Berbagai Alam Keberadaan dan Karma

Memahami Kelahiran Kembali dalam Rupa Kehidupan Selain Manusia atau Hewan

Salah satu pokok bahasan yang kerap terlewatkan adalah tentang duka di tiga mayapada yang lebih rendah, atau yang saya istilahkan dengan "tiga mayapada yang lebih buruk". Istilah dalam bahasa Tibet memang berbunyi "tiga mayapada yang buruk". Namun istilah ini terdengar agak berat, sehingga saya menyebutnya "lebih buruk (dibanding mayapada yang kita huni sekarang)". Tidak ada kata (dalam bahasa Tibet) yang menyebut mayapada-mayapada ini sebagai "lebih rendah".

Ada orang yang membuat corak Dharma-Sari dari mayapada-mayapada terburuk, dan memang ada enam mayapada yang seperti itu. Kita bisa menerima bahwa ada manusia dan ada hewan, dan sebagian mungkin menerima bahwa ada hantu atau arwah. Akan tetapi, rupa kehidupan yang lain, agak sulit diterima. Corak Dharma-Sari menyebutkan mayapada-mayapada ini maksudnya tataran kejiwaan atau batin manusia. Salah satu segi dari ajaran-ajaran tersebut menunjukkan bahwa setelah kelahiran kembali ke dalam salah satu mayapada ini, akan tetap ada sekelumit sisa dari jenis pengalaman di dalam kelahiran kembali sebagai manusia, kalau memang kelahiran kembali sebagai manusialah yang terjadi setelahnya. Jadi memang ada yang mirip dalam pengalaman sebagai manusia, tetapi ini bukan enam mayapa dari Dharma Sejati.

Dalam Dharma Sejati, segalanya berdasar pada kesinambungan batin yang tak berpangkal dan tak berujung. Kalau kita periksa pengalaman penglihatan, pendengaran, sensasi ragawi, kebahagiaan, ketakbahagiaan, dan seterusnya, kita dapat melihat bahwa ada banyak patok- ukur yang memengaruhi dan mewarnai pengalaman, minat, ketaktertarikan, dan perhatian kita – atau ketiadaan semua itu. Untuk masing-masing patok-ukur ini, ada rentangan yang dimulai dari berminat penuh hingga sepenuhnya tak berminat, berperhatian penuh hingga sepenuhnya tak berperhatian, sepenuhnya marah hingga tidak marah sama sekali, dan seterusnya. Kita senantiasa mengalami segala hal dalam rentangan seperti itu.

Begitu pula dengan penglihatan kita, misalnya. Ada rentangan cahaya, dan dengan perangkat keras tubuh manusia ini, kita hanya mampu mengalami sebagian saja dari seluruh isi rentangan tersebut. Kita tidak dapat melihat sinar inframerah dan ultraviolet. Kita terpaksa menggunakan alat untuk mengalaminya. Tetapi perangkat keras yang dimiliki burung hantu, misalnya, mampu mengalami penglihatan yang tidak dapat dilakukan manusia. Misalnya, melihat dalam gelap.

Dengan perangkat keras telinganya, seekor anjing bisa mendengar bunyi dengan frekuensi yang lebih tinggi dari yang mampu ditangkap telinga manusia. Indra penciuman seekor anjing jauh lebih peka daripada hidung manusia. Hal-hal seperti ini saya rasa sudah cukup jelas. Hanya karena perangkat tubuh manusia tidak dapat mengalami sebagian dari rentangan keterangan rasa tersebut, tidak berarti mustahil bagi makhluk lain untuk mengalaminya. Hanya karena kita tidak dapat melihat sinar ultraviolet dan inframerah, tidak berarti kedua sinar itu tidak ada. Yang dibutuhkan hanyalah perangkat keras yang berbeda.

