendiri. Itu konyol. Siapa yang menderita karena hal itu selain diriku sendiri? Tidak ada gunanya sama sekali. Kalau aku ingin bahagia, maka aku mesti bertindak dengan cara positif yang akan memunculkan kebahagiaan itu."

Gagasan bahwa "setiap orang ingin bahagia, tak ada yang ingin tak bahagia" merupakan aksioma dasar di dalam ajaran-ajaran Buddha. Jika Anda renungkan, hal ini memang benar adanya. Batasan makna "kebahagiaan" dalam naskah-naskah Buddha adalah "suatu rasa yang, ketika terjadi, tidak ingin kita lepaskan, dan ingin kita lanjutkan". "Ketakbahagiaan" adalah "suatu rasa yang, ketika dialami, ingin kita lepaskan, dan ingin kita akhiri." Naluri bertahan hidup, naluri untuk melanjutkan, pelestarian spesies, berdasar pada hal itu. Apa yang ingin Anda lanjutkan? Anda ingin terus bahagia, dan itu saja sudah jadi bukti bahwa Anda ingin kebahagiaan, karena kebahagiaan berarti melanjutkan. Jadi, ini dianggap sebagai aksioma dasar ilmu hayati.

Menarik. Anda mungkin ingin menghukum diri dan membuat diri tak bahagia, jadi Anda julurkan tangan ke api. Tapi naluri yang timbul adalah menjauhkan tangan dari api dan Anda terpaksa bersusah-payah untuk mengatasi naluri tersebut. Itu menunjukkan bahwa kita punya kecenderungan alami untuk tidak ingin tak bahagia, dan ingin bahagia.

Jadi, kita renungkan hal-hal positif yang diperoleh dari siapa pun atau apa pun pokok sesi kita ini, dengan sikap menghargai dan mensyukuri. Kalau dari seseorang dalam hidup kita, bisa jadi lewat cara orang tersebut memperlakukan kita, seperti orangtua yang membesarkan kita, guru yang mengajarkan kita suatu hal yang amat berguna. Yang kita coba kenali bukan hanya sifat-sifat baik dalam diri orang lain, tetapi juga di dalam diri kita sendiri.

Membayangkan Pengaruh Positif Memasuki Diri Kita dalam Rupa Cahaya Kuning

Saat kita menjalani proses ini, akan sangat membantu jika ada gambar dari orang itu, tapi kita bisa juga membayangkannya saja. Kita bisa gunakan cara pengejawantahan Buddha di sini; bayangkan secercah cahaya kuning memancar dari mereka dan datang kepada kita, mengisi kita dengan semangat dan ilham untuk mengembangkan sifat-sifat baik ini lebih jauh lagi. Pengejawantahan itu sangat membantu memudahkan kita dalam mengembangkan tataran cita tertentu. Lebih jauh lagi, bayangkan cahaya kuning memancar dari diri Anda, mengilhami yang lain, anak, teman, rekan Anda, atau seisi dunia, untuk mengembangkan sifat-sifat baik itu juga.

Memadukan Semua Pengaruh Ini

Begitu kita selesai melalui proses dengan tiap kelompok pengaruh, kita padukan semuanya secara menyeluruh. Kita tautkan pengaruh ibu dan ayah kita. Kita lanjutkan penautan tersebut ke kakak dan adik, teman, sekolah kita, dan seterusnya. Hal-hal positif apa yang telah kita peroleh dari belajar matematika di sekolah? Kita mungkin tidak menggunakannya di dunia kerja kita, tapi apakah pernah ia berguna? Kita perlu mengesampingkan rasa bahwa segala yang terjadi dalam hidup kita itu sia-sia semata. Tidak ada yang sia-sia, karena selalu ada hal yang dapat kita manfaatkan. Hal tersulit yang kita lalui sekali pun dapat menjadi pelajaran untuk pertumbuhan diri; kita jadi punya kekuatan untuk menghadapi kesulitan lainnya. Ada hal positif yang dapat kita petik dari apa pun.

Tujuan latihan ini adalah agar kita punya pandangan yang menyeluruh, dengan dasar penyematan "aku" yang jauh lebih luas lagi. Di atas dasar tersebut, walau ada hal-hal negatif yang telah memengaruhi kita, bukan itu yang ingin kita tekankan. Dengan sadar kita putuskan untuk memusat pada yang positif saja.

Membuat Daftar

Kalau perlu, Anda dapat membuat daftarnya. Contoh:

  • Ini hal-hal positif yang kuwarisi dari ibuku; ini yang kupelajari dari ayahku.
  • Ini pengaruh positif atas hidupku ketika tumbuh besar – untuk Anda yang cukup punya usia – di Uni Soviet.
  • Ini pengaruh positif yang kuterima di keadaan ekonomi sekarang ini.

Kita perinci semua pokok ini, seperti tugas sekolah. Dalam bahasa sederhananya, proses ini disebut "mengenali diri sendiri". Saat kita benar-benar mengenali diri kita, kita mampu untuk membedakan apa yang positif dan apa yang negatif, apa yang ingin kutekankan dan apa yang ingin kusingkirkan. Dengan begitu, kita memandang diri secara lebih menyeluruh.

Menggunakan Model Mandala

Model lain yang dapat kita gunakan untuk menautkan semua pengaruh ini dan memadukannya, dan model ini sedikit lebih grafis, adalah mandala. Dalam sebuah mandala yang berisi banyak sosok, kita adalah meliputi semuanya. Kita adalah semua sosok yang ada di mandala itu. Jadi bukan cuma sosok pusatnya; kita ini semuanya. Ini mirip dengan model tubuh kita: tubuh kita bukan hanya sistem pencernaan, bukan hanya sistem peredaran, atau sistem saraf, dan seterusnya, tapi semuanya.

Kita mulai dengan mengenali pengaruh positif yang telah kita terima dari, katakanlah, delapan ranah hidup – misalnya: keluarga, teman, pasangan, guru, bidang ilmu, pekerjaan, tempat tinggal, dan agama. Saya yakin masih ada banyak, seperti bakat yang kita miliki, misalnya. Kita bahkan bisa memusatkan perhatian pada satu saja dari ranah-ranah ini dan membaginya jadi delapan, misalnya ranah keluarga menjadi ibu, ayah, setiap saudara kandung kita, dan kalau kita sudah menikah dan punya anak, mereka juga. Lalu wakilkan masing-masing ranah ini dengan satu gambar batin dari tiap orang atau hal yang mewakili ranah tersebut, dan susun di sekeliling Anda membentuk sebuah mandala. Anda ada di pusatnya. Jika itu terlalu sulit, Anda dapat membayangkan mereka semua berjajar di depan Anda. Kemudian bayangkan pengaruh positif, dalam rupa cahaya kuning tadi, datang kepada Anda dari mereka semua sekaligus. Rasakan bahwa sekarang Andalah gugusan itu, seluruh mandala pengaruh positif – ini "aku". Simpulkan dengan pikiran, "Ini yang ingin kukembangkan; ini yang ingin kutawarkan pada dunia." Cara ini memang tidak mudah, tapi jika Anda bisa, semangat Anda akan bangkit.