Membongkar Kecemburuan: Perasaan Gelisah

Ajaran Buddha berbicara banyak tentang sikap dan perasaan yang gelisah, dan ini diartikan sebagai tataran cita atau batin, bagaimanapun kita ingin meninjaunya, yang ketika kita mengembangkan mereka menyebabkan kita kehilangan kedamaian cita dan mereka melumpuhkan kita sehingga kita kehilangan kendali diri. Maka ketika kita merasa, misalnya saja, melekat atau marah atau cemburu, kita niscaya tidak memiliki kedamaian cita, bukan? Dan juga kita kehilangan kendali diri dalam arti bahwa segala macam desakan gila muncul dalam cita kita untuk mengatakan sesuatu dan bertindak dalam cara tertentu yang biasanya kita sesali kemudian. Sehingga itu menyebabkan kita bertindak dalam cara yang sangat merusak bagi orang lain, misalnya kita menyakiti mereka, atau dalam cara yang sangat merusak diri sendiri, kita menjadi pecundang pada akhirnya.

Dan ketika kita meninjau berbagai macam budaya, kita menemukan bahwa perasaan-perasaan ini. . . ini adalah cakupan rasa yang amat luas, dan budaya yang berbeda akan menentukan dan menetapkan perasaan-perasaan secara berbeda. Ini seperti memotong kue pai; kita bisa memotong pai dalam banyak cara yang berbeda, pai yang sama, menjadi banyak potongan yang berbeda, membuat potongan-potongan yang ukurannya berbeda. Jadi, misalnya, dalam budaya Tibet, berasal dari pengartian ajaran Buddha dari India, kita berbicara tentang kecemburuan, tetapi di Barat kita punya kecemburuan dan iri.

Jadi ketika kita menguraikan secara sedikit lebih cermat apa yang terjadi, kita menemukan bahwa obat-obat yang Buddha anjurkan adalah obat-obat untuk hanya sebagian kecil dari masalah yang lebih besar. Sehingga kita perlu melihat secara lebih hati-hati pada apa yang dimaksud oleh tiap-tiap budaya, karena kita mungkin harus menerapkan cara-cara lain dari ajaran Buddha yang tidak berada di bawah golongan kecemburuan mereka untuk menghadapi masalah-masalah lebih besar yang kita bahas ketika kita berbicara tentang kecemburuan dan iri.

Ajaran Buddha mengartikan kecemburuan sebagai bagian dari permusuhan; ini adalah unsur dari permusuhan. Ini memusat pencapaian-pencapaian orang lain – mutu-mutu baik mereka, harta mereka, keberhasilan-keberhasilan mereka, keluarga mereka, kedudukan mereka dalam hidup, hal-hal semacam itu – dan ini tak mampu menanggung pencapaian-pencapaian tersebut. Kecemburuan tak mampu menanggung, kecemburuan tak tahan bahwa mereka telah mencapai hal-hal itu dan mereka mempunyai hal-hal itu, karena sangat melekat pada keadaan kita sendiri. Jadi, ini berarti memusat pada orang lain atau secara umum pada mutu-mutu baik orang lain; kepandaian mereka, hal-hal semacam itu, ketampanan atau kecantikan mereka, harta mereka, keberhasilan mereka, bahwa mereka punya anak laki-laki, dan keluarga kita tidak memilikinya, dan kita tidak tahan dengan itu, kita tak bisa menanggungnya. Dan unsur perasaan terkuat di dalamnya adalah kedengkian, dengki bahwa orang lain memilikinya. Karena kita sangat melekat pada keadaan kita sendiri, pada dasarnya kita merasa iba pada diri kita sendiri.

Dan lawan dari kecemburuan adalah bersukacita dalam keberhasilan orang lain. Inilah yang ajaran Buddha maksud ketika berbicara tentang kecemburuan. Jelas, pengalaman kita mengenai kecemburuan jauh lebih luas daripada itu, meskipun ini adalah bagiannya. Jadi jika kita berkata "Baiklah, ini salah satu jenis kecemburuan, mari pikirkan tentang jenis kecemburuan lain," maka yang Anda harus tambahkan pada ini, agar mendapatkan apa yang kita sebut "iri," adalah apa yang ajaran Buddha sebut perasaan gelisah lainnya, yakni ketamakan. Dan ini diartikan sebagai hasrat yang amat banyak, hasrat berlebih untuk mendapatkan sesuatu yang dimiliki orang lain.

Jadi, jika Anda melihat di dalam kamus apa arti kata "iri," setidaknya kamus bahasa Inggris, ini adalah kesadaran yang menyakitkan dan penuh kedengkian terhadap keuntungan yang dinikmati oleh orang lain, berpadu dengan hasrat untuk menikmati keuntungan yang sama. Jadi, ini menambah pada ketidakmampuan untuk menanggung pencapaian-pencapaian orang lain. Iri adalah keinginan untuk memiliki hal-hal itu dan seringkali – meskipun tidak selalu – ini juga membawa sesuatu yang sedikit lebih buruk, yaitu keinginan lebih jauh agar orang lain kehilangan hal-hal itu. Mereka tidak pantas mendapatkannya. "Singkirkan itu dari mereka; akulah yang layak mendapatkan pekerjaan itu, bukan mereka!" Itulah perasaan gelisah lain menurut ajaran Buddha, kita harus meninjau ke dalam kelompok yang berbeda agar menemukan cara untuk menghadapinya.

