Persiapan Menuju Meditasi

Lingkungan yang Menunjang Laku Meditasi

Untuk benar-benar masuk ke dalam meditasi, kita membutuhkan keadaan-keadaan yang menunjang kelancarannya. Ada banyak daftar anasir yang menunjang laku meditasi, tetapi kesemua ini biasanya dibahas atau disajikan dalam lingkung meditasi yang dilakukan dalam sebuah undur-diri, padahal sebagian besar dari kita melakukan meditasi di rumah.

Di rumah sekalipun, akan sangat membantu jika tidak ada gangguan saat kita bermeditasi. Lingkungannya mesti setenang mungkin. Banyak dari kita yang tinggal di pinggir jalan raya yang ramai, dan karenanya bermeditasi di pagi buta atau larut malam, saat lalu-lintas lengang, jadi lebih baik. Selain itu, sebaiknya tidak ada musik atau televisi di ruang sebelah lingkungan meditasi kita. Hal-hal semacam ini cukup penting. Jika lingkungan yang tenang tidak memungkinkan, coba gunakan sumbat telinga. Sumbat telinga mungkin tidak sepenuhnya menghalau masuknya suara bising, tapi tentu akan membuat suara bising itu sedikit reda.

Banyak dari kita yang tidak mampu memiliki ruang meditasi tersendiri. Anda dapat gunakan ruang apa pun yang tersedia. Meditasi di atas tempat tidur, jika harus, tidak jadi masalah. Sebagian besar orang Tibet di India bermeditasi di atas tempat tidur mereka.

Anasir lain yang cukup penting adalah ruangan yang bersih dan rapi. Lingkungan yang bersih dan rapi dapat mempengaruhi cita supaya bersih dan rapi pula. Kalau ruangannya urakan, berantakan, atau kotor, cita kita cenderung kacau juga. Karena itu, salah satu pendahuluan yang selalu menjadi syarat sebelum meditasi adalah membersihkan ruang meditasi, dan membuat semacam sesaji, sekalipun hanya secangkir air putih saja. Kita ingin menunjukkan rasa hormat untuk hal yang sedang kita lakukan, dan jika kita hendak mengundang hadirnya para Buddha dan bodhisatwa, kita mesti mengundang mereka ke ruang yang bersih, bukan yang berantakan atau kotor. Bahkan pada tataran kejiwaan yang biasa sekalipun, penting sekali untuk merasa hormat pada hal yang sedang kita lakukan, dan memperlakukannya sebagai suatu hal yang istimewa. "Istimewa" bukan berarti menciptakan sebuah lingkungan yang wah, seperti latar ruang untuk film Hollywood dengan dupa dan lilin, tapi cukup sederhana, biasa, rapi, bersih, dan penuh rasa hormat saja.

Sikap Tubuh

Di berbagai budaya di Asia, sikap tubuh yang digunakan orang untuk meditasi itu bermacam-macam. Sikap tubuh meditasi di India/Tibet,  Cina /Jepang, dan Thailand semuanya berbeda, jadi kita tidak bisa bilang bahwa satu jenis sikap tubuh itu adalah satu-satunya yang benar. Orang India dan Tibet duduk dengan kaki bersila. Seringnya, orang Jepang, dan sebagian orang  Cina , duduk bersimpuh. Orang Thailand duduk dengan kaki mereka ditekuk ke samping. Untuk laku tantra, yang di dalamnya kita berupaya dengan tenaga-tenaga raga, dibutuhkan sikap tubuh padmasana, tapi sebagian besar dari kita tidak berada di tingkat laku tersebut. Jika Anda bercita-cita untuk mampu melakukan jenis laku tersebut, amat dianjurkan supaya Anda, mulai dari sejak awal sekali, duduk dalam sikap padmasana, karena sukar sekali untuk mulai menggunakan sikap padmasana di waktu lanjut dalam hidup kita. Untuk orang-orang Barat, jika Anda dapat duduk dengan sikap tubuh yang manapun dari sikap tubuh yang dilakukan dalam adat Asia ini, itu bagus sekali; jika tidak, duduk di kursi pun boleh. Pokok terpenting ialah bahwa punggung Anda tegak lurus.