Berbagai Tingkat Rasa Sakit dan Nikmat di Luar Batas Ketahanan Kita

Kesinambungan batin kita tidak terbatas pada satu jenis perangkat keras yang terhubung dengan satu jenis raga saja, dan kegiatan batin kita mampu mengalami apa pun yang terdapat di dalam rentangan tersebut. Kalau demikian untuk rentangan penglihatan, pendengaran, penciuman, dan seterusnya, apakah untuk rentangan rasa nikmat dan sakit, kebahagiaan dan ketakbahagiaan, tidak juga begitu? Dengan perangkat keras manusia, ketika rasa sakitnya melampaui daya tahan kita, dengan sendirinya kita pingsan dan tak sadarkan diri. Ini bukan berarti bahwa sakit yang lebih hebat lagi itu tidak ada, tapi perangkat keras kita saja yang tidak sanggup mengalaminya. Ada semacam sistem keamanan yang langsung menutup kesadaran kita.

Demikian pula dengan rasa nikmat. Kalau kita periksa secara objektif, perangkat keras kita juga punya sistem keamanan yang menghancurkan atau menghentikan rasa nikmat ketika sudah mencapai tingkat tertentu. Contohnya, kenikmatan seksual. Ketika sudah mencapai titik puncak, rasa nikmatnya berakhir dengan orgasme. Sama juga dengan rasa gatal, yang sebetulnya bukan bentuk rasa sakit, melainkan rasa nikmat yang kuat. Begitu nikmatnya sampai-sampai kita harus menghancurkannya dengan menggaruk.

Dan ini bukan lelucon! Selama bertahun-tahun saya mengalami rasa gatal luar biasa, kulit kepala dan kening saya terasa sangat gatal. Dokter tidak dapat menemukan sebabnya. Satu-satunya cara untuk bisa hidup dengan rasa gatal itu adalah dengan menganggapnya sebagai kenikmatan dan menikmatinya saja. Butuh kehati-hatian dan daya pemusatan yang hebat memang, tapi saya bisa tidak lagi terganggu karenanya. Tapi biasanya, kalau kita digigit nyamuk, rasa gatalnya keterlaluan dan kita harus menghancurkan rasa itu. Tubuh kita langsung mencoba menghentikannya.

Kalau kita ikuti uraian ini, apakah ada perangkat keras makhluk hidup yang mampu mengalami rasa sakit yang lebih dahsyat dan rasa nikmat yang lebih hebat? Kenapa tidak ada? Tidak ada alasan untuk tidak ada. Demikian pula dengan rentangan anasir batin dari kebahagiaan dan ketakbahagiaan, yang jangan kita rancukan dengan rasa nikmat dan rasa sakit. Kebahagiaan dan ketakbahagiaan dapat menyertai semua bentuk pengalaman ragawi dan jiwawi. Kita bisa mengalami sakitnya pijatan kuat dengan senang hati karena otot kita jadi kendur. Walaupun sakit, kita bahagia: sakit dahulu, senang kemudian! Bahagia dan tak bahagia itu patok-ukur yang berbeda dari rasa sakit dan rasa nikmat, kendati keduanya mirip. Mengapa? Kalau kita sangat tidak bahagia, kita jadi tertekan. Kalau kita sangat tertekan, lalu apa? Kita bunuh diri. Jadi, perangkat keras kita punya batas dalam mengalami ketakbahagiaan. Kalau begitu, apakah ada ketakbahagiaan dan kebahagiaan yang lebih hebat, yang melampaui kemampuan pengalaman manusia?

Kalau memang batas-batas rentangan yang lebih jauh tersebut dapat dialami oleh kegiatan batin kita, maka ada pula raga dan perangkat keras yang mampu mengalaminya. Kesinambungan batin kita punya kemampuan untuk mengalami seluruh isi rentangan tersebut dan menghasilkan perangkat keras yang mampu mengalaminya. Seperti tadi saya katakan, hanya karena perangkat keras manusia kita tidak mampu mengalami rasa sakit dan nikmat yang amat sangat, tidak berarti perangkat keras lain tidak bisa atau tidak ada. Apakah mayapada-mayapada ini beserta lingkungan-lingkungannya itu nyata? Tentu – semua itu senyata mayapada manusia kita. Kita hanya tidak mampu saja mengalaminya.

