Perselisihan Sektarian Islam dan Diserukannya Jihad

Perpecahan antar-Aliran dalam Islam pada Masa Awal Abbasiyyah

Kaum Abbasiyyah berhasil mengusir pasukan Tang Cina dari Turkistan Barat, dan pemberontakan An Lushan di Han Cina benar-benar melemahkan cengkeraman Tang di Kashgar, Kucha, Turfan, dan Beshbaliq. Namun, bukan kaum Arab, melainkan kaum Karluk dan Tibet yang mengambil keuntungan dari kekosongan kekuasaan tersebut. Kaum Karluk bergerak ke selatan, merebut Suyab, Ferghana, dan akhirnya Kashgar, sedangkan kaum Tibet menguatkan kembali pengaruh mereka di beberapa negara-kota lembah sungai Tarim bagian selatan, terutama Khotan, yang mereka rebut kembali pada 790. Kaum Tibet memutus semua hubungan antara keluarga raja Khotan dan mahkamah Tang. Namun, kaum Tang mempertahankan sebuah markas kecil di Kucha dan bertempur dalam perang segitiga yang berkepanjangan dengan kaum Tibet-Uighur dan Turfan-Beshbaliq.

Peta 17: Asia Tengah, Akhir Abad 8 M
Peta 17: Asia Tengah, Akhir Abad 8 M

Kaum Abbasiyyah tak pernah bisa melebarkan kekuasaan ke wilayah-wilayah di Turkistan Barat yang sebelumnya dikuasai kaum Tang karena mereka menjadi nyaris terlibat dalam pertarungan antar-aliran Islam di Sogdiana. Segera setelah khalifah kedua, al-Mansur (memerintah 754 – 775), menaiki tahtanya, ia menghukum mati Abu Muslim, orang Baktria pengikut Syiah yang membantu kaum Abbasiyyah mendirikan kekaisaran mereka. Meskipun pendahulunya, Abu l’Abbas, pernah mengungkapkan janji tentang perlakuan tidak memihak bagi seluruh penduduk non-Arab di kerajaannya yang luas, al-Mansur mengembalikan lagi keberpihakan Ummaiyyah terhadap kaum Arab dan golongan Islam Sunni. Setelah itu, orang-orang Sogdiana yang menentang pemerintahan Abbasiyyah memberi penghargaan anumerta kepada Abu Muslim sebagai pembela kebudayaan Iran melawan dominasi Arab. Menggunakan kesyahidan Abu Muslim untuk menghimpun pemberontakan-pemberontakan mereka guna membalas kematiannya, mereka pun akhirnya menghormati Abu Muslim sebagai nabi.

Untuk panjinya, Abu Muslim semula menggunakan bendera hitam yang melambangkan Silsilah Ali. Kaum Abbasiyyah mencontoh hal ini dan menggunakan warna hitam untuk bendera dan pakaian mereka. Sebagai bentuk protes, kaum penentang Abu Muslim menggunakan warna putih untuk panji dan baju mereka, yang kebetulan juga merupakan warna suci pengikut Manikheisme dan menggunakannya untuk jubah mereka. Julukan kaum Suriah bagi pengikut Manikheisme adalah “Orang Berjubah Putih”.

Manikheisme memiliki banyak bentuk, bercampur dengan agama Zarathustra, Kristen, atau Buddha untuk memberikan kedekatan pada masyarakat dari kebudayaan-kebudayaan yang berbeda. Gagasan-gagasan mutakhir ini memikat banyak pejabat terpelajar dalam mahkamah Abbasiyyah, yang menghasilkan sebuah aliran Islam yang menggabungkan Manikheisme dengan Islam Syiah. Para penguasa Abbasiyyah, sebagai pelindung kepercayaan ortodoks, kemudian memandang aliran Syiah Manikheisme sebagai ancaman. Mencapnya sebagai ajaran sesat, mereka menuduh para pengikut Syiah Manikheisme dari golongan anti-Abbasiyyah ini sama dengan pemberontakan-pemberontakan Abu Muslim di Sogdiana dan menindas mereka. Meskipun Syiah Manikheisme tidak bertahan lama sebagai aliran Islam tersendiri, banyak pengikutnya kemudian masuk ke aliran Isma’ili dari Syiah. Aliran ini pun akhirnya menjadi sasaran penindasan kejam oleh kaum Abbasiyyah.

Selama masa pemerintahan khalifah berikutnya, al-Mahdi (memerintah 775 – 785), sebagian besar wilayah Sogdiana jatuh di bawah kekuasaan kaum pemberontak jubah putih itu, dipimpin oleh al-Muqanna, si “Nabi Bercadar”, kawan Abu Muslim. Kaum Turki Oghuz, yang juga berpaikan putih, memberi bantuan militer kepada kaum pemberontak itu, meskipun mereka tidak pernah menganut Islam. Kali ini, kaum pemberontak Sogdiana itu mengikuti aliran Islam baru, Musalemiyya, adat-adat yang punah bersama tradisi-tradisi ortodok, seperti sembahyang lima kali sehari. Maka, gerakan militer Abbasiyyah untuk menangkal pemberontak Sogdiana dan sekutu mereka kaum Turki Oghuz juga menjadi gerakan untuk melindungi kemurnian agama Islam.

Pada 780, pasukan Abbasiyyah memadamkan pemberontakan di Bukhara, tetapi pemberontakan-pemberontakan selanjutnya terus terjadi. Kaum Abbasiyyah menjadi sibuk memadamkan pemberontakan-pemberontakan ini dan mempertahankan kemurnian agama Islam dari aliran Syiah Manikheisme dan Musalemiyya. Sikap menekan dan keras yang ditunjukkan kaum Abbasiyyah dalam menghadapi aliran-aliran sesat yang melibatkan unsur-unsur Manikheisme mungkin didorong oleh para mantan pemimpin agama Zarathustra yang sudah pindah ke agama Islam dan menyarankan pemerintahnya untuk mencontoh kaum Sassaniyyah dalam kediktatoran untuk persoalan-persoalan agama.

Top