Jadi, ketika kita mengalami suatu perasaan gelisah, yang kita sebut "kecemburuan," kita harus menguraikan secara sedikit lebih cermat apa unsur-unsur yang memunculkannya dengan suatu siasat untuk menghadapinya, untuk mengatasinya. Dengan kata lain, kata ini terlalu luas, ini mencakup banyak hal, dan bahkan Anda akan melihat kata ini mencakup lebih banyak lagi.

Iri, sebagai perpaduan dari kecemburuan dan ketamakan, seringkali mengarah pada persaingan. Sebagai contoh, banyak dari Anda akrab dengan penyajian Trungpa Rinpoche tentang banyak hal, seperti program Maitri Space, dan ia membahas kecemburuan sebagai perasaan gelisah yang mendorong kita untuk menjadi sangat kompetitif dan berusaha setengah mati untuk mengalahkan orang lain atau diri kita sendiri. Dan ini berhubungan dengan tindakan yang kuat, Anda tahu, rumpun karma.

Jadi karena cemburu dan iri terhadap apa yang orang lain telah capai, kita memaksakan diri kita atau orang lain untuk melakukan lebih dan lebih. Seperti pada persaingan ekstrem dalam bisnis atau olahraga – sangat kuat dalam olahraga. Ajaran Buddha mengakui unsur ini ada meskipun ini akan membahas persaingan secara berbeda, tetapi menggunakan kuda untuk melambangkan kecemburuan. Jika Anda berpikir tentang kuda, seekor kuda berpacu melawan kuda-kuda lain karena kecemburuan, ia tidak tahan kuda lain berlari lebih cepat. Ajaran Buddha akan lebih menghubungkannya dengan kedengkian; ia dengki kuda lain berlari lebih cepat; ini tidak benar-benar berbicara dalam kerangka persaingan sesungguhnya, "Mengapa kuda itu berlari lebih cepat? Aku harus berlari lebih cepat." Itulah mengapa mereka berlomba.

Memang benar bahwa dalam ajaran Buddha kecemburuan berkaitan erat dengan persaingan, tapi kecemburuan tidak selalu mengarah pada persaingan. Kita harus berpikir, apakah kita bersaing dengan perempuan atau laki-laki ini untuk mendapatkan orang yang kita inginkan? Apa yang terlibat di sini? Misalnya, seseorang mungkin cemburu pada orang lain tapi dengan harga diri yang rendah, bahkan tidak mencoba untuk bersaing. Ini akan menjadi sikap, "Ya, aku tak mungkin menemukan seseorang yang akan mengasihiku, jadi mengapa harus berusaha; Aku tak mungkin mendapatkan pekerjaan yang baik, jadi mengapa harus berusaha." Tapi tentu saja Anda cemburu pada orang-orang yang memiliki pekerjaan yang baik.

Di sisi lain, kita bisa menjadi kompetitif tanpa harus memiliki kecemburuan di baliknya; sebagian orang senang bersaing dalam olahraga hanya untuk bersenang-senang dan menikmati olahraga itu, karena mereka mengagungkan seni dari olahraga itu atau semacamnya, tetapi mereka tidak mengejar angka. Mereka tidak bersaing dengan siapapun. Tapi seringkali kita mengaitkan keduanya – k ecemburuan dan persaingan – namun jika kita melihat apa yang ajaran Buddha katakan tentang itu, maka kita mendapati bahwa mereka menempatkan dua hal itu secara sangat berbeda dari apa yang kita biasa pikirkan.

Mari kita tengok guru besar India Shantidewa, dalam satu pembahasan ia menempatkan kecemburuan terhadap orang-orang yang berada di kedudukan lebih tinggi, persaingan dengan sesama, dan kesombongan terhadap orang-orang dengan pangkat lebih rendah. Dan seluruh pembahasan itu ada dalam kerangka lingkung belajar untuk memandang semua orang secara setara. Itulah persoalan yang dimaksud di sini, bahwa kita menganggap semua orang setara. Sangat berbeda dengan bagaimana kita memaknai hal ini, bukan?

Jadi, jika melihat masalah di balik ini, kita sampai pada unsur lain yang hendak kita bicarakan dalam kuliah-kuliah ini, hubungannya dengan wawasan kita tentang "aku." Dan di sini masalah yang sebenarnya ajaran Buddha maksud adalah rasa bahwa "aku istimewa." Baik bahwa aku lebih baik dibanding semua orang maupun bahwa aku lebih buruk dibanding semua orang. Atau orang lain berpikir bahwa aku lebih buruk dibanding semua orang dan mereka salah. Segala persoalan ketaksetaraan ini ada di sini, karena "aku istimewa dalam arti tidak sama dengan semua orang; mereka tidak sama denganku."

Sebagai contoh, mari kita lihat dalam kerangka kecemburuan. Kita berpikir dan merasa bahwa "Akulah satu-satunya yang dapat melakukan tugas tertentu dengan baik atau dengan benar, dengan mengajar teman kita menyetir mobil," dan kita cemburu jika orang lain mengajarkan padanya. Atau dalam sebuah kelas, kita merasa, "Akulah satu-satunya yang bisa menjawab pertanyaan." Dan kita sangat cemburu dan terluka jika orang lain melakukan apa yang kita ingin lakukan. Itu karena kita merasa bahwa kita istimewa. Kita yang seharusnya melakukan itu, bukan orang lain. Jadi, itu tidak selalu mengarah pada persaingan, bukan?