Bersungguh-sungguh dengan Kelahiran Kembali di Mayapada yang Berbeda-beda

Saya menjelaskan ini semua lewat pemahaman saya sendiri. Saya belum pernah mendengar penjelasan seperti, tetapi bagi saya itu masuk akal dan membantu saya untuk lebih bersungguh-sungguh dengan mayapada-mayapada lain ini. Masuk akal karena saya melihat kesinambungan batin dari kegiatan batin dan kemampuannya mengalami seluruh isi rentangan penglihatan, pendengaran, rasa nikmat, rasa sakit, kebahagiaan, ketakbahagiaan, dan seterusnya. Dengan demikian, kesinambungan batin kita membutuhkan perangkat keras ragawi dari sebuah tubuh yang memiliki kemampuan dan kesanggupan untuk mengalami batas-batas rentangan pengalaman yang lebih jauh. Dengan pemahaman ini, maka meditasi enam mayapada tidak sekadar menggunakan "pembayangan" untuk mengejawantahkan rasa sakit yang amat sangat. Kita mesti menganggap keberadaan dan kemungkinan kita mengalaminya dengan sungguh-sungguh.

Saya harap cara berpikir seperti ini dapat membantu kita memahami enam mayapada tersebut. Memahami dan menerima keberadaannya merupakan akibat dari berlindung atau mengambil haluan aman dengan sungguh-sungguh. Kalau kita benar-benar yakin bahwa Buddha tidak cuma berkhayal dan bahwa semua perkataannya itu dimaksudkan untuk membantu sesama mengatasi duka dan bukan kata-kata bodoh atau melantur, itu berarti kita mesti bersungguh-sungguh dengan segala hal yang kita temukan di dalam ajarannya. Kalau kita tidak memahami suatu hal dalam ajarannya, kita mencoba sekuat tenaga untuk mencari tahu. Ketika Buddha bicara tentang mayapada-mayapada ini, ia tidak sedang berumpama. Untuk lingkup mula Dharma Sejati, kita harus menganggapnya dengan sungguh-sungguh karena kita tidak ingin terlahir kembali di mayapada-mayapada tersebut. Ini semua sangat tergantung pada pemahaman kita atas kegiatan batin diri kita yang berlangsung selamanya. Tapi, saya tahu ini memang sukar dicerna.

Membina Sebab-Sebab Kelahiran Kembali yang Lebih Baik

Dari sini kita mulai pembahasan mengenai karma. Namun, kita tidak masuk sampai dalam ke seluk-beluknya. Kita bicara di tingkat makaryanya saja. Diri saya saja yang jadi contoh karena tadi sudah sedikit saya singgung tentang cara saya memahami bahan ajaran ini, dan lingkup mulanya saja sudah sulit! Saya membuat satu situs web besar yang berisi bahan ajaran Dharma, dan salah satu alasannya adalah agar pembaca dapat merasakan manfaatnya. Namun harus saya akui bahwa alasan lainnya adalah demi manfaat pribadi karena saya pikir kalau saya berusaha cukup keras, di masahidup berikutnya sedari kecil saya akan secara naluriah mencari Dharma (kalau saya cukup beruntung terlahir kembali sebagai manusia). Di sini saya mencoba mempersiapkan kehidupan saya yang selanjutnya dengan mengerjakan sesuatu yang kelak akan membantu mendekatkan saya dengan Dharma sejak dini.

Mungkin benar saya tengah membina sebab untuk bisa cepat terhubung kembali dengan Dharma bila saya terlahir kembali sebagai manusia, tetapi apakah saya membina sebab supaya terlahir kembali sebagai manusia? Apa saya membodohi diri? Apa saya sebetulnya menjalankan lingkup mula, tapi corak Dharma-Sarinya saja? Kita mesti senantiasa memeriksa diri di ketiga lingkup ini. Apakah ada yang terlewatkan? Menjadi orang di setiap lingkup ini berarti mengubah sikap kita terhadap kehidupan.

