Apa itu
Artikel 1 dari 13
Berikutnya Arrow right

Apa itu Agama Buddha?

Study buddhism what is buddhism

Ajaran Buddha adalah serangkaian upaya terampil yang membantu kita untuk mengembangkan daya manusia kita secara penuh dengan memahami sifat sejati kenyataan.

Didirikan 2.500 tahun silam di India oleh Siddharta Gautama—lebih dikenal sebagai Buddha—ajaran Buddha meluas ke seluruh Asia dan kini merupakan agama terbesar keempat di dunia. Buddha menghabiskan sebagian besar hidupnya mengajarkan upaya-upaya terampil untuk bangun seperti yang ia telah wujudkan, sehingga orang lain pun bisa menjadi Buddha-Budha yang tercerahkan. Ia melihat bahwa meskipun setiap orang setara dalam kecakapan mereka untuk menjadi seorang Buddha, mereka berbeda-beda dalam pilihan, minat, dan bakat. Untuk menghormati hal ini, ia mengajarkan berbagai macam cara untuk mengatasi keterbatasan-keterbatasan seseorang dan mewujudkan dayanya secara penuh.

Unsur-unsur yang berbeda ditekankan dalam tiap-tiap kebudayaan yang mengadopsi ajaran Buddha dan meskipun terdapat banyak rupa ajaran Buddha, semuanya memiliki ajaran-ajaran dasar yang sama.

Video: Geshe Lhakdor — ”Apakah Ajaran Buddha Unik?”
Untuk menyalakan subtitle, klik ikon Subtitel di sudut kanan bawah layar video. Untuk mengubah bahasa subtitel, klik ikon “Setelan”, lalu klik “Subtitel” dan pilih bahasa yang Anda inginkan.

Ajaran-Ajaran Dasar Buddha — Empat Kebenaran Mulia

Ajaran Buddha paling mendasar dikenal dengan Empat Kebenaran Mulia, yaitu empat fakta yang dipandang sebagai kesejatian oleh makhluk-makhluk berkesadaran tinggi.

Kebenaran Mulia Pertama: Masalah-Masalah Sejati

Meskipun ada banyak kegembiraan untuk dimiliki dalam hidup, setiap makhluk—dari serangga terkecil, sampai orang tunawisma, sampai milyarder—menghadapi masalah. Di antara kelahiran dan kematian, kita bertambah usia dan jatuh sakit, dan orang-orang terkasih kita mati. Kita menghadapi kegagalan dan kekecewaan, tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, atau menemui apa yang tidak kita inginkan.

Kebenaran Mulia Kedua: Sebab Sejati dari Masalah-Masalah

Masalah-masalah yang kita miliki muncul dari sebab dan keadaan yang berseluk-beluk, tapi Buddha mengatakan bahwa sebab sejatinya adalah kebodohan kita akan kenyataan: bagaimana cita kita membayangkan cara-cara mengada yang mustahil terhadap diri kita sendiri dan semua orang dan segala hal lain.

Kebenaran Mulia Ketiga: Penghentian Sejati dari Masalah-Masalah

Buddha melihat bahwa sesungguhnya mungkin bagi kita untuk menyingkirkan semua masalah kita sehingga kita tidak akan mengalaminya lagi, dengan menumpas sebabnya: kebodohan kita sendiri.

Kebenaran Sejati Keempat: Jalan Rintis Cita Sejati

Masalah-masalah berhenti ketika kita menyingkirkan kebodohan, dengan memahami kenyataan secara benar. Kita melakukan ini dengan menyadari bahwa setiap orang saling terhubung dan saling bergantung. Atas dasar ini kita mengembangkan kasih dan welas asih terhadap semua makhluk secara setara. Begitu kita menyingkirkan kebingungan tentang bagaimana diri kita dan makhluk lain ada, kita mampu bertindak secara bermanfaat bagi diri kita sendiri dan makhluk lain.

Ranah Ajaran-Ajaran Buddha

Dalai Lama membuat tiga pembedaan untuk Ajaran Buddha:

  • Sains Buddha tentang cita – bagaimana pencerapan, pemikiran, dan perasaan bekerja dari sudut pandang pengalaman subjektif.
  • Filsafat Buddha – budi pekerti dan nalar, dan pemahaman ajaran Buddha tentang kenyataan.
  • Agama Buddha – kepercayaan pada kehidupan-kehidupan masa lalu dan masa depan, karma, ibadat, dan doa.

Sains Buddha melengkapi ilmu saraf modern dengan menyediakan peta luas tentang berbagai fungsi kognitif (pengetahuan) cita, yang meliputi pencerapan pancaindera, daya pemusatan, perhatian, kehati-hatian dan ingatan, serta perasaan-perasaan positif dan negatif kita. Dengan merambah jalan rintis saraf yang positif, kita dapat meningkatkan kemampuan-kemampuan cita yang bermanfaat.