Tapi Anda dapat mengambil contoh lain, ketika kita berpikir dan merasa bahwa "Akulah satu-satunya orang yang mestinya melakukan hal tertentu," seperti menjadi yang terdepan dalam hidup, "Akulah orang yang seharusnya menang, akulah orang yang seharusnya kaya," dan kita iri jika orang lain berhasil, maka kita menjadi kompetitif. Jadi kita harus mengalahkan orang lain itu meskipun kita sudah cukup berhasil. Ada perbedaan besar di sini, pertama kita harus menguraikan diri kita sendiri. Ketika kita tidak punya apa-apa dan orang lain memilikinya, maka kita cemburu. Itu sedikit berbeda dalam kerangka bagaimana Anda akan berusaha menghadapinya, maka ketika "Aku sudah punya cukup banyak, tapi aku cemburu kamu punya lebih banyak." Ada keserakahan juga di sini. Maka Anda mengalami persaingan.

Jadi, Anda akan memiliki siasat yang berbeda untuk menghadapi itu karena Anda harus memisahkan unsur-unsur apa yang sebenarnya merupakan pikiran gelisah di balik ini. Bagaimanapun, di balik semua ini adalah rasa yang kuat tentang "aku" dan sebuah kegandrungan yang kuat dengan diri kita sendiri. Kita tidak memikirkan orang lain dengan cara yang sama seperti kita memikirkan diri kita sendiri, kita istimewa.

Jadi, obat yang ajaran Buddha tawarkan di sini, siasat untuk semua hal ini – untuk kecemburuan, untuk persaingan, untuk kesombongan – adalah memandang bahwa semua orang setara. Tak ada yang istimewa tentang aku di sini. Setiap orang memiliki kemampuan-kemampuan dasar yang sama, dalam arti bahwa setiap orang memiliki sifat Buddha yang sama, yang kita bicarakan dalam ajaran Buddha. Cara mereka berbicara tentang itu dalam ajaran Buddha, mereka berbicara tentang sebagai setiap orang punya keinginan yang sama untuk bahagia dan untuk berhasil, dan keinginan yang sama untuk tidak tak bahagia atau gagal. Dan semua orang memiliki hak sama untuk bahagia dan berhasil, dan semua orang memiliki hak yang sama untuk tidak tak bahagia atau gagal. Tak ada yang istimewa tentang aku dalam kerangka hal ini.

Semua ini berhubungan dengan apa yang disebut ajaran Buddha dengan "kasih." Ini adalah cara untuk mengatasi jenis kecemburuan ini, yaitu keinginan agar semua orang bahagia, memiliki sebab-sebab kebahagiaan. Jadi ketika kita paham bahwa semua orang setara dalam kerangka sifat dasar Buddha dan kasih, maka kita akan terbuka untuk melihat bagaimana berhubungan dengan semua orang yang berbeda-beda ini, baik mereka yang lebih berhasil dibandingkan kita, atau yang belum berhasil, hal-hal semacam ini.

Jadi, ajaran Buddha mengajarkan – Shantidewa berbicara banyak tentang ini – bahwa. . . Seseorang berhasil. Meskipun mereka lebih berhasil daripada kita, jika kita menginginkan agar semua orang bahagia, kita akan bersukacita dan bahagia bahwa mereka berhasil. Dan kita mencoba untuk membantu sesama kita agar juga berhasil daripada bersaing dengan mereka. Anda membantu semua siswa di kelas belajar menghadapi ujian, tidak hanya mencoba untuk mencuri buku-buku dari perpustakaan untuk kita sendiri sehingga mereka tidak bisa membacanya. Dan terhadap mereka yang kurang berhasil dibanding kita, kita mencoba membantu mereka agar berhasil daripada menertawakan dan dengan sombong merasa diri kita lebih baik daripada mereka.

Nah, cara-cara Buddha ini sangat tingkat lanjut, dan mereka sulit untuk diterapkan. Karena, Anda tahu, ada dua rupa perasaan yang gelisah. Ada rupa yang muncul dengan sendirinya yang semua orang alami. Bahkan anjing pun mengalaminya – seorang bayi menjadi penghuni baru di rumah itu dan si anjing cemburu. Tapi kemudian, ada yang disebut perasaan gelisah "berdasar ajaran." Itu berarti perasaan gelisah ini berdasar pada memelajari suatu tata, tata ajaran tertentu, pada dasarnya propaganda dari agama atau budaya atau sesuatu dalam masyarakat yang mengajarkan kita untuk cemburu. Ini mengajarkan cara tertentu dalam memandang dunia yang memunculkan lebih banyak kecemburuan dan membuat kecemburuan semakin kuat.