Sebab-Sebab Kelahiran Kembali yang Lebih Baik: Sila

Ajaran dengan jelas menerangkan sebab-sebab bagi kelahiran kembali sebagai manusia yang berharga. Sebab utamanya adalah sila. Dengan sila, kita menahan diri untuk tidak bertindak merusak. Kita mesti pula melakukan kegiatan yang membangun, seperti meditasi, menolong sesama, dan seterusnya. Di sini, secara khusus kita bahas soal tidak berbuat tindakan merusak, dan ada sepuluh jenis tindakan seperti itu: Ini yang dianggap paling menonjol, tapi tentu saja masih ada banyak lagi:

  • Mengambil hidup/Membunuh
  • Mengambil apa yang belum diberikan kepada kita
  • Terlibat dalam perilaku seksual yang tidak pantas
  • Berdusta
  • Menghasut
  • Memaki
  • Berbicara sia-sia
  • Berpikir serakah
  • Berpikiran durjana
  • Berpikir menyimpang dengan sikap bermusuhan

Seberapa keras kita mesti berusaha menghindari semua perbuatan ini? Bukan berarti kita harus fanatik dan kaku: harus tidak lagi melakukan perbuatan merusak apa pun dan membayangkan diri jadi orang suci. Kita belum sampai ke tingkat itu. Akan tetapi, kita perlu mengembangkan kemampuan untuk mengamati perbuatan kita, sehingga saat kita mulai bertindak merusak, kita tahu dan dapat mengenali kerugiannya: ketakbahagiaan dan duka "bagiku". Kita tidak tahu pasti apa akibat perbuatan tersebut bagi orang lain, tapi dapat dipastikan bahwa akibatnya terhadap diri kita di masa depan adalah ketakbahagiaan. Karena kita tidak ingin mengalami ketakbahagiaan itu, kita menahan diri untuk tidak melakukan tindakan merusak.

Kenapa kita tidak mau atau mampu menahan diri? Kalau kita tidak sungguh meyakini bahwa ketakbahagiaan dan duka itu timbul sebagai akibat tindakan merusak, dan bahwa ketakbahagiaan, duka, dan rasa sakit yang kita alami sekarang merupakan akibat dari perbuatan merusak kita dahulu, maka kita tidak akan peduli. Namun kalau kita tidak ingin terus mengalami semua kesukaran ini, kita akan menahan diri dan berhenti berperilaku merusak. Kita perlu meyakini hubungan sebab dan akibat antara perilaku merusak dan ketakbahagiaan, dan antara perilaku membangun dan kebahagiaan. Ini tidak mudah, tetapi keyakinan ini merupakan kunci untuk menjadi orang dengan lingkup mula. Sekalipun kita sudah yakin, memang masih ada masalah kemalasan, dlsb. Tapi itu lain cerita.

Kesahihan Ajaran tentang Karma

Cara memperoleh keyakinan dan pemahaman penyimpulan yang sahih atas karma, sebagaimana dijelaskan di dalam kitab dan naskah, adalah bersandar pada panutan. Dengan kata lain, jika kita mengikuti perkataan Buddha tentang pengembangan daya pemusatan dan pemahaman akan sunyata, perasaan gelisah kita akan sirna. Kita bisa melihat ini dari pengalaman pribadi kita. Lewat pengalaman, kita bisa memperoleh pemahaman bahwa ajaran ini menamatkan perasaan gelisah kita. Kalau yang diajarkan Buddha mengenai semua hal ini benar adanya, dan bahwa Buddha mampu mencapai pencerahan dan mengajar karena welas asih dan keinginannya untuk memberi manfaat bagi sesama, tidak mungkin Buddha bohong soal karma. Oleh karena itu, kita anggap Buddha sebagai sumber keterangan yang sahih, dan karenanya sumber keterangan yang sahih pula soal karma.

Saya tidak tahu Anda bagaimana, tapi sekalipun saya bisa memahami mantiknya di sini, keyakinan saya belum mendalam betul. Saya ingin lebih memahaminya lagi sehingga bisa juga meyakini penjelasan soal karma di dalam naskah-naskah adati. Jelas, menarik penyimpulan biasa atas dasar mantik saja tidak membuat orang mampu membuktikan bahwa ketakbahagiaan merupakan akibat dari perilaku merusak. Hal ini secara khusus dikatakan di dalam naskah. Tetapi karena kita tidak mampu melihat cara kerja karma dengan tanggapan langsung yang lempang atau gamblang, itu berarti kita harus menyelidiki lebih dalam lagi untuk memperoleh keterangan yang lebih jelas, mencoba memahami hubungan antara perilaku merusak dan ketakbahagiaan. Bagaimana kita menghubungkan keduanya? Yang Mulia Dalai Lama selalu berkata bahwa kita mesti menjajaki hal ini layaknya seorang ilmuwan.