Mengarahkan Pandangan

Mengenai mata, beberapa meditasi dilakukan dengan mata tertutup, beberapa dengan mata terbuka, beberapa dengan mata melihat ke bawah, beberapa dengan mata menengadah; tergantung pada meditasinya sendiri. Umumnya, orang Tibet tidak bermeditasi dengan mata tertutup. Selain karena akan lebih mudah tertidur ketika mata tertutup, sikap itu juga cenderung akan memunculkan rintangan batin – Anda merasa bahwa untuk bermeditasi, Anda harus menutup mata. Jika Anda merasa bahwa Anda harus menutup mata untuk bermeditasi, akan jadi lebih sulit untuk menyatukan hal yang Anda kembangkan dalam meditasi ke dalam kehidupan nyata. Contohnya, jika saya sedang berbicara dengan seseorang, dan untuk membangkitkan rasa kasih saya harus menutup mata, jadinya aneh. Maka, dalam adat Tibet, untuk sebagian besar meditasi, kita menjaga mata setengah terbuka, dengan bidikan longgar, menatap ke lantai.

Alas Duduk

Jika Anda duduk bersila, penting untuk memilih alas duduk/bantal yang cocok. Ada orang yang bisa duduk nyaman di lantai, dan kaki mereka tidak kebas. Yang Mulia Dalai Lama, misalnya, duduk seperti itu di kursi kehormatannya saat ia mengajar. Tapi untuk kebanyakan kita, jika kita duduk tanpa bantal, kaki kita lebih cepat terasa kebas. Kalau Anda mengalami masalah itu, cobalah duduk dengan bantal sebagai alas, supaya paha lebih tinggi dari lutut. Pilih jenis bantal yang paling pas untuk Anda: tebal atau tipis, keras atau empuk, dan seterusnya. Tiap orang berbeda-beda. Yang penting Anda merasa nyaman, dan bantal Anda bisa mencegah rasa kebas, karena hal itu akan terasa amat tidak menyenangkan. Banyak pusat-pusat ajaran Buddha yang menggunakan bantal zafu tebal yang bundar atau persegi, tapi bantal zafu Zen tersebut dimaksudkan untuk sikap duduk bersimpuh gaya Jepang. Bantal zafu tebal tidak cocok untuk duduk bersila karena terlalu tinggi. Mungkin sebagian orang bisa duduk bersila dengan nyaman di atas bantal zafu ini. Namun untuk sebagian besar orang, bantal tersebut terlalu tinggi dan terlalu keras. Jika sanggar tempat Anda belajar hanya menyediakan bantal zafu tebal, dan Anda duduk dengan sikap bersila, Anda mungkin perlu membawa bantal sendiri.

Memilih Waktu Bermeditasi

Bagi sebagian besar orang, meditasi paling baik dilakukan sebagai kegiatan pertama di pagi hari atau terakhir di malam hari, sehingga gangguan kegiatan harian akan lebih sedikit. Sebagian besar orang merasa lebih terjaga di pagi hari, dan yang lain di malam hari. Anda mengenal diri dan gaya hidup Anda lebih baik dari orang lain, sehingga Anda bisa menentukan mana waktu yang terbaik.

Yang sangat tidak dianjurkan adalah bermeditasi ketika mengantuk. Kalau mengantuk di malam hari, tapi Anda mencoba bermeditasi sebelum tidur, Anda bisa tertidur di tengah meditasi, dan meditasi jadi tak berguna sama sekali. Sebaliknya di pagi buta: jika Anda masih setengah bangun, meditasi Anda akan jadi tidak sangkil sama sekali. Nilailah sendiri mana yang terbaik. Tidak masalah jika Anda minum kopi atau teh terlebih dahulu sebelum meditasi di pagi hari, meskipun orang Tibet sendiri tidak melakukan kebiasaan itu.

Guru saya, Tsenzhab Serkong Rinpoche, adalah salah satu guru bagi Yang Mulia Dalai Lama. Ia menggambarkan bagaimana mereka bermeditasi di wihara-wihara perguruan tantra di Tibet tempatnya berlatih. Semua biksu duduk di aula meditasi, dan mereka akan tidur di sana, sambil duduk di tempatnya masing-masing, seperti menyandarkan kepala ke pangkuan teman sebelahnya. Orang Tibet tidak risih dengan sentuhan badan. Lonceng berdentang membangunkan mereka pagi-pagi sekali, dan mereka diminta untuk duduk tegak dan memulai meditasi mereka, pendarasan mereka, dan seterusnya. Kecuali Anda seorang dokter yang terbiasa dibangunkan di tengah malam dan langsung bangkit dan mengerjakan operasi bedah, atau sejenisnya, akan sangat sukar sekali untuk mulai bermeditasi langsung setelah bangun dari tidur.