Pemikiran Buddha lebih bergantung pada penyelidikan dibanding pada kepercayaan, jadi temuan-temuan ilmiah sangat berguna bagi pemikiran Buddha.
      – Dalai Lama Ke-14

Pada tingkat ragawi, sains Buddha juga mencakup tata medis mutakhir yang memuat pengobatan-pengobatan untuk berbagai penyakit. Pada unsur eksternal, sains Buddha menyajikan uraian rinci tentang zat dan tenaga, dengan banyak kesamaan pada fisika kuantum. Ini juga membahas asal-usul, kelangsungan hidup, dan akhir alam semesta, menegaskan arus alam semesta sebelum ini tanpa ada awalnya.

Filsafat Buddha berurusan dengan persoalan-persoalan seperti saling kebergantungan, kenisbian, dan sebab-akibat. Filsafat Buddha menyajikan tata nalar yang rinci, berdasar pada seperangkat teori dan adu pendapat yang membantu kita untuk memahami pencitraan cita kita yang keliru.

Budi pekerti Buddha didasarkan pada pembedaan antara apa yang bermanfaat dan apa yang berbahaya, baik bagi diri sendiri dan orang lain.

Terlepas apakah kita penganut agama atau agnostik, apakah kita percaya pada Tuhan atau karma, setiap orang dapat mengejar budi pekerti kesusilaan.
      – Dalai Lama Ke-14

Ini memerlukan penghargaan dan pengembangan nilai-nilai dasar kemanusiaan yang berupa kebaikan, kejujuran, kemurahan hati, dan kesabaran, sambil berusaha sekeras mungkin untuk tidak merugikan orang lain.

Keagamaan Buddha berurusan dengan pokok-pokok seperti karma, kehidupan masa lalu dan masa depan, kelahiran kembali, kebebasan dari kelahiran kembali, dan pencapaian pencerahan. Ini meliputi laku-laku seperti nyanyian, meditasi, dan doa. Tidak ada kitab suci tunggal dalam ajaran Buddha, seperti “Injil Buddha,” karena tiap aliran memiliki naskah-naskahnya sendiri berdasar pada ajaran-ajaran asli. Banyak naskah dari aliran Tibet dapat ditemukan dalam bagian Naskah Asli di situs kami.

Orang-orang bisa berdoa kapanpun atau di manapun, meskipun banyak yang memilik untuk melakukannya di candi-candi atau di depan kuil-kuil di rumah mereka. Tujuan doa ini bukan untuk terkabul harapan-harapannya, tetapi untuk membangunkan kekuatan batin, kebijaksanaan, dan welas asih kita.

[Lihat: Bagaimana Mengembangkan Iba]

Dalam ajaran Buddha tidak ada hukum-hukum mengenai makanan, namun kebanyakan guru mendorong para murid untuk sebisa mungkin menjadi vegetarian, dan Buddha juga para pengikutnya untuk tidak minum alkohol atau madat. Pelatihan Buddha bertujuan untuk mengembangkan kehati-hatian dan tata-tertib diri, yang biasanya hilang ketika kita mabuk.

Agama Buddha memiliki adat wihara dengan bhiku dan bhikuni, yang menjaga ratusan sumpah termasuk hidup melajang. Mereka mencukur rambut di kepala mereka, mengenakan jubah, dan tinggal dalam komunitas-komunitas wihara, tempat mereka membaktikan hidup untuk belajar, bermeditasi, berdoa, dan melaksanakan upacara-upacara untuk kaum awam. Dewasa ini, banyak kaum awam mempelajari ajaran Buddha dan berlatih meditasi di sanggar-sanggar Buddha.

Ajaran Buddha Terbuka bagi Semua Orang

Sebagai manusia biasa seperti kita, Buddha melihat kenyataan tentang bagaimana kita sebenarnya ada, mengatasi segala kekurangannya, dan mewujudkan segenap dayanya secara paripurna; dalam ajaran Buddha kita menyebutnya "pencerahan" [Lihat: Apa Itu Pencerahan?]. Buddha tidak bisa semata-mata melambaikan tangan dan menghilangkan semua masalah kita. Alih-alih, ia menunjukkan jalan yang kita bisa ikuti untuk membebaskan diri dari masalah-masalah hidup dan mengembangkan mutu-mutu baik cita kita—kasih, welas asih, kemurahan hati, kebijaksanaan, dan banyak lagi.

Ajaran-ajaran tentang bagaimana mengembangkan mutu-mutu ini terbuka bagi semua orang—terlepas dari latar belakang budaya atau agama. Ajaran Buddha tidak melibatkan kepercayaan pada Tuhan atau dewa-dewi, melainkan hanya meminta kita untuk memeriksa ajaran-ajaran seperti jika kita membeli benda-benda berharga. Dengan cara ini, kita akan menghargai intisari ajaran-ajaran Buddha—budi pekerti, welas asih, dan kebijaksanaan—di mana kita terbiasa menahan diri dari tindakan-tindakan merugikan dan giat memasuki tindakan-tindakan positif yang bermanfaat bagi diri kita sendiri dan orang lain. Ini akan membimbing kepada apa yang didambakan oleh kita semua: kebahagiaan dan kesejahteraan.

Video: Jetsunma Tenzin Palmo — “Mengapa Belajar Agama Buddha?”
Untuk menyalakan subtitle, klik ikon “Subtitel” di sudut bawah layar video. Untuk mengubah bahasa subtitel, klik ikon “Setelan”, lalu klik “Subtitel” dan pilih bahasa yang Anda inginkan. 

Top