Hubungan Sebab-Musabab antara Perilaku Merusak dan Ketakbahagiaan

Ada ajaran-ajaran abhidharma (pokok-pokok bahasan khusus pengetahuan), yang berbeda-beda coraknya di masing-masing aliran Buddha India. Ada naskah karya Vasubandhu dari aliran Vaibhashika, yang merupakan aliran Hinayana. Lalu ada corak Mahayana karya Asanga, dan juga corak Theravada karya Anuruddha, yang juga merupakan aliran Hinayana. Ketika kita menyelidiki perkara perilaku merusak di dalam masing-masing aliran tekstual ini, seperti apa pengertiannya?

Kita coba untuk berpikiran terbuka, dan mendekati hal ini dengan keyakinan bahwa masing-masing telaah berperan dalam membentuk pemahaman yang utuh. Semua telaah tersebut tidak saling bertentangan. Di dalam masing-masing telaah itu, terdapat daftar anasir batin yang selalu menyertai perilaku merusak. Dengan melihat semua anasir batin ini, kita bisa menilai sendiri apakah ia merupakan tataran cita yang bahagia atau tidak bahagia.

Berbagai Anasir Batin yang Menyertai Perilaku Merusak

Saya akan uraikan beberapa dari ciri utama di dalam daftar anasir batin yang selalu hadir bersama perilaku merusak. Ini akan menjelaskan pokok yang tengah kita bahas sekarang. Yang kita bicarakan di sini bukan hanya jenis tindakan merusaknya, tetapi tataran cita yang menyertainya. Dengan kata lain, apa yang membuat sebuah tindakan itu bersifat merusak? Sifatnya tindakannya boleh jadi merusak, tetapi bukan tindakan itu sendiri saja berakibat pada ketakbahagiaan. Ada berbagai anasir batin yang juga terkait dengannya.

Beberapa di antaranya adalah:

  • Tiadanya rasa menghargai – yang berarti tiadanya rasa hormat bagi sifat-sifat positif atau terhadap orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut. Ini dapat kita pahami karena kita semua pernah melihat orang yang sama sekali tidak menghargai hukum atau segala hal yang bersifat positif, atau terhadap orang yang berbuat baik; mereka tidak menghargai ini semua.
  • Tiadanya rasa keberatan – yang berarti tiadanya kemauan menahan diri dari sikap atau tindakan yang jelas-jelas kurang ajar atau yang jelas-jelas negatif. Sama saja dengan "Masa bodoh dengan perbuatanku." Apakah ini tataran cita yang bahagia atau tidak bahagia? Kalau sikap kita seperti itu, kemungkinan besar kita bukan orang yang bahagia.
  • Keluguan – tidak tahu atau tidak menerima bahwa duka kasar dan ketakbahagiaan itu merupakan akibat dari tindakan merusak. Kita sangka kita bisa sesukanya berbuat merusak dan akibatnya tidak ada.
  • Kemelekatan atau sikap bermusuhan, tetapi keduanya tidak mesti kentara. Kita tahu bahwa kemelekatan dan amarah atau sikap bermusuhan bukan merupakan tataran cita yang bahagia. "Aku tak bisa hidup tanpanya!" dan "Aku benci kamu!" bukanlah tataran cita yang bahagia.
  • Tiadanya martabat diri – yang berarti rasa rendah diri karena tiadanya rasa bermartabat. Ini juga ada di dalam ilmu sosiologi. Kalau Anda cap seseorang itu tak berguna dan tidak ada kesempatan baginya untuk menumbuhkan rasa bangga atau bermartabat atas dirinya, maka orang itu bisa merasa lebih baik jadi pelaku bom bunuh diri saja karena dia tidak menghargai dirinya. Dia yakin bahwa dia ini cuma sampah. Hal terburuk yang dapat Anda lakukan terhadap orang-orang tertindas adalah mencabut martabat diri mereka. Tidak sulit membayangkan bahwa saat kita merasa rendah diri, saat kita berpikir kita tidak berarti, itu sama sekali bukan tataran cita yang bahagia.
  • Tidak peduli betapa "nila setitik dapat merusak susu sebelanga" – mungkin ini bagian dari kepribadian Asia: kalau perilaku kita buruk, keluarga, kasta, gender, golongan/kalangan kita dst. dapat ikut menanggung malu atau dampak negatifnya. Kita tidak peduli dengan semua itu dan sikap itulah yang menyertai tindakan merusak kita.
  • Keresahan – anasir yang ditambahkan oleh Anuruddha, yang merupakan kebalikan dari rasa puas dan damai dengan diri sendiri. Tataran batin kita tidak mantap dan tidak tenang. Ketika kita berperilaku merusak, kita tidak tenang.