Berapa Lama Kita Bermeditasi

Jika baru saja memulai laku meditasi, juga penting bagi Anda untuk melakukannya dengan singkat tapi kerap. Sebagai pemula, mencoba duduk dan bermeditasi selama berjam-jam sekaligus bisa jadi amat menyiksa. Di beberapa tempat gaya berlatihnya memang seperti itu, tapi secara umum orang Tibet tidak menganjurkannya karena jika meditasi dianggap siksaan, Anda tidak akan mau melakukannya! Anda akan gelisah, menanti selesainya meditasi itu. Jadi untuk awalan, bermeditasilah selama sekitar lima menit – itu saja sudah cukup. Di wihara-wihara Theravada, mereka mengganti meditasi duduk dengan meditasi berjalan, jadi mereka tidak melakukan  jenis laku yang sama untuk waktu yang terlampau lama.

Perumpamaan yang digunakan orang Tibet itu seperti ini: kalau seorang teman sedang berkunjung, dan ia tinggal terlalu lama, Anda jadi tak sabar menunggu kapan ia pergi. Dan setelah si teman itu pergi, Anda jadi tidak penasaran untuk bertemu dengannya lagi. Tapi jika teman tadi pergi justru ketika Anda ingin lanjut menghabiskan waktu bersamanya, Anda akan senang sekali untuk segera bertemu dengannya lagi di lain waktu. Demikian juga, sikap tubuh meditasi, tempat duduk meditasi, dan waktu meditasi kita sebaiknya menyamankan, sehingga kita akan menyukai laku meditasi kita.

Mengatur Niat

Sebelum bermeditasi, Anda perlu mengatur niat. Malahan, mengatur niat merupakan hal yang dianjurkan untuk dilakukan segera setelah Anda membuka mata pertama sekali di pagi hari. Segera setelah Anda bangun, selagi masih di atas tempat tidur, Anda dapat mengatur niat untuk hari itu. Bisa seperti: "Hari ini aku akan mencoba untuk tidak marah. Aku akan mencoba untuk lebih bertenggang rasa. Aku akan mencoba untuk mengembangkan lebih banyak rasa positif lagi terhadap sesama. Aku akan mencoba membuat hari ini menjadi hari yang berarti, dan tidak menyia-nyiakannya."

Ada satu koan Zen luar biasa yang amat saya sukai: "Maut datang sewaktu-waktu: Santai saja!" Kalau Anda renungkan, itu pemikiran yang amat mendalam. Kalau tegang, kalau gugup dan gusar karena kematian bisa datang sewaktu-waktu, Anda tidak akan mampu menyelesaikan apa pun. Anda mungkin berpikir: "Belum cukup yang kulakukan. Aku masih kurang baik." Tapi jika Anda tahu bahwa maut bisa datang kapan saja, dan Anda santai menyikapinya, Anda akan melakukan apa pun yang Anda bisa, secara berarti dan makul, tanpa cemas, gugup, atau tegang. Jadi ingatlah bahwa kematian bisa datang kapan pun, dan santai saja!

Sebelum bermeditasi, kita mengatur niat: "Aku akan mencoba untuk bermeditasi selama sekian menit. Aku akan mencoba memusatkan perhatian. Kalau aku merasa mulai mengantuk, aku akan gugah diriku. Kalau perhatianku melantur, aku akan coba memusatkannya kembali.” Anggap hal ini dengan sungguh-sungguh, jangan hanya kata-kata di mulut saja – cobalah untuk benar-benar menjaga niat itu dalam cita Anda, dan ikutilah. Menjaga niat itu bisa jadi sulit sekali. Kalau Anda jadi punya kebiasaan buruk menggunakan waktu meditasi Anda untuk memikirkan soalan-soalan lain, sekalipun soalan itu adalah gagasan Dharma yang lain, itu bakal jadi kebiasaan yang sukar dihilangkan. Saya bicara ini berdasarkan pengalaman: hal itu merupakan kebiasaan yang sangat sukar dihilangkan, jadi cobalah untuk mengatur, dan mengikuti, niat yang benar sebelum Anda bermeditasi.