Dan jika Anda meninjau apa yang muncul secara sendirinya, hampir semua anak secara sendirinya ingin menang, dan mereka menangis ketika mereka kalah. Itu hampir terjadi dengan sendirinya di semua budaya. Akan tetapi, di Barat, itu sangat sulit bagi kita karena kecemburuan dan persaingan ditekankan, dikuatkan dan bahkan dihargai oleh banyak nilai budaya Barat. Sangat menarik untuk meninjaunya. Budaya Barat mengajarkan kapitalisme sebagai rupa terbaik bagi masyarakat yang demokratis. Ini menjangkiti cara berpikir kita bahkan dalam menyikapi hubungan perorangan. Yang mendasari itu adalah teori yang kita anggap sepenuhnya benar dan yang kita bahkan tak mempertanyakannya, yakni seleksi alam, yang menetapkan persaingan sebagai kekuatan penggerak dasar kehidupan, alih-alih, misalnya, ajaran Buddha mengatakan kasih dan welas asih adalah kekuatan penggerak dasar kehidupan. Kebudayaan Barat kita menanamkan persaingan, seleksi alam – yang kuat akan bertahan.

Penekanan budaya Barat pada seleksi alam ini memperkuat arti penting keberhasilan dan kemenangan. Dan ini memperkuat kegandrungan pada keberhasilan dan kemenangan itu dengan kegandrungan pada olahraga persaingan sebagai pemujaan terhadap atlet-atlet terbaik dan orang-orang terkaya di dunia. Semua daftar ini – Anda tahu, orang-orang terkaya dan atlet-atlet, olimpiade-olimpiade – mengakar di sepanjang budaya kita. Itu melingkupi setiap tingkat masyarakat, bukan? Kegandrungan pada sepak bola – mereka adalah pahlawan-pahlawan kita; ini sungguh lucu. Buddha bukan pahlawan kita; olahragawan adalah pahlawan. Sungguh lucu jika Anda memikirkan itu, juara dunia tinju kelas berat, Anda tidak memiliki juara dunia welas asih. Kita punya juara tinju dunia. Piala Dunia welas asih, itu akan menjadi hal yang menarik.

Dan selain itu, maksud saya ini bahkan lebih berbahaya jika kita meninjau kebudayaan kita, tata Barat – demokrasi dan pemungutan suara – didasarkan pada kecemburuan dan persaingan, menjual seseorang sebagai calon dengan mengumumkan betapa lebih baiknya kita dibanding calon-calon pesaing. Dan ini dilihat sebagai hal yang layak dipuji: "Ini baik, seluruh dunia harus memilih ini."

Ini menarik, masyarakat Tibet di sisi lain, apa yang terjadi ketika Anda mencoba memindahkan nilai-nilai itu pada masyarakat Tibet misalnya? Masyarakat Tibet tunduk pada siapapun yang berkata bahwa mereka lebih baik daripada orang lain. Ini dianggap sebagai ciri watak yang amat sangat buruk. Jadi demokrasi dan kampanye untuk perolehan suara ini benar-benar asing, dan tidak berjalan dalam masyarakat itu. Orang yang muncul dan berkata "Aku lebih baik daripada yang lain," tak seorangpun akan pernah memilihnya. Anda harus berkata "Aku tidak mumpuni, aku kurang bagus," bersikap rendah hati. Ini sangat jauh berbeda, bukan? Itu menegaskan betapa khas nilai-nilai budaya kita. Nilai-nilai ini tidak universal. Anda mendengar Dalai Lama berkata, "Ya, aku hanya biksu biasa, aku tidak tahu apa-apa." Ini Dalai Lama yang mengatakannya.

Jadi ketika kecemburuan dan persaingan dan pedoman pada keberhasilan begitu kuat ditekankan oleh propaganda budaya kita – ingat zaman Yunani kuno – maka sangat sulit untuk memahami cara-cara Buddha tentang bersukacita dalam kemenangan orang lain. Atau kata mereka dalam ajaran-ajaran latihan cita, berikan kemenangan pada orang lain dan terimalah kekalahan pada diri kita. Itu adalah pil yang sangat sulit ditelan bagi kita orang Barat, pengobatan yang terlalu keras bagi sebagian besar dari kita.

Saya pikir sebagai orang Barat kita perlu pertama-tama menilai kembali keabsahan nilai-nilai budaya kita, rupa-rupa kecemburuan dan persaingan berdasar ajaran ini. Karena seperti yang saya katakan, jika kita benar-benar menguraikan secara mendalam, kita melihat bahwa itu menjangkiti hubungan-hubungan perorangan kita, bagaimana kita berhadapan dengan orang-orang. Persaingan, kita harus berhasil, kita harus mendapatkan pangeran atau putri yang paling menawan di atas kuda putih. Dan kemudian semua orang akan mengagumi kita, bukan? Renungkan hal ini, betapa orangtua kita akan sangat senang jika kita menikahi seseorang yang sangat kaya. Jika kita berkata, "Ya, aku menikah dengan orang yang tak punya uang sama sekali, tapi sebenarnya orang yang sangat baik. . ." Selamat datang di Barat.

Jadi saya berpikir tentang kita, Anda cemburu bahwa seseorang mendapatkan pasangan nikah yang kaya, dan orang tuanya cemburu pada keluarga lain yang anak-anaknya mendapatkan pasangan yang kaya. Jadi yang pertama-tama kita perlu lakukan dalam menyikapi hal-hal ini adalah meninjau kembali nilai-nilai budaya kita. Apakah itu adalah hal yang benar-benar ingin kita terima atau itu hanya propaganda? Propaganda yang sangat tua.