Jika kita pelajari semua jenis anasir batin yang dapat menyertai perilaku merusak ini, kita akan lebih jelas melihat hubungan antara perilaku merusak, yang biasanya dicirikan oleh anasir-anasir batin ini, dan ketakbahagiaan. Kendati saya belum dapat menarik penyimpulan mantik bahwa ketakbahagiaan merupakan akibat dari hal tersebut, pola hubungan ini membuatnya jadi jauh lebih masuk akal. Saya kemudian dapat kembali ke hal yang tertera pada naskah, kali ini lebih yakin lagi bahwa Buddha merupakan sumber keterangan yang sahih tentang hubungan ini.

Berbagai Anasir Batin yang Menyertai Perilaku Membangun

Sekarang kita lihat anasir batin yang dapat menyertai perilaku membangun, untuk menilai hubungannya dengan kebahagiaan. Daftarnya lebih panjang dari yang di atas bila kita satukan semua keterangan dari tiga sumber abhidharma:

  • Kepercayaan terhadap fakta – kepercayaan bahwa kebahagiaan itu berasal dari upaya menahan diri dari perilaku merusak, dan bahwa ketakbahagiaan bersumber dari perilaku merusak dan sikap keras kepala, tataran cita bebal yang tidak percaya apa pun yang disajikan bersama fakta-faktanya. Jadi, kalau kita dihadapkan dengan sesuatu yang benar, kita percayanya.
  • Peduli pada ganjaran atas perilaku kita pada diri sendiri dan orang lain
  • Rasa kebugaran – merasa mampu mengendalikan diri sehingga dapat menghindar dari perbuatan menyakiti orang lain, misalnya. Rasa mampu mengendalikan diri adalah tataran cita yang bahagia, dibanding keadaan lepas kendali. Sama seperti waktu kita sudah kenyang dan masih ada sepotong kue tersisa, lalu karena tak mampu mengendalikan diri, kita memakannya. Setelahnya, kita merasa menyesal dan tidak bahagia, "Aku kekenyangan. Rasanya sebah." Tapi kalau kita mampu menahan diri dan tidak memakan kue sisa itu, kita merasa senang, "Ah! Aku mampu mengendalikan diriku dan tidak rakus!"
  • Ketenteraman – tataran cita yang bebas dari kesembronoan dan ketumpulan. Saat kita menahan diri untuk tidak bertindak merusak dan membentak orang, cita kita tidak berkelana ke sana ke mari. Tidak tumpul sehingga kita tidak tahu apa yang sedang kita perbuat. Cita kita jernih dan tenteram, dan kita menyadari perbuatan kita.
  • Rasa menghargai dan menghormati – mengagumi dan salut pada mereka yang memiliki sifat positif serta pada sifat-sifat positif itu sendiri
  • Rasa keberatan – kita peduli dengan perbuatan kita, sehingga kita menahan diri untuk tidak bertindak negatif.
  • Ketakmelekatan – kita tidak melekat pada sikap harus mengutarakan pendapat yang tidak perlu atau mengucapkan hal bodoh dan tak bermakna, atau membentak dan melakukan perbuatan merusak.
  • Tiadanya rasa bermusuhan
  • Nir-kekerasan
  • Gagah berani – kuat dan teguh dalam melakukan perbuatan membangun, yang berarti, misalnya, tidak menyerah kalah dan memakan kue sisa tadi, tidak peduli betapa sulitnya untuk menahan nafsu!

Semua ini membangkitkan citarasa tataran cita yang bahagia, bukan?