Dorongan

Berikutnya, dorongan. Dalam lingkung Buddha Tibet, dorongan ada dua bagian.  Bagian pertama ialah tujuan: Apa yang kita coba capai? Tujuan-tujuan bakunya digambarkan dalam "tingkat bertahap jalan batin" (lam-rim). Seperti yang digambarkan di dalam lam-rim, tujuan-tujuannya adalah: (a) meningkatkan kehidupan di masa depan, (b) memperoleh pembebasan penuh dari kelahiran kembali, dan (c) mencapai pencerahan sehingga dapat menolong setiap yang lain untuk memperoleh pembebasan dari kelahiran kembali. Bagian kedua adalah perasaan yang mendorong kita menggapai tujuan tersebut.

Saat merenungkan dorongan Anda, jujur pada diri sendiri itu amat penting. Apakah aku sungguh percaya pada kelahiran kembali? Sebagian besar dari kita tidak. Karena itu, mengatakan bahwa "Aku melakukan ini untuk memastikan bahwa aku memperoleh kelahiran kembali yang berharga sebagai manusia di kehidupanku yang mendatang", atau "Aku melakukan ini supaya bebas sepenuhnya dari kelahiran kembali", atau "Aku melakukan ini supaya tercerahkan sehingga aku dapat menolong setiap yang lain untuk bebas dari kelahiran kembali" – semua itu hanyalah kata-kata kosong belaka kalau kita tidak percaya pada kelahiran kembali.

Jika kita melakukan meditasi sebagai bagian dari yang saya istilahkan dengan "Dharma-Sari" (ajaran Buddha minus kelahiran kembali), itu boleh saja. Anda tak perlu memberitahukannya kepada orang lain, yang penting jujurlah pada diri sendiri tentang dorongan Anda: "Aku melakukan ini untuk memperbaiki keadaanku di masa hidupku yang sekarang ini." Boleh, itu jadi dorongan yang sah, selama kita jujur. Di lain pihak, penting pula untuk menaruh rasa hormat pada tujuan-tujuan jangka panjang yang asli (dalam istilah saya: “Dharma Sejati”), dan tidak berpikir bahwa laku ajaran Buddha hanyalah untuk memperbaiki segala sesuatu di masa hidup yang sekarang ini.

Untuk bagian kedua dari dorongan kita – perasaan yang mendorong kita menuju pencapaian tujuan – tingkat pertama dorongan Sejati adalah "Aku mau memperoleh kelahiran kembali yang berharga sebagai manusia di kehidupan-kehidupan mendatang (tujuannya) karena betapa mengerikannya bagiku jika harus terlahir kembali sebagai seekor lalat, atau kecoa, atau kelahiran kembali yang lebih rendah (perasaannya). Aku betul-betul mau menghindari masa depan yang seperti itu, dan aku yakin bahwa ada cara untuk menghindarinya." Versi Dharma-Sari dari hal ini adalah “Aku ingin segala sesuatu berlangsung baik dalam hidupku dan bahkan lebih baik lagi (tujuannya), karena aku takut kalau segala sesuatunya jadi lebih buruk (perasaannya) padahal aku tahu ada perbuatan membangun yang dapat kulakukan untuk menghindarinya”. Di kedua jenis dorongan tersebut, yang muncul bukanlah rasa takut yang melumpuhkan, seperti "Keadaan ini sudah tak bisa diapa-apakan lagi. Sudah takdirku," tapi justru semacam pemahaman bahwa "Aku benar-benar tak menginginkannya, dan aku tahu ada cara untuk menghindarinya." Mirip dengan rasa takut mengalami kecelakaan saat berkendara – aku akan berhati-hati, tapi aku juga tidak dilumpuhkan oleh rasa takut itu sehingga tak mau mengemudi sama sekali.

Tingkat Sejati yang kedua adalah "Aku jijik, bosan, dan muak betul dengan semua penderitaan yang ada duka kelahiran kembali (perasaannya) dan aku ingin lepas (tujuannya)”. Hakikat dari perasaan di balik penyerahan adalah "Betapa membosankannya menjadi bayi lagi, belajar segala hal dari awal lagi, harus menjalani pendidikan lagi dan mencari cara memperoleh nafkah lagi. Repot sekali kalau harus sakit dan jadi tua lagi dan lagi. Rasanya seperti nonton film jelek berulang-ulang kali. Betapa membosankan. Cukup sudah!".

Dorongan tingkat paling lanjut adalah tujuan untuk mencapai pencerahan dengan bodhicita (tujuannya) dan digerakkan oleh rasa welas asih (perasaannya): "Aku tak bisa melihat setiap orang menanggung duka yang sarat. Aku harus bisa mencapai tingkat yang memampukanku menolong orang lain mengatasi duka."