Sebuah contoh yang mungkin membantu kita untuk melihat kenisbian dari kecemburuan dan persaingan yang berdasar pada budaya adalah pasar India. Di India dan di banyak tempat, Anda tahu, di Timur Tengah dan sebagainya – dan demikian juga di Barat pada zaman dulu – ada pasar kain, pasar perhiasan, pasar sayur, dan sebagainya. Dan tiap-tiap pasar itu memiliki berderet-deret toko dan kios yang menjual barang yang sama. Dan mereka saling bersebelahan. Anda harus memikirkan abiat yang ada di balik itu. Dan para pemilik toko itu sebagian besar rukun satu sama lain. Mereka duduk dan minum teh dan bercakap-cakap sepanjang hari, dan abiat mereka adalah tergantung pada karma apakah barang dagangan mereka laris atau tidak. Ini adalah karma Anda, jika Anda berbuat baik, Anda beruntung; Jika tidak, ya, itulah karma Anda.

Jadi, mereka tidak, "Oh, bagaimana aku bisa mengalahkan yang lain" dan semacam itu, itu adalah hal yang berdasar budaya. Kita pernah membahas ini sebelumnya, tapi sebenarnya ada hukum Jerman bahwa Anda tidak boleh membuka toko di sebelah toko lain yang menjual barang yang sama. Anda bisa menuntut pemilik tanahnya karena menyewakan tempat lain di bangunan Anda untuk jenis toko yang sama. Jadi semua ini sangat nisbi secara budaya – wawasan yang sangat penting. Memang ini tidak selalu demikian, tapi kita berpikir "Inilah cara mereka atau sudah semestinya demikian, atau kita sudah semestinya seperti ini."

Tentu saja, kita semua mengalami jenis kecemburuan ini dalam kerangka kecemburuan di tempat kerja dan hal-hal semacamnya. Tapi di Barat kita berbicara tentang rupa kecemburuan yang sedikit berbeda, dan bagi kebanyakan dari kita inilah rupa lain kecemburuan yang memberi kita duka terbesar Dan ini menarik, jika Anda melihat "kecemburuan" dalam kamus – setidaknya kamu bahasa Inggris – inilah arti yang diberikannya, yaitu "Ketidakmampuan menanggung persaingan atau ketaksetiaan." Sebagai contoh, kita merasa cemburu jika pasangan kita bermain mata dengan laki-laki atau perempuan lain atau menghabiskan banyak waktu dengan orang lain. Pasangan kita ingin pergi ke sekolah yoga atau semacamnya, kita cemburu dan ingin ia tinggal di rumah. Ada ketidakmampuan menanggungnya dalam diri kita, "Kamu tak setia dan kamu akan berpaling pada orang lain." Ada pesaing.

Ini satu hal yang kita lihat sebagai contoh, tentang anjing ketika seorang bayi menjadi penghuni baru di rumah itu, pesaing bagi perhatian dari si majikan. Si majikan akan melempar tulang kepada si bayi dan bukan kepada anjing itu. . . Seperti kecemburuan dalam ajaran Buddha, ini memiliki unsur kedengkian, tetapi selain itu memiliki unsur kuat akan ketidakamanan dan ketakpercayaan. Ini adalah pembahasan lain dari ajaran Buddha, bagaimana menghadapi ketidakamanan.

Jadi, jika kita tidak aman, maka ketika seorang teman atau pasangan bersama dengan orang lain, kita cemburu. Kita merasa tidak aman akan diri kita sendiri; kita merasa tidak aman akan kasihnya kepada kita, atau cemburu, bukankah begitu? Tidak aman akan harga diri kita, tidak aman akan kasihnya padaku – aku, aku, aku! Jadi kita tak memercayai teman kita; kita takut bahwa aku, “aku” besar ini, akan ditinggalkan. Untuk menghadapi jenis kecemburuan ini, kita perlu memahami kesetaraan semua orang, tapi dalam cara yang sedikit berbeda. Dan saya pikir bagi kita orang Barat ini sedikit lebih mudah untuk dihadapi karena ini tidak banyak dikuatkan secara budaya; ini adalah jenis hal yang muncul secara sendirinya. Jadi kita tidak perlu berurusan dengan perihal budaya untuk itu. Tidak ada yang mengajarkan kita untuk merasa tak aman.

Namun, kita bisa melakukan pembahasan panjang tentang itu dalam kerangka pengasuhan anak – bayi yang terus-menerus diikat di pinggang atau punggung ibunya seperti di Asia terasa jauh lebih aman dibanding bayi yang dibiarkan berbaring sendirian di tempat tidurnya. Apakah Anda pernah berpikir tentang seperti apa menjadi bayi di kereta bayi, dan bukannya memandangi lalu lintas ketika Anda menyeberang jalan – ketika ibu Anda menyeberang jalan – dari balik ibu Anda, terikat di punggung ibu Anda, Anda berada di depan. Apa yang bayi itu lihat? Ia tidak melihat ibunya; bayi itu melihat mobil-mobil yang melintas, mana yang jauh lebih besar daripada itu, dan bayi itu seharusnya merasa aman? Jadi ketidakamanan mendasar diperkuat oleh banyak hal yang dimiliki budaya kita. Baik, itulah pembahasannya.