Anaruddha bahkan memaparkan lebih banyak anasir batin lagi:

  • Keseimbangan cita – kematangan dan kemantapan perasaan yang membebaskan kita dari kemelekatan dan rasa jijik
  • Kehati-hatian – perekat batin yang menjaga kita agar tidak kehilangan tataran cita tertentu
  • Ketenangan
  • Keterjagaan – kebalikan dari melamun atau mengantuk
  • Keluwesan – kebalikan dari sikap keras kepala dan kepongahan. Keluwesan menghilangkan kekakuan. Contoh hal yang dihilangkan keluwesan: "Mau kamu sakit hati, terserah, pokoknya pakaian yang kamu kenakan itu jelek." Itu namanya keras kepala dan pongah. Kebalikan dari hal tersebut adalah keluwesan.
  • Kebergunaan – keadaan bugar dan siap untuk mampu mengerjakan hal yang bermanfaat. Ini merupakan kebalikan dari keraguan batin. Kita siap melakukan apa pun yang perlu dilakukan, ibarat "Aku siap memegang jamban yang kotor ini, agar lalat yang sedang terperangkap di lubangnya itu dapat selamat. Aku tidak ragu sedikit pun." Itulah maksudnya. Saat hati kita tidak ragu, tataran cita kita jadi jauh lebih bahagia. Kalau ragu-ragu, kita takut dan was-was, dan itu bukan tataran cita yang bahagia. Kalau kita siap melakukan perbuatan bermanfaat, kita merasa, "Memangnya kenapa kalau jambannya kotor? Aku bisa cuci tangan setelahnya. Nyawa lalat ini lebih penting."

Contoh lain, misalnya ada orang yang tenggelam dan kita perlu memberikan pernapasan buatan, tapi orang ini mungkin sama jenis kelaminnya dengan kita atau mungkin kita anggap mukanya tidak sedap dipandang, dan seterusnya. Kalau kita ragu menyentuhkan mulut kita ke mulutnya, kita tidak dapat menolongnya. Kalau kita siap dan hati kita tidak ragu, kita akan langsung memberikan pertolongan. Kita merasa siap sedia memberikan pernapasan buatan kepada siapa pun orang yang membutuhkannya. Dua anasir terakhir adalah:

  • Rasa cakap – kebalikan dari tidak percaya diri
  • Kejujuran – kita jujur, tidak munafik, dan tidak berpura-pura punya sifat yang sebenarnya tidak kita miliki. Kita juga tidak menyembunyikan kelemahan kita.

Kita bisa mengerti bahwa kalau kita tenang, percaya diri, tidak ragu, peduli pada perbuatan kita, dan punya rasa menghargai, tentu tataran cita kita bahagia. Dengan meyakini hal inilah kita semakin yakin pula pada hukum karma yang paling mendasar: bahwa perilaku merusak berujung pada ketakbahagiaan dan perilaku membangun berujung pada kebahagiaan. Hubungan sebab dan akibat ini ada bukan karena Buddha menciptakan segalanya dan membuat hukumnya seperti ini. Dan, kebahagiaan bukan pula hadiah atas perbuatan membangun. Begitu pula, ketakbahagiaan bukan hukuman atas perbuatan merusak. Tapi, kita memahaminya dengan lebih masuk akal: bahwa ada hubungan antara jenis perilaku kita dan pengalaman bahagia dan tak bahagia.

Saat kita memahami bahwa kelanjutan, kecenderungan, dan daya karma dari perilaku kita dapat terus lanjut ke kehidupan selanjutnya, kita sadar betapa cara kita berperilaku di masahidup sekarang ini akan memengaruhi pengalaman kita di masahidup selanjutnya.

Ringkasan Lingkup Mula Dorongan

Dapat kita lihat bahwa mampu benar-benar beralihrupa menjadi orang dengan lingkup mula ini bukanlah pencapaian kecil. Dengan pencapaian ini, kita sepenuhnya yakin bahwa kesinambungan batin kita akan terus berlanjut tanpa ujung, dari masahidup ke masahidup. Kita sepenuhnya yakin bahwa cara kita berperilaku sekarang akan berdampak pada pengalaman kita kelak. Kita menyadari bahwa kita memiliki kelahiran kembali yang berharga, sebagai manusia, yang tidak dikuasai naluri seperti hewan pemakan daging yang terpaksa hidup dengan membunuh mangsanya, atau anjing yang tak sanggup menahan berahinya. Kita punya kecerdasan manusia yang mampu membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang merugikan, serta kemampuan untuk menentukan tindakan lewat penilaian. Kita juga tahu bahwa kesempatan ini tidak berlangsung selamanya. Ia akan hilang saat kita mati.