Dorongan itu meliputi hal yang akan kita perbuat begitu kita mencapai tujuan itu. Ketika kita menjalankan laku dalam aliran Mahayana, tiap-tiap dari tiga tingkat dorongan tersebut berada pada lingkung upaya mencapai pencerahan sebagai tujuan puncak. Mencapai pencerahan, karenanya, mewarnai hal yang akan kita perbuat begitu kita mencapai tujuan.

Pada tingkat Dharma-Sari, kita ingin berkembang menuju pencerahan sejauh mungkin dalam masahidup yang sekarang ini, tanpa pikiran naif bahwa hal tersebut gampang karena kita akan kecewa dan tertekan saat ajal menjemput tetapi pencerahan tak kunjung tergapai.

  • Dari tiga tingkat dorongan Sejati, yang pertama adalah "Aku ingin memperoleh kelahiran kembali yang berharga sebagai manusia untuk melanjutkan jalan menuju pencerahan, karena akan butuh banyak masa hidup untuk meraih tujuanku ini."
  • Yang kedua adalah "Aku ingin memperoleh pembebasan dari karma dan perasaan-perasaan gelisah, karena aku tak bisa menolong yang lain kalau aku marah pada mereka, kalau aku melekat pada mereka, atau kalau memiliki berperilaku gandrung. Aku tak bisa benar-benar menolong yang lain kalau aku merasa sombong dan pongah tentang hal itu. Jadi aku mesti memperoleh pembebasanku sendiri."
  • Dorongan tertinggi adalah "Aku ingin memperoleh pencerahan sehingga aku memiliki pengetahuan yang lengkap tentang cara terbaik untuk menolong tiap-tiap orang."

Dorongan itu amat penting. Tsongkhapa menekankan bahwa dorongan merupakan hal yang perlu kita miliki di sepanjang hari, bukan hanya di awal babak meditasi kita. Dan dorongan tersebut jangan hanya berupa kata-kata manis saja; kita harus sungguh-sungguh dengannya. Dan sungguh-sungguh itu artinya apa? Artinya ialah bahwa kita telah menyelami dorongan itu dengan begitu menyeluruh, lewat laku meditasi, sehingga dorongan itu merupakan perasaan alami nan asli, dan menjadi satu kesatuan dengan cara kita menjalani hidup sehari-hari, setiap hari.

Menenangkan Diri sebelum Meditasi

Begitu kita telah menciptakan lingkungan ragawi yang benar dan mengatur niat serta dorongan, kita perlu menenangkan diri. Seringnya itu dilakukan dengan semacam meditasi pernapasan, seperti menghitung napas. Ada beragam latihan yang lebih rumit, yang dapat kita lakukan dengan napas kita, tetapi bernapas secara wajar melalui hidung dan menghitung sebelas hirupan dan sebelas helaan napas saja biasanya sudah cukup. Dengan cara ini, menenangkan cita menciptakan ruang tenang di antara hal yang sedang kita lakukan hingga saat ini dan meditasi yang akan kita lakukan berikutnya. Terciptanya ruang seperti itu akan membantu kita beralih dari kesibukan sehari-hari ke meditasi, dan sebaliknya.

Video: Dr Chönyi Taylor — ”Meditasi Singkat Terarah”
Untuk menyalakan subtitle, klik ikon Subtitel di sudut kanan bawah layar video. Untuk mengubah bahasa subtitel, klik ikon “Setelan”, lalu klik “Subtitel” dan pilih bahasa yang Anda inginkan.

Laku Tujuh-Dahan

Kita sering dianjurkan untuk membina tenaga positif pada awal meditasi, dan untuk hal itu kita gunakan apa yang dikenal sebagai "doa tujuh-dahan", atau "laku tujuh-dahan". Dalam lingkung ini, "dahan" berarti "langkah".

(1) Sujud-sembah, dengan Berlindung dan Bodhicita

Dahan pertama adalah sujud-sembah, yang berarti menunjukkan rasa hormat pada mereka yang telah mencapai pencerahan; menunjukkan rasa hormat pada pencerahan kita sendiri di masa depan, yang kita tuju dengan bodhicita; dan menunjukkan rasa hormat pada sifat-Buddha kita, yang akan memampukan kita mencapai tujuan itu. Oleh karena itu, sujud-sembah dilakukan dalam lingkung menempatkan haluan aman perlindungan dan tujuan bodhicita ke dalam kehidupan kita. Haluan aman yang ingin kita tuju ditunjukkan oleh para Buddha, ajaran Dharma dan pemerolehan mereka, dan masyarakat Sangha yang berisi orang-orang yang sedang menuju perolehan kebebasan dan pencerahan. Dengan tujuan bodhicita, kita menyiapkan cita dan hati untuk menjadi Buddha.