Bagaimanapun, ketika kita berpikir dalam kerangka kesetaraan semua orang, yang perlu kita pikirkan adalah unsur lain dari sifat dasar Buddha, yaitu bahwa hati memiliki kemampuan untuk mengasihi semua orang. Saya pikir, itu banyak membantu kita dalam kerangka menghadapi kecemburuan dalam keadaan-keadaan ini, karena teman kita, pasangan kita, pun memiliki kemampuan yang sangat alami untuk mengasihi dan bersikap ramah kepada banyak orang, tak hanya kepada satu orang. Anda berpikir bahwa lagi-lagi "aku" ini istimewa, berbeda dengan yang lain. Dan jika orang lain tak memiliki ruang di hati mereka untuk aku dan sekarang ia bersama orang lain dan meninggalkan aku atau apapun itu. . . maka kita perlu mengembangkan welas asih, karena mereka tidak menyadari kemampuan sifat dasar Buddha yang mereka miliki untuk bersikap ramah dan hangat kepada semua orang.

Dan ini hal yang menarik. Kali pertama saya mempelajari wawasan ini dari ilmu perbintangan. Kita selalu di luar sana mencari orang yang istimewa, dan Anda menengok dan melihat kecocokannya di bagan perbintangan dan planet mana yang menjadi, katakanlah, unsur yang baik untuk Venus Anda. Nah, jika Anda berpikir tentang itu, pasti ada berjuta-juta, bahkan ratusan jutaan orang yang Venusnya menjadi unsur yang baik untuk Venus Anda. Lalu apa yang istimewa dengan orang itu? Dan mengapa hanya ada satu pangeran atau putri di luar sana yang akan menjadi pasangan sempurna, satu-satunya orang yang bisa kita kasihi atau yang bisa mengasihi kita?

Jadi, sangat penting untuk belajar memiliki hati yang terbuka bagi semua orang. Dan jika pasangan kita tidak seperti itu, maka berwelas-asihlah kepada mereka, mereka perlu belajar itu. Tetapi jika kita membuka hati kita, maka orang yang kita cemburui ini akan menjadi jauh lebih kecil dalam hidup kita, dan ia bukan satu-satunya orang di dunia yang bisa kita kasihi. Dengan hati terbuka, kita dapat mengasihi teman, pasangan, anak, binatang peliharaan, orang tua kita. Kita dapat mengasihi negara kita, bangsa orang, alam, Tuhan, hobi kita, mengasihi pekerjaan kita. Kita bisa mengasihi banyak hal, bukan?

Jadi, kita dapat berhadapan dan berhubungan dengan semua sasaran kasih kita. Hati kita cukup besar untuk mereka semua. Dan kita akan mengungkapkan kasih kita – dan ini adalah pokok yang penting – m engungkapkan kasih kita kepada masing-masing dari mereka dalam cara yang sesuai. Kita tidak mengungkapkan kasih pada anjing kita dalam cara yang sama seperti kita mengungkapkannya pada istri atau suami kita, atau pada orang tua kita. Kita tak pernah tahu, tapi biasanya kita tidak memiliki hubungan perkelaminan dengan mereka semua. Tapi mari kita kesampingkan persoalan ketaksetiaan perkelaminan, itu persoalan yang jauh lebih berseluk-beluk dan mendatangkan banyak persoalan lain. Tapi bagaimanapun juga, jika pasangan perkelaminan kita, khususnya dalam perkawinan, tidaksetia, atau bahkan jika mereka tidak memiliki hubungan perkelaminan dengan orang lain, jika mereka menghabiskan seluruh waktu mereka di luar rumah, bersama teman-teman lain, bersama orang lain, bukanlah tanggapan perasaan yang berguna bagi kita untuk merasa cemburu, untuk merasa posesif. Itu tidak memperbaiki keadaan.

Dan kita juga harus memahami bahwa tanggapan-tanggapan tersebut – ketika kita menanggapi itu dengan kecemburuan dan kegandrungan – sebagian, itu secara budaya terpengaruh. Jika Anda membayangkan istri Jepang tradisional, dan istri Barat tradisional, dihadapkan dengan keadaan sang suami pergi dengan pria lain rekan kantornya, secara perasaan mereka akan mengalami itu dengan amat sangat berbeda. Budaya mereka berbeda. Sekali lagi kita perlu melihat seberapa banyak tanggapan perasaan kita yang berasal dari budaya kita; seberapa banyak yang terjadi dengan sendirinya secara alami. Itu sangat penting dalam perkawinan lintas budaya di mana dua orang berasal dari budaya yang berbeda. Seringkali kita cenderung meremehkan pengaruh budaya dalam perasaan kita. Dan itu tidak hanya ketika satu pasangan berasal dari budaya yang berbeda, hal ini juga terjadi ketika mereka berasal dari dua generasi. Sering ada pasangan di mana salah satunya jauh lebih tua daripada yang lain dan nilai-nilai dari generasi itu seringkali sangat berbeda.

Ketika kita berpikir bahwa kasih, dan memiliki pertemanan yang erat, hanya bisa dilakukan dengan satu orang saja, dan jika mereka memiliki pertemanan dengan orang lain maka tak ada ruang bagi kita, ini adalah kecemburuan. Kita perlu memahami bahwa semua ini berdasar pada rasa “aku” yang padu, yang harus istimewa. Tapi jika Anda memikirkan sebuah contoh, misalnya, seorang Buddha, seperti apa seorang Buddha, orang yang akan mengasihi semua orang secara setara?