Setelah kita mati, kita akan terus ada. Karena perilaku merusak, kita akan mengada dalam rupa kehidupan yang tidak memampukan kita membedakan mana yang bermanfaat mana yang merugikan, dan secara naluriah bertindak merusak, lagi dan lagi. Ini akan menghasilkan ketakbahagiaan dan duka yang semakin lama. Kita punya haluan aman yang ditandai dengan penghentian sejati dan jalan cita sejati, haluan yang mengenyahkan semua duka dan sebab-sebabnya. Oleh karena itu, kita harus memastikan bahwa kita dapat terus terlahir kembali sebagai manusia.

Walaupun kita bertujuan menyingkirkan perasaan gelisah dan ketaksadaran dan seterusnya, kecenderungannya masih ada di dalam kesinambungan batin kita. Walaupun kita bertujuan mencapai penghentian sejati dari semua itu, karena di titik ini kita tidak dapat sepenuhnya menyingkirkan keserakahan dan amarah dan seterusnya, paling tidak ada langkah awal yang dapat kita ambil. Di langkah awal ini, bila amarah dan rasa ingin membentak orang itu muncul, misalnya, kita mengenali mana yang bermanfaat dan mana yang tidak, dan melihat bahwa amarah dan rasa ingin membentak itu akan menyebabkan ketakbahagiaan. Oleh karena itu kita menahan diri.

Inilah rangka kerja batin mendasar dari orang dengan lingkup mula. Bila ingin kita tambahkan sebab-sebab lain guna melengkapi syarat untuk terlahir kembali sebagai manusia, seperti yang dinyatakan dalam berbagai naskah, kita mesti baik hati, sabar, gigih, dan seterusnya. Juga, berhubungan erat dengan guru rohani dan Dharma akan menciptakan kecenderungan matang dan terjadinya ini kembali saat kita cukup beruntung untuk terlahir kembali sebagai manusia.

Selain itu, ada doa. Ini berarti membaktikan daya positif, yang ingin kita arahkan ke tujuan meraih kelahiran kembali sebagai manusia yang berharga. Ada banyak jenis doa, misalnya: "Semoga aku dilindungi dan dijaga oleh para guru mulia di semua masahidupku." Di sinilah semua itu bermuara.

Kalau, dalam masahidup sekarang ini kita benar-benar menjadi orang dengan lingkup mula, perkembangan rohani kita di atas jalan Buddha sungguh luar biasa. Jangan kita anggap enteng karena yang dimaksud di sini adalah pemahaman dan keyakinan yang tulus dan sepenuh hati. Ini pencapaian dahsyat dan, seperti dikatakan tadi, kitalah saksi utama untuk menilai dan memeriksa apakah kita memang tulus, atau hanya berpura-pura.

Ringkasan

Mudah sekali mengesampingkan gagasan tentang mayapada-mayapada ini sebagai khayalan semata, tetapi kalau kita ingin maju di atas jalan Buddha, kita harus menganggapnya dengan sungguh-sungguh. Kita dapat gunakan penalaran yang mudah dimengerti untuk melihat bahwa ada makhluk-makhluk yang mampu melihat lebih jauh dari kita dan mendengar lebih tajam dari kita, dan sudah pasti juga ada makhluk-makhluk yang mampu merasakan kenikmatan yang lebih kuat serta rasa sakit yang lebih hebat dari yang sanggup kita rasakan.

Begitu kita memahami ini, dan meyakini kesahihan karma, kita dengan sendirinya menghindari perasaan gelisah. Lebih dari itu, kita dengan senang hati melakukan perbuatan membangun yang mendatangkan kebahagiaan dan kelahiran kembali yang lebih baik di masa depan.