(2) Sesaji

Langkah kedua adalah membuat sesaji, yang juga berarti menunjukkan rasa hormat.

(3) Mengakui Kekurangan

Berikutnya adalah secara terbuka mengakui kesalahan dan kekurangan kita. Bukan berarti merasa bersalah atas kesalahan-kesalahan tersebut; rasa bersalah itu tidak cocok. Rasa bersalah artinya berpegang pada perbuatan yang pernah kita lakukan dan pada diri kita sendiri yang melakukannya, lalu memberi cap buruk pada keduanya, dan terpaku pada hal itu. Ibarat tak mau membuang sampah, dan malah tetap menyimpannya di rumah sambil berpikir: "Sampah ini gawat sekali. Baunya menyengat." Alih-alih perasaan bersalah, dahan yang ketiga adalah menyesali kesalahan-kesalahan kita: "Aku menyesali tindakan-tindakanku, dan aku akan berupaya sebaik mungkin untuk tidak mengulanginya. Aku akan berupaya sebaik mungkin untuk mengatasi kekurangan-kekuranganku."

(4) Bersukacita

Langkah keempat ialah bersukacita atas hal-hal positif yang telah kita dan yang lain lakukan, sehingga kita memiliki sikap yang lebih positif terhadap diri kita sendiri dan terhadap yang lain.

(5) Memohon Ajaran

Kemudian kita memohon para guru dan para Buddha untuk mengajar kita: "Tolong ajari saya senantiasa. Saya terbuka dan akan menerima."

(6) Memohon Para Guru untuk Tidak Berlalu

Dahan berikutnya ialah: "Jangan pergi, jangan berlalu. Saya sungguh betul mau belajar, dan saya mohon Anda tetap bersama kami."

(7) Persembahan

Terakhir, persembahan. Persembahan itu dapat dipahami sebagai tindakan mengarahkan tenaga dengan cara tertentu. Kita berpikir: "Apa pun daya positif, ap apun pemahaman yang telah terbina, semoga semua itu punya andil dalam upayaku mencapai niatku." Perumpamaan yang suka saya gunakan itu seperti menyimpan pekerjaan kita di sebuah komputer. Kalau kita tidak menyimpannya di folder khusus, folder "Kebebasan" atau "Pencerahan", maka setelan dasarnya adalah bahwa pekerjaan kita dengan sendirinya akan disimpan di folder "Memperbaiki Samsara". Menyimpan pekerjaan kita di dalam folder "Memperbaiki Samsara" itu boleh, tapi kalau itu bukan tujuan kita, kalau kita ingin pekerjaan kita masuk hitungan dalam upaya memperoleh pembebasan atau memperoleh pencerahan, kita mesti dengan sengaja menyimpannya di dalam folder “Kebebasan” atau "Pencerahan". Itulah persembahannya. Dan kita sungguh-sungguh; bukan hanya sebatas ucapan saja. Kita mempersembahkan tenaga positif dengan perasaan di baliknya, dengan welas asih, dan seterusnya.

Setelah doa tujuh-dahan ini selesai, barulah kita memulai meditasi kita, dan di akhir meditasi itu, kita membuat persembahan lain.

Ringkasan

Meditasi merupakan suatu proses yang pelik, dan petunjuk cara melakukannya pun cukup teliti. Di sini satu petunjuk umumnya baru saja disajikan; setiap meditasi memiliki petunjuk khususnya sendiri. Namun bagaimanapu juga, sangat penting untuk mengetahui apa yang kita lakukan, bagaimana kita melakukannya, dan mengapa kita melakukannya.

Ada beberapa aliran Buddha, seperti aliran Zen, yang bilang, "Duduklah, bermeditasilah, dan Anda akan mengetahuinya sambil jalan." Walau ini mungkin bisa berhasil untuk sebagian orang, bisa juga bagi sebagian yang lain ini cukup sukar. Banyak orang mendapati bahwa pendekatan itu amat sulit. Karena itu, yang telah disajikan di sini adalah meditasi yang berasal dari aliran Indo-Tibet.

Top