Ketika seorang Buddha memusat pada satu orang atau bersama dengan satu orang, Buddha itu adalah seratus persen memusat pada orang itu. Dan ketika Anda bersama Dalai Lama, jika Anda berpikir tentang Dalai Lama, Yang Mulia bersama dengan amat banyak orang setiap tahun. Ia niscaya adalah teladan luar biasa mengenai kasih bagi semua orang secara setara. Ketika Anda bersamanya – semua orang mengungkapkan rasa ini bersamanya – ia seratus persen memperhatikan Anda dan bukan dalam cara menatap tajam, tetapi hatinya benar-benar seratus persen bersama Anda. Dan bahkan jika ia memandang sekeliling ke khalayak dan menatap seseorang, Anda memiliki suatu rasa “wow," itu hampir-hampir membuat Anda merasa istimewa, tapi bukan dalam cara yang aneh dan egosentris. Tetapi itu karena ia seratus persen memusat dengan hatinya pada setiap orang sekaligus. Pemusatan ini tidak menipis karena ada banyak orang. Itulah yang kita tuju. Anda merasa seperti tersembur suatu tenaga kasih ketika Yang Mulia menatap lurus kepada Anda.

Ini adalah salah satu pokok yang benar-benar paling penting. Yang Mulia selalu menekankan ini, bagaimana Anda mengatasi hal-hal seperti kecemburuan, Anda tahu "Aku sakit hati karena kamu dikasihi orang lain dan aku tidak dikasihi oleh mereka," dan seterusnya – welas asih, buka hati Anda. Tapi sulit untuk beranjak dari membuka hati kita kepada satu orang yang kita merasa tidak aman bahwa ia akan menyakiti kita, sehingga kita tidak membuka hati terlalu lebar, untuk membukanya kepada semua makhluk di alam semesta. Terlalu sulit untuk beranjak dari itu, di antara dua keadaan itu. Tapi jika kita perlahan-lahan membuka hati dan menyadari bahwa tak ada yang perlu ditakutkan, kita bisa mengasihi lebih dari satu orang, lalu kepedihan bahwa satu orang di sana tidak membalas kasih kita tidaklah begitu buruk. Tak setiap orang mengasihi Buddha Shakyamuni, jadi apa yang kita harapkan, semua orang akan mengasihi kita? Bagaimanapun, itu contoh yang sangat bagus.

Saya mendapati bahwa contoh dari Buddha Shakyamuni itu sangat berguna. Ada kisah-kisah tentang sepupunya yang selalu membencinya, ia selalu cemburu pada Sang Buddha, dan berusaha mencelakainya. Itu baik, jika seseorang tidak menyukai saya atau mengecam saya, ya, apa yang Anda harapkan? Lihatlah Yang Mulia Dalai Lama, bangsa Cina, maksud saya, bayangkan seluruh bangsa, pemerintah, propaganda di seluruh dunia, membencinya. Jadi, itu bukanlah persoalan besar jika orang ini tidak menyukai saya. Atau jika orang ini pergi dengan orang lain. Tempatkan segala sesuatu secara nisbi. Ketika Anda melihat kenisbian dari hal itu, itu bukanlah akhir dunia. Dan hati kita terbuka, hati kita bisa terbuka untuk banyak orang. Satu ungkapan dalam bahasa Inggris: "Bukan satu-satunya ikan di laut."

Jadi, sebenarnya tak ada yang perlu ditakutkan, jika kita membuka hati kita kepada banyak orang sehingga hubungan perorangan kita akan kurang kuat atau kurang memuaskan. Kita mungkin kurang lekat dan kurang bergantung pada salah satu hubungan satu untuk menjadi memuaskan, dan kita mungkin kurang memberi waktu pada tiap-tiap orang, tapi itu adalah keterlibatan penuh. Ini sama seperti dalam kerangka pertemanan dan kasih orang lain terhadap kita. Tak ada alasan untuk berpikir bahwa jika mereka memiliki teman-teman lain berarti kasih mereka akan luntur kepada kita. Mengapa orang tidak boleh memiliki banyak teman? Ini tidak berarti kasih mereka kepada kita akan kurang, seperti memberikan semua makanan dari kulkas dan tak ada yang tersisa untuk kita. Kasih tidak seperti itu.

Dan sebenarnya, lagi-lagi kita sampai pada hal-hal yang bersifat budaya. Adalah mitos dan harapan yang tidak makul bahwa satu orang akan menjadi jodoh yang istimewa dan sempurna, seperti belahan jiwa yang akan melengkapi kita dalam segala hal, dan bahwa kita akan dapat berbagi setiap segi kehidupan kita. Itu mitos. Tidak makul. Ya, itu berasal dari Plato, filsuf Yunani kuno, di mana ia mengatakan bahwa awalnya kita semua utuh. Dan pada suatu titik semua orang dibelah dan hidup ini adalah menemukan belahan jiwa Anda yang akan menjadi jodoh yang sempurna, dan kemudian Anda utuh kembali. Dan mitos ini ada di balik seluruh sejarah romantisme Barat. Inilah mitos kita: bahwa di luar sana akan ada belahan jiwa kita, orang yang istimewa, satu-satunya. Dan jika kita menemukan belahan jiwa yang sempurna itu, kita lebih baik bertahan dan kita akan utuh kembali, "Aku akan utuh lagi. Orang ini akan melengkapiku dalam segala hal." Mitos, sayangnya, seperti Sinterklas atau Kelinci Paskah. Itu adalah Pangeran Rupawan di atas kuda putih. Maksud saya, itu adalah wawasan romantisme Barat. Ini tidak sama dalam budaya-budaya lain. Ini lucu, jika Anda memikirkannya, ini menggelikan.

Yang terjadi adalah kita mencitrakan harapan itu, harapan bahwa orang itu akan menjadi belahan jiwa kita. Dan kemudian, ketika mereka tidak menyatu dengan kita, menghabiskan seluruh waktu mereka dengan kita, dan berbagi semua rahasia, semua hal kecil dengan kita, maka kita cemburu. Ini berhubungan dengan kebencian, kita membenci dan kita marah. Ketika mereka berbagi beberapa hal dalam hidup mereka dengan orang lain dan tidak dengan kita, kita sangat cemburu. Jika kita memikirkan itu, sebenarnya tak masuk akal mengharapkan bahwa kita akan mampu berbagi setiap hal dalam hidup kita dengan hanya satu orang. Yang jauh lebih makul adalah menemukan ada kelompok tertentu tempat kita dapat berbagi minat kita tehadap olahraga; mengapa aku harus mengharap istriku untuk berbagi minatku pada sepak bola? Itu bodoh. Atau kita dapat berbagi minat terhadap bayi dengan seseorang, tetapi tidak semua orang tertarik pada bayi. Maksud saya, ada begitu banyak hal yang berbeda. Kita bisa memiliki teman menyenangkan yang tingkat kecendekiaannya atau latar belakang budayanya sama sekali berbeda. Maksud saya, lebih menarik ketika Anda tidak berbagi, maka Anda belajar hal-hal tertentu. Dengan cara ini, jika kita tidak memahami mitos ini sebagai harapan tentang bagaimana seharusnya suatu hubungan – serba memenuhi, serba memuaskan, segalanya – maka itu akan menurunkan kerentanan kita pada kecemburuan.

Ada lebih banyak lagi, maksud saya, saya menyiapkan sedikit hal lagi di sini tentang uraian mengenai kecemburuan, tapi saya pikir itu cukup untuk petang ini. Pokok-pokok lebih lanjut yang lebih mendalam dalam kerangka kesalahpahaman tentang "aku" – yang kita bisa tinggalkan mungkin untuk akhir pekan ini karena itu masuk ke dalam pokok "Kamu tidak pantas mendapatkannya, aku pantas mendapatkannya. Ini tidak adil." Itu masuk ke dalam tingkat pembahasan lain. Dunia berutang sesuatu pada kita dan tidak adil ketika alih-alih orang lain mendapatkannya."Aku pantas mendapatkannya, kamu tak pantas mendapatkannya." Itu masuk pada sandungan “aku” yang sangat berat, bukan?

Tapi bagaimanapun, di sini kita telah melihat beberapa cara untuk mulai membongkar masalah-masalah perasaan kita. Ketika kita memiliki perasaan yang gelisah, jika kita bisa mulai melihat apa yang lebih baik daripada membuat hal besar yang padu – kecemburuan! – dan kemudian itu menjadi sangat berat, seolah-olah ia memiliki garis padu di sekelilingnya – tapi ketika kita bisa memahami itu, ya, sebenarnya itu terdiri dari banyak bagian yang berbeda: kedengkian, aku serakah untuk mendapatkan lebih, atau harapan-harapan tak masuk akal dari budayaku, ada persaingan di sana, harga diri yang rendah mungkin ada di sana, ketidakamanan mungkin ada di sana, banyak unsur. Ya, kita bisa mulai membongkarnya. Maka, itu tak lagi berat; itu bukan raksasa besar dengan garis besar padu di sekelilingnya. Dan kemudian kita bisa mulai menerapkan berbagai siasat untuk menghadapi unsur-unsur yang terlibat di sini.

Tentu saja, pemahaman tentang bagaimana "aku" ada dan bagaimana "kamu" ada dan pemahaman tentang sunyata, ini dalam ajaran Buddha disebut obat paling mujarab untuk digunakan, tapi hal lain yang sangat mujarab yang sangat ditekankan oleh Yang Mulia adalah membuka hati. Seperti yang kita bicarakan, jika Anda membuka hati dan melihat bahwa, "Aku punya kemampuan untuk mengasihi banyak orang" – ini bukan berarti berhubungan kelamin dengan semua orang, kita berbicara tentang hubungan yang hangat, ramah, terbuka, dan memuaskan dengan banyak orang. Kemudian, satu hubungan tertentu tidak berhasil, baik, kita boleh merasa sedih untuk orang itu, karena mereka tidak menyadari bahwa hati bisa terbuka untuk banyak orang. Dan hidup kita menjadi amat sangat memuaskan karena dalam setiap hubungan Anda sepenuhnya di sana. Meskipun Anda mungkin tidak menghabiskan dua puluh empat jam sehari dengan orang ini, berbagi sikat gigi dengan orang ini, itu tidak perlu. Satu jam bersama seseorang di mana Anda benar-benar ada di sana dengan sepenuh hati Anda jauh lebih memuaskan dibandingkan seumur hidup bersama seseorang di mana hati Anda tertutup, bukan